Beberapa lukisan karya Koentjaraningrat (sumber gambar Hypeabis.id/Prasetyo Agung)

Merawat Warisan Bapak Antropolog Indonesia Lewat Pameran 100 Tahun Koentjaraningrat

12 June 2023   |   22:33 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Dalam dunia akademis nama Koentjaraningrat dikenal sebagai pelopor ilmu sosial di Tanah Air. Namun, tidak banyak yang tahu jika Bapak Antropologi Indonesia itu merupakan seniman serba bisa yang banyak menggores kanvas dan menghasilkan lukisan-lukisan ciamik seturut dengan studi sosialnya.

Sebagai ilmuwan, Prof. Koentjaraningrat (1923-1999) tak hanya meninggalkan jejak intelektual lewat pemikiran-pemikirannya. Namun, pakar antropologi ini juga meninggalkan jejak seni budaya lewat karya lukisan, koleksi keris, karya buku, dan memorabilia lainnya.

Hal itulah sekiranya yang ingin disampaikan ke khalayak dalam menyambut satu abad kelahirannya. Pameran 100 tahun Koentjaraningrat seolah menyingkap sisi lainnya yang selama ini jarang diketahui publik, alih-alih hanya dikenal sebagai ilmuwan dan akademisi.

Baca juga: Karya Retrospektif Seniman Nunung W.S. Hadir dalam Pameran The Spirit Within

Puluhan lukisan yang dipacak dalam pameran yang berlangsung pada 8-15 Juni di Bentara Budaya Jakarta pun menampilkan pemikiran Koentjaraningrat dalam bentuk visual. Lukisan yang didominasi tema kemanusiaan dan budaya itu turut menampilkan keutuhan Pak Koen-demikian sapaan akrabnya-dalam menyelami jagat dunia antropologi.

Hal itu misalnya dapat dilihat dalam lukisan bertajuk Pedagang Beras (Cat minyak di atas kanvas 114 X 90 Cm). Dalam lukisan bertitimangsa 1990 ini Koen melukis realitas masyarakat di pasar dengan cergas. Adapun dalam lukisan tersebut dia menggambar dengan teliti situasi sebuah pasar di perkampungan lengkap dengan aktivitas sosial masyarakatnya.
 

Sumber gambar (Hypeabis.id /Prasetyo Agung)

Sumber gambar (Hypeabis.id /Prasetyo Agung)


Sementara itu, dalam kasus sosial yang sama, Koen juga melukis Kampung Nelayan (Cat minyak di atas kanvas 110 X 78 Cm). Sesuai judulnya, lukisan ini juga menggambarkan kegiatan para nelayan yang sedang mencari ikan di pesisir pantai dengan latar langit biru dipenuhi awan.

Selain kedua lukisan di muka, sederet lukisan Koen juga kental akan nuansa masyarakat adat, seperti Keluarga Badui Pulang dari Sawah (1988), Ibu & Anak Irian (1989), dan Anak Badui Dalam (1990). Adapun dalam karya-karya tersebut Koen juga banyak melakukan eksplorasi medium, mulai dari crayon hingga cat minyak yang berhasil diakrabi dengan teknik yang baik.

Namun, selain melukis kondisi sosial di masyarakat, Koen juga banyak melukis potret atau wajah manusia. Bahkan, seringkali ilmuwan yang seniman ini menjadikan potret lukisan itu sebagai hadiah pada yang bersangkutan. Termasuk istri, anak, cucu, mahasiswa, hingga ilmuwan yang ditemui dalam perjalanan kariernya.

Adapun hal itu misalnya dapat disimak dalam karya berjudul Istri Saya 40 Tahun yang Lalu (Cat air berwarna di atas kertas, 35 X 53 cm, 1997). Kemudian ada juga lukisan berjudul Inta & Shita (1987) yang masih menggunakan medium sama lewat teknik beloboran yang khas dari seorang Koentjaraningrat.

Kurator Bentara Budaya Efix Mulyadi menyebut Koen sebagai sosok yang mumpuni dalam menggambar dan melukis. Dia mengungkap sejumlah besar lukisan potret yang dilukis Koen dengan teknik aquarel telah tuntas dalam bentuk anatomi, pewarnaan, hingga proporsi.

"karya-karyanya bukan hanya ketepatan proporsi semata, tapi ada juga kesan plastis dari kulit sosok manusia. Terlebih lagi pada ekspresi wajah yang muncul dalam karya jenis lukisan potret," paparnya.

Pelukis dan Penari Ulung
Persinggungan Koen dengan dunia seni sebetulnya sudah terjadi sejak kecil. Besar di lingkup keraton yang kental dengan seni dan kebudayaan Jawa  tak ayak memang sedikit banyak mempengaruhi pembentukan kepribadiannya sebagai seorang antropolog sekaligus seniman di kemudian hari.

Ilham Khoiri, General Manager Bentara Budaya mengungkap, di luar karya tulis ilmiah Koen juga seorang pelukis dan penari ulung. Menurutnya, dia pernah serius belajar menari saat masih duduk di sekolah Algemene Middelbare School (AMS) atau sekolah setingkat SMA saat di Yogyakarta, salah satunya tari Tejokusuman ala keraton.

Di Kota Pelajar ini juga Koen, akhirnya belajar melukis. Adapun kejadian itu bermula saat dia tidak bisa kembali ke Jakarta usai menyelamatkan buku-buku di tempatnya bekerja   di Museum Nasional saat dibawa ke Yogyakarta sekitar tahun 1946, pada masa pascakemerdekaan.
 

Sumber gambar (Hypeabis.id/Prasetyo Agung)

Sumber gambar (Hypeabis.id/Prasetyo Agung)


Dari sinilah Koen belajar melukis dari seorang guru gambar bernama Huiskens dan dari sahabatnya RJ Katamsi, yang menjadi direktur Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI). Tak hanya itu, Koen juga sempat bergabung dengan Pusat tenaga Pelukis Indonesia (PTPI) bersama Djajeng Asmoro, Hasan Purbo, Harijadi, dan Trubus.

Baca juga: Hadirkan Karya Unik, Museum MACAN Gelar Pameran Duo Perupa Filipina Isabel & Alfredo Aquilizan

"Waktu itu, mereka juga sama-sama membuat poster-poster perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Bahkan, Koen juga bergaul dekat dengan pelukis Sudjojono dan Rusli," jelas Ilham Khoiri.

Editor: Fajar Sidik 

SEBELUMNYA

Pahami 5 Makna Bahasa Tubuh Pasanganmu saat Kencan Pertama

BERIKUTNYA

Hypereport: Dilema Gaya Hidup Wah di Balik Barang Mewah

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: