Ilustrasi (Sumber gambar: Freepik)

Fakta Unik tentang Gunung Bawah Laut di Perairan Pacitan

22 February 2023   |   20:30 WIB
Image
Chelsea Venda Hypeabis.id

Penemuan gunung bawah laut di perairan bagian selatan Pacitan, Jawa Timur, tidak hanya menarik perhatian peneliti. Publik juga dibuat penasaran dengan asal usul dari gunung bawah laut tersebut. Ketertarikan publik terhadap fenomena alam ini dapat dilihat dari berbagai diskusi yang terjadi di media sosial Twitter.

Meski baru viral belakangan ini, gunung bawah laut tersebut terbentuk tidak dalam waktu singkat. Ada proses panjang dari aktivitas alam di daerah tersebut yang akhirnya membentuk gunung bawah laut.

Baca juga: 5 Wisata Unik di Antartika yang Jadi Destinasi Impian Para Petualang

Saat ini gunung bawah laut tersebut masih tanpa nama. Pemerintah dan sejumlah pihak terkait masih berdiskusi untuk menentukan nama yang cocok bagi gunung tersebut. Sambil menunggu perkembangan terbaru, yuk cek fakta-fakta menarik di balik gunung bawah tersebut.
 

Ditemukan oleh Badan Informasi Geospasial & BRIN

Badan Informasi Geospasial (BIG) bekerja sama dengan BRIN untuk melakukan Survei Landas Kontinen Ekstensi di wilayah Selatan Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Dalam survei tersebut, tim peneliti menggunakan kapal survei Baruna Jaya III. Adapun peralatan utama yang digunakan adalah Multibeadm Echosounder (MBES).

Survei yang dilakukan September sampai 2022 ini bertujuan untuk mendapatkan data batimetri atau topografi bawah laut secara detail. Data tersebut akan digunakan sebagai data utama penghitungan klaim luas landas kontinen ekstensi di luar 200 mil laut.

Salah satu lokasi survei adalah daerah atau zona subduksi di selatan Pulau Jawa. Kemudian, salah satu objek yang berhasil diidentifikasi adalah gunung bawah laut yang terletak sekitar 260 kilometer di selatan Pacitan.
 

Sumber gambar: Badan Informasi Geospasial (BIG)

Sumber gambar: Badan Informasi Geospasial (BIG)

Ketinggian Gunung

Gunung bawah laut ini diidentifikasi berada di kedalaman 6.000 meter. Ketinggian gunung ini sekitar 2.200 meter. Jadi, tinggi puncaknya kira-kira berada di kedalaman 3.800 meter.

Menurut BIG, gundukan di bawah laut tersebut sudah bisa disebut sebagai gunung. Sebab, dalam dokumen International Hydrographic Organization (IHO), disebutkan bahwa gunung bawah laut mesti memiliki beda tinggi lebih besar dari 1.000 meter dari rilief di sekitarnya dan diukur dari batimetri terdalam.
 

Gunung Tanpa Nama

Sampai saat ini, gunung bawah laut tersebut belum memiliki nama. Dalam laporan koordinasi teknis BIG, diketahui bahwa para pakar dan pemda sepakat untuk tidak memberikan nama gunung bawah laut tersebut dengan nama orang.

Hal itu dilakukan untuk kepentingan mitigasi bencana dan kemungkinan gunung laut tersebut bisa menjadi ancaman pada masa depan. Nama gunung tersebut sejauh ini masih dalam tahap finalisasi.

Namun, sebenarnya ada aturan khusus mengenai cara memberikan nama pada objek yang ada di darat maupun di laut. Sesuai dengan PP No.2 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Nama Rupabumi, terdapat beberapa prinsip utama yang mesti dipenuhi. Berikut daftar lengkap prinsip-prinsip nama rupabumi dalam PP No. 2 Tahun 2021 Pasal 3.
  • Menggunakan bahasa Indonesia
  • Dapat menggunakan bahasa daerah atau bahasa asing apabila unsur rupabumi memiliki nilai sejarah, budaya, adat istiadat, atau keagamaan
  • Menggunakan abjad romawi
  • Menggunakan satu nama untuk satu unsur rupabumi
  • Menghormati keberadaan suku, agama, ras dan golongan
  • Menggunakan paling banyak tiga kata
  • Menghindari penggunaan nama orang yang masih hidup dan dapat menggunakan nama orang yang sudah meninggal dunia paling singkat lima tahun terhitung sejak yang bersangkutan meninggal dunia
  • Menghindari penggunaan nama instansi atau lembaga
  • Menghindari penggunaan nama yang bertentangan dengan kepentingan nasional atau daerah
  • Memenuhi kaidah penulisan nama rupabumi dan kaidah spasial


Diprediksi Potensi Letusan Kecil

Melansir dari laman resmi ITB, Dosen Teknik Geologi ITB Mirzam Abdurrachman menjelaskan bahwa kemunculan gunung bawah laut ini merupakan efek kompleksitas zona subduksi, seperti komponen tidak homogen, perbedaan umur lempeng, dan roo rise atau tonjolan-tonjolan yang berada di dasar samudera Hindia yang mengganjal dan menimbulkan gangguan.

Menurut Mirzam, ada beberapa hal yang membuat potensi gunung bawah laut ini tidak seperti potensi gunung api yang aktif di Pulau Jawa pada umumnya. Jika dianalisis lebih dekat, roo rise yang masuk ke dalam palung akan terpotong sebagian. Sebagian slab kemudian menimbulkan tonjolan dan sebagian lain masuk ke dalam.

Baca juga: Intip Sejarah dan Keunikan Museum Lawang Sewu & Ambarawa

Sebagian slab yang masuk ke dalam ini akan menentukan bahaya atau tidak sebuah gunung. Di kasus gunung bawah laut perairan Pacitan, slab yang masuk hanya berkisar 10-15 kilometer. Menurut dia, ukuran tersebut masih cukup dangkal sehingga minim potensi letusan. Akan tetapi, risiko potensi bahaya lain, seperti longsor di bawah laut, masih memungkinkan terjadi.

Editor: Fajar Sidik
SEBELUMNYA

4 Fakta Menarik Danau Toba yang Jadi Tempat Kejuaraan Dunia F1 Powerboat

BERIKUTNYA

5 Fakta Unik Teluh Darah, Serial Besutan Kimo Stamboel yang Segera Tayang di Disney+ Hotstar

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: