Cuplikan film Balada Si Roy. (Sumber foto: IDN Pictures)

Ramuan Penulis Salman Aristo Adaptasi Novel Balada Si Roy Menjadi Film Layar Lebar

07 February 2023   |   08:00 WIB
Image
Luke Andaresta Jurnalis Hypeabis.id

Balada Si Roy menjadi film berikutnya yang 'hidup' berkat skenario Salman Aristo. Dalam film ini, dia kembali mengadaptasi atau mengalihwahanakan novel menjadi film layar lebar, di mana Balada Si Roy merupakan novel karya penulis Gol A Gong.

Sebelumnya, pria yang akrab disapa Aris ini telah mengadaptasi sejumlah novel hingga menjadi film yang berhasil menyedot perhatian publik. Sebut saja Laskar Pelangi (2008), Ayat-Ayat Cinta (2008), Sang Pemimpi (2009), Sang Penari (2011), Negeri 5 Menara (2012), dan Bumi Manusia (2019).

Baca juga: Karena Ini Sastrawan Gol A Gong Pilih Fajar Nugros Sutradarai Film Balada Si Roy

Proses adaptasi novel menjadi karya film disebut sebagai ekranisasi. Alih wahana atau pemindahan novel menjadi film ini mau tidak mau mengakibatkan timbulnya berbagai perubahan. Oleh karena itu, ekranisasi juga bisa disebut sebagai proses perubahan yang bisa mengalami penciutan, penambahan, dan perubahan sejumlah variasi.

Aris menjelaskan untuk mengadaptasi novel menjadi film, ada tiga proses yang umumnya dilakukan oleh penulis dalam membuat skenario yakni borrowing, intersecting, dan fidelity of adaptation.

Borrowing terjadi jika seorang pembuat film menggunakan materi, ide, atau bentuk dari novel yang umumnya sudah sukses. Tindakan ini mencoba mengharapkan kesuksesan dari pinjaman judul atau tema novel sumbernya, sekaligus berusaha mengubah atau menambahkan beberapa hal untuk menjadikan filmnya berbeda dari sumbernya.

Sementara intersecting merupakan mode adaptasi yang secara sadar mempertahankan keunikan novel sumbernya di dalam film adaptasinya. Dalam proses intersecting, terjadi tarik ulur dialektis antara bentuk-bentuk estetik dari satu zaman di novel sumbernya, dengan bentuk-bentuk sinematik pada zaman film adaptasinya di produksi.

Adapun, fidelity of adaptation didefinisikan sebagai kesetiaan terhadap adaptasi. "Tiga hal itu bisa dilakukan bersamaan atau dipilih salah satunya," terang pria yang juga merupakan pemilik dari perusahaan pengembangan cerita Wahana Kreator itu.
 

Salman Aristo (

Salman Aristo (Sumber gambar: Salman Aristo/Instagram)

Namun, dalam menggarap skenario Balada Si Roy, Aris lebih mengedepankan teknik fidelity of adaptation. Hal itu berangkat dari ketertarikan personalnya terhadap kisah Balada Si Roy sejak tahun 1980-an. Baru kemudian dia menggunakan teknik intersecting untuk menentukan hal-hal yang akan dipinjam ataupun ditambahkan dari novelnya ke dalam skenario.

Proses tersebut dilakukannya untuk mempertahankan bentuk yang khas dari kisah dalam novel Balada Si Roy yang cenderung fragmental, ke dalam medium audio-visual seperti film layar lebar. Fragmental disini merujuk pada cerita yang berangkat dari kisah sehari-hari.

"Itu tantangan yang luar biasa bagi penulis skenario. Bagaimana cara membuat jahitan yang tidak terlalu kentara dan tetap terasa balada. Jadi tetap bergerak tetapi tidak kemana-mana," tutur pria berusia 46 tahun itu.

Pada kesempatan terpisah, penulis skenario Lele Laila mengatakan adaptasi merupakan proses pembacaan dan interpretasi sumber asli (raw materials) menjadi satu bentuk yang baru. Dalam prosesnya, penulis atau pencipta dari sumber asli juga acapkali terlibat dalam pengalihwahanaan.

Tidak melulu terlibat dalam penulisan skenario, penulis sumber asli umumnya akan membantu dalam proses pengembangan cerita dalam novel menjadi naskah film. Sebab, penulis novel bukan berarti juga mampu menulis skenario film begitupun sebaliknya.

"Mulai dari film Danur lalu KKN di Desa Penari, aku menulis skenario sendiri tapi tetap berkomunikasi secara intens dengan pemilik sumber aslinya," kata penulis pemilik nama asli Laila Nurazizah itu.

Seiring perkembangan industri perfilman, Lele juga melihat adanya tantangan lain yang dihadapi oleh penulis skenario yakni perihal ekspektasi dari para investor ataupun produser dalam satu proyek film. Seperti misalnya cerita film KKN di Desa Penari yang ditulisnya.

Film itu berangkat dari kisah utas (thread) di Twitter yang mengundang banyak pembaca hingga akhirnya viral di kalangan masyarakat. Menurutnya, ada kecenderungan anggapan bahwa kisah yang berangkat dari sumber asli yang populer akan sukses juga sebagai karya film.

"Adaptasi sering dipilih untuk mengamankan investasi terhadap proyek film karena sumber aslinya sudah diketahui banyak orang. Padahal adaptasi itu bukan soal produk tapi proses," jelasnya.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Editor: Nirmala Aninda
 

SEBELUMNYA

Debut Film Panjang Sutradara Sidharta Tata, Waktu Maghrib Tayang 9 Februari

BERIKUTNYA

Kasus Baru Gagal Ginjal, Ada 5 Anak yang Dirawat Sejak Desember

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: