Ratu Tisha (Sumber gambar: Bisnis)

Calonkan Diri Sebagai Waketum PSSI, Ratu Tisha Sulit Berpisah dengan Sepak Bola

16 January 2023   |   17:08 WIB
Image
Dika Irawan Asisten Konten Manajer Hypeabis.id

Like
Lama tidak terdengar di jagat persepakbolaan Indonesia, nama Ratu Tisha Destria kembali muncul ke permukaan. Dia baru saja mendaftar sebagai Wakil Ketua Umum Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (2023-2027) di Kantor PSSI, GBK Arena, Jakarta, Minggu (15/1/2023). 

Tisha bukanlah orang baru di sepak bola Tanah Air. Sebelumnya, dia pernah menjabat Sekretaris Jenderal di organisasi induk sepak bola Indonesia itu pada pada 2017-2020. Bahkan, dia adalah sosok yang berkontribusi mendatangkan pelatih tim nasional asal Korea Selatan Shin Tae Yong ke Indonesia. 

Baca juga: Intip Yuk Profil Dua Calon Ketua Umum PSSI Ini

Dalam kunjungannya ke kantor Bisnis pada 2017, tidak lama setelah dipercaya menjabat Sekjen PSSI, dia bercerita banyak informasi tentang sepak bola Indonesia. Terutama potensi bisnis dari si kulit bundar itu.  Pada kesempatan itu, Tisha juga tak lupa membagikan kisah perjalanan kariernya di arena kulit bundar.

Menjadi Sekjen PSSI, Tisha, seakan jadi penyegar dalam persepakbolaan Indonesia yang masih kering prestasi. Jabatan yang selama ini erat kaitannya dengan pemangku kepentingan sepak bola Indonesia. Tentunya dengan jabatan tersebut, Tisha menjadi orang cukup penting di tubuh PSSI selain Ketua Umum dan Wakilnya. 

Untuk pertama kalinya pula, induk sepak bola tertua di Indonesia itu memiliki sekjen dari kaum hawa. Mungkin sudah ada wanita-wanita Indonesia yang berkecimpung di lapangan sepak bola, tetapi belum banyak yang berkiprah di lapangan organisasi sepak bola dan Tisha salah satunya. 

Jika menengok ke belakang, keputusan PSSI menunjuk Tisha sebagai sekjennya terbilang mengejutkan. Tisha menyingkirkan kandidat-kandidat lain yang sejauh ini namanya cukup familier di sepak bola Indonesia. Sedangkan nama Tisha sendiri tidak begitu menggema di kancah sepak bola Tanah Air. 

Namun, siapa duga Tisha memiliki sederet prestasi pada tataran manajerial si kulit bundar. Perannya selama ini tidak banyak dilakukan di stadion, melainkan ruang-ruang pengambilan keputusan sepak bola. 

Sepak bola sebetulnya tidak ada dalam darah Tisha. Perjumpaannya dengan dunia kulit bundar dimulai ketika alumnus Jurusan Matematika Institut Teknologi Bandung mengurusi tim sepak bola mahasiswa ITB. Sepertinya itulah jalan pembuka Tisha masuk ke dunia sepak bola. 

Tisha tercatat satu-satunya perempuan di Asia yang memperoleh beasiswa FIFA. Ketika menjalankan FIFA Master, dia belajar di tiga universitas yang digandeng (International Centre for Sports Studies sebagai pelaksana program yaitu De Montfort University di Leicester, Inggris, SDA Bocconi di Milano, Italia, dan Universite de Neuchatel di Neuchatel, Swiss.

Saat PSSI dibekukan, Tisha didaulat menjabat Direktur PT Gelora Trisula Semesta, operator Indonesia Soccer Championship.

Selepas PSSI pulih, dia ditunjuk menjabat direktur kompetisi PT Liga Indonesia Baru untuk musim 2017. Tak lama ketika Ade Wellington mengundurkan diri dari posisi Sekjen PSSI, nama Tisha masuk dalam radar kandidat pengganti.

Dalam seleksi posisinya, Tisha meraih hasil tes terbaik di antara para kandidat lainnya. Pihak PSSI berpendapat Tisha pas menduduki jabatan tersebut karena dinilai mumpuni pada bidang organisasi, pengelolaan kompetisi termasuk menjalin komunikasi dengan berbagai pihak. 

Ketika disinggung ketertarikannya terhadap si kulit bundar yang identik dengan kaum adam, Tisha menjawabnya dengan jawaban diplomatis. “Pertanyaan itu yang sering ditanya ke saya, tetapi saya tidak pernah tau jawabannya. Sebab kita tak akan pernah tau alasan mencintai sesuatu itu karena apa,” tuturnya.

Bagi dia kecintaannya terhadap sepak bola tak dapat diukur. Cintanya mengalir saat menjalankan dan menggeluti bidang tersebut sehingga tanpa sadar, puluhan tahun Tisha telah menekuni olahraga itu. 

Satu hal lainnya, Kecintaan Tisha pada sepak bola diakuinya sama dengan masyarakat pada umumnya. Dia melihat keajaiban dalam sepak bola Indonesia yang terwakili pada romantisme suporter, potensi ekonomi, dan animo penonton. Faktor-faktor itu semua membuatnya semakin mencintai sepak bola. 


Bicara Kepemimpinan

Menjadi pimpinan PSSI, berhubungan dengan pengurus-pengurus organisasi yang notabene kebanyakan pria, Tisha merasa nyaman. Sebab dalam teknik leadership yang diterapkannya, dia mengedepankan prinsip kesetaraan. Membuat diri merasa berbeda lantaran gender menurutnya malah menghambat pergerakannya. 

“Yang paling penting itu ketika diri sendiri berbeda, maka kita tidak boleh merasa berbeda. Kita harus sama dengan yang lain,” ujarnya.


Menurutnya sikap setara itu perlu diterapkan agar orang-orang di sekitar memahami kompetensi yang dimiliki. Dia mengumpamakan saat orang Indonesia menjadi pemimpin di antara orang-orang asing, maka tak boleh merasa berbeda, melainkan sejajar. 

“Dengan begitu kita bisa memberikan kemampuan terbaik,” tuturnya. 

Selain itu Tisha juga menerapkan prinsip sepak bola dalam kerjanya yaitu respect, fair play, dan disiplin. Melalui prinsip-prisnip sepak bola tersebut, Tisha percaya akan menciptakan hasil maksimal layaknya sebuah goal dalam sepak bola.

Baca juga: Ini Alasan Gareth Bale Pensiun Sebagai Pesepak Bola Profesional di Usia 33 Tahun

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Editor: Gita Carla

SEBELUMNYA

Viral Fenomena Ngemis Online di Medsos, Begini Respon Sosiolog

BERIKUTNYA

8 Negara Ini Langganan Juara Kontes Kecantikan Miss Universe

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: