Ilustrasi anak demam, tanda gagal ginjal. (Sumber gambar : Freeepik/User8526052)

Kasus Baru Gagal Ginjal, Ada 5 Anak yang Dirawat Sejak Desember

07 February 2023   |   09:36 WIB
Image
Desyinta Nuraini Jurnalis Hypeabis.id

Gangguan Ginjal Akut Progresif Atipikal (GGAPA) menjadi salah satu penyakit serius yang menyerang anak-anak. Sempat terhenti, tetapi Kementerian Kesehatan kembali menemukan dua kasus baru, salah satunya meninggal dunia pada akhir Januari. Di satu sisi, masih ada anak yang menjalani perawatan jangka panjang. 

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan dr. Siti Nadia Tarmizi, menyampaikan dari ratusan kasus gagal ginjal pada anak akibat obat sirup yang tercemar bahan berbahaya etilen glikol dan dietilen glikol, lima diantaranya masih menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). 

Baca juga: 2 Kasus Baru Gagal Ginjal Akut, 1 Anak Meninggal Pasca Minum Obat Penurun Panas

“[Total] lima pasien yang dirawat sejak Desember, yang satu baru [suspek],” ungkapnya kepada Hypeabis.id, Senin (6/2/2023).

Diketahui, hingga 5 Februari 2023, Kementerian Kesehatan mencatat ada 326 kasus anak yang mengalami GGAPA dan satu suspek yang tersebar di 27 provinsi di Indonesia. Dari jumlah tersebut, 116 kasus dinyatakan sembuh. “Enam perawatan, 204 meninggal,” sebut Nadia. 

Tambahan kasus kematian akibat GGAPA baru-baru ini terjadi pada anak berusia 1 tahun. Anak tersebut mengalami demam pada 25 Januari 2023 dan diberikan obat sirup penurun demam yang dibeli di apotek dengan merk Praxion. Pada 28 Januari, pasien mengalami batuk, demam, pilek, dan tidak bisa buang air kecil (anuria).

Mengalami gejala tersebut, sang anak dibawa ke Puskesmas Pasar Rebo, Jakarta, untuk mendapatkan pemeriksaan. Pada 31 Januari, dia mendapatkan rujukan ke Rumah Sakit Adhyaksa. Melihat ada gejala GGAPA, petugas medis merujuknya untuk ke RSCM, tetapi keluarga menolak dan meminta pulang paksa. 
 

Berlanjut pada 1 Februari, orang tua membawa pasien ke RS Polri dan mendapatkan perawatan di ruang IGD. Pasien sudah mulai buang air kecil. Namun pada hari yang sama, pasien dirujuk kembali ke RSCM untuk mendapatkan perawatan intensif sekaligus terapi fomepizole. Sayangnya, tiga jam setelah mendapat perawatan di RSCM, pada pukul 23.00 WIB pasien dinyatakan meninggal dunia. 

Sementara satu kasus suspek, terjadi pada anak berusia 7 tahun yang mengalami demam pada 26 Januari. Diberikan obat penurun panas sirup yang dibeli secara mandiri, pada 30 Januari, sang anak kemudian mendapatkan pengobatan penurun demam tablet dari Puskesmas. Berlanjut pada 1 Februari, pasien berobat ke klinik dan diberikan obat racikan. 

Kondisinya tidak kunjung membaik. Pada 2 Februari, pasien anak berusia 7 tahun itu dirawat di RSUD Kembangan, kemudian dirujuk dan saat ini masih menjalani perawatan di RSCM. Saat ini, pasien sedang dilakukan pemeriksaan lebih lanjut sampel obat dan darah. 

“[Gejalanya] tidak berkemih. Dimulai sebelum demam, batuk, pilek. Tapi setelah minum obat sirup menjadi tidak berkemih. Sirup parasetamol,” ujar Nadia. 

Sementara itu, bagi anak minum obat penurun panas Praxion yang dikaitkan dengan kasus kematian baru-baru ini tetapi tidak ada gejala, Nadia menilai tidak perlu melakukan pemeriksaan ke dokter. “Kita tunggu hasil pemeriksaan BPOM, tapi anjuran kita adalah tidak membeli obat sirup secara mandiri tetapi kalau anak sakit segera periksa kepada nakes,” sarannya. 
 

Izin Edar Dipertanyakan

Mantan Direktur WHO Asia Tenggara, Prof Tjandra Yoga Aditama menilai sangat tragis dan menyedihkan anak Indonesia kembali harus meninggal karena meminum obat yang resmi beredar.

“Apalagi kalau memang yang meninggal sekarang ini ternyata berhubungan dengan obat yang tadinya sudah dinyatakan tidak berbahaya dan aman dikonsumsi, bagaimana kita melindungi anak-anak bangsa jadinya,” singgung Tjandra dalam keterangannya. 

Menurutnya, orang tua tidak hanya harus waspada. Pasalnya, obat yang digunakan pun resmi masuk dalam daftar kategori aman dikonsumsi. 

Tjandra menyebut yang menjadi pertanyaan utama adalah bagaimana keamanan ratusan obat-obat sirup lain yang sekarang juga resmi beredar. Kalau anak-anak Indonesia mengkonsumsi obat-obat sirup itu maka mungkin mereka baik-baik saja, tetapi mungkin juga mereka akan terkena gangguan ginjal dan bahkan meninggal dunia. 

“Karena ini tidak dapat dipastikan bahwa semua seratus persen aman maka apakah kita akan mengambil risiko ada jatuh korban lagi,” tegasnya.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Editor: Nirmala Aninda
 

SEBELUMNYA

Ramuan Penulis Salman Aristo Adaptasi Novel Balada Si Roy Menjadi Film Layar Lebar

BERIKUTNYA

Studi Sebut Polusi Udara Ganggu Kesehatan Mental, Simak 5 Cara Mengatasinya Yuk

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: