Accumulation Searching for the Destination, Chiharu Shiota, 2014/2022-Sumber gambar: Museum MACAN Jakarta

Menelusuri Imaji Seniman Jepang Chiharu Shiota dalam Pameran The Soul Trembles

09 January 2023   |   14:03 WIB

Like
Satu pertanyaan melintas di kepala manakala melihat sederet karya seni ciptaan seniman Jepang Chiharu Shiota di pameran The Soul Trembles di Museum MACAN, Jakarta. Jika hidup adalah sebuah perjalanan, lantas apa yang manusia kejar dalam kehidupan ini? Lalu, kemana pula kita akan melangkah selanjutnya?

Karya-karya instalasinya yang megah mencoba mencari arti tentang kehidupan dan kematian yang selama ini konsisten ditelusurinya.

Benang-benang hitam dan merah menjulur dan menyelimuti seluruh ruang yang dapat mengacu pada berbagai fenomena, rangkaian keterkaitan, dan hubungan-hubungan yang kompleks.

Jika diterjemahkan, The Soul Trembles berarti jiwa yang bergetar. Gejolak emosi hati Shiota yang merupakan manifestasi pemikirannya sebagai perupa terasa betul dalam karya-karyanya yang dirangkai dengan simbol benang merah, hitam, dan sesekali putih.

Baca jugaTerkenal Dengan Seni Instalasi & Perfomance Menggunakan Benang, Ini Karya Pertama Chiharu Shiota

Dengan benang sebagai medium utama artistiknya, Shiota  mampu melampaui batas antara seni kontemporer dan performans. Benang bisa diartikan sebagai alur kehidupan tak menentu sebagaimana yang dia rangkai dalam instalasinya bertajuk Uncertain Journey. Di sini, benang-benang bertumpu pada kerangka berbentuk perahu dari logam.

Benang juga dapat menghubungkan satu memori ke memori yang lain, yang tak jarang melekat dalam ingatan kita dimanapun tubuh berada. Pemaknaan ini tampak dalam instalasi sang seniman berjudul Connecting Small Memories dengan ratusan objek metaforis sebagai simbol kenangan.

Atau dalam karya lain bertajuk Accumulation-Searching for the Destination, Shiota menggunakan benang untuk menggantungkan pertanyaannya tentang manusia yang meninggalkan tempat asalnya untuk bepergian dengan membawa koper. Secara artistik, koper-koper yang bergelantungan tampak membuat pola jalan menanjak.

 


Sebelum dihelat di Jakarta, pameran The Soul Trembles telah berkeliling di beberapa negara mulai dari Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Tiongkok, dan Australia. Indonesia sendiri menjadi satu-satunya negara di Asia Tenggara yang disinggahi oleh eksibisi ini.

Shiota mengatakan melalui karya-karyanya ini, dia ingin terhubung dengan orang-orang di berbagai negara tak terkecuali di Jakarta. Terlebih, ini merupakan pameran tunggal perdananya di Indonesia.

Dia ingin membawa orang-orang yang larut dalam karya-karyanya merasakan sesuatu yang berbeda dari kehidupan sehari-hari, menggugah emosi dan menggetarkan jiwa lewat pameran yang intens. "Saya rasa seni adalah bagian penting dari hidup kita," kata seniman lulusan Universitas Kyoto Seika itu.

Jalan artistik Shiota dimulai dengan mempelajari teknik melukis cat minyak di Jepang. Namun, kesempatan belajar di beberapa kampus di luar negeri seperti Australia dan Jerman, membuat kecenderungan karyanya lebih berfokus pada seni instalasi dan performans.

Di Jerman, dia belajar di bawah arahan pelopor seni performans Marina Abramovic. Sejak saat itu, dia menetap Berlin dan secara aktif menampilkan karyanya di berbagai biennale, pameran, dan galeri seni.

Baca jugaBerkenalan dengan Marina Abramovic yang Jadi Guru Chiharu Shiota

Dalam perjalanan karier seni rupanya selama hampir 30 tahun, Shiota konsisten mengeksplorasi pengalaman atau emosi personalnya yang dia kembangkan menjadi kekhawatiran manusia yang universal seperti kehidupan, kematian, dan relasi.

Hal itu mewujud dalam ratusan karya instalasinya dengan sensasi ‘kehadiran dalam ketiadaan’, serta menghadirkan emosi tak berwujud dalam bentuk patung, seni gambar, video performans, fotografi dan kanvas.

Inspirasinya tentang jiwa, makna hidup, dan kematian mulai menyelimuti pemikirannya ketika Shiota divonis mengidap kanker. Bahkan, dia membagikan pengalamannya saat menjalani proses kemoterapi dalam instalasi bertajuk Out of My Body.

Karya tersebut terdiri dari jaring-jaring merah yang menggantung yang terbuat dari kulit sapi. Di bawahnya, bergeletakan elemen berbentuk organ tubuh seperti tangan dan kaki yang terbuat dari material perunggu. Seolah, Shiota ingin mengungkapkan ekspresi kesakitan yang dialaminya.

Menurut Asisten Kurator Museum MACAN, Asri Winata, karya-karya seni Shiota bicara seputar hal-hal universal dalam kehidupan manusia seperti kelahiran, perjalanan, dan kematian. Hal inilah, paparnya, yang membuat karya-karya sang seniman bisa dinikmati dan terasa relevan oleh siapa saja.

"Eksekusi karyanya luar biasa. Tapi saya pikir kejujuran dan universalitas yang ditampilkan Shiota sekaligus menjadi kekuatannya," ujarnya.

Asri mengatakan salah satu hal yang menarik dari pameran ini ialah konfigurasi sejumlah instalasi yang dirancang merupakan bentuk respons ruang dimana karya itu sendiri ditampilkan. "Instalasi meruang seperti ini efeknya bisa langsung terasa," katanya.

Direktur Museum MACAN, Aaron Seeto, menuturkan instalasi Shiota yang menakjubkan, menyelimuti, dan menyeluruh, membuka sebuah ruang bagi pengunjung untuk merefleksikan hidup mereka masing-masing, dan merenungkan ide-ide yang sangat intim mengenai jiwa, emosi, dan eksistensi.

Menurutnya, karya-karya Shiota sangat istimewa karena mampu memberikan bentuk kepada aura dan energi dari hal-hal yang tidak memiliki wujud fisik, seperti hal-hal yang hanya ada di dalam memori dan mimpi.

"Ini adalah pameran yang harus dinikmati secara langsung, karena keseluruhan pengalaman saat melihat karya Chiharu Shiota sulit untuk dideskripsikan dengan kata-kata," ujarnya.

Baca jugaIn the Hand, Esensi Pameran Tunggal Seniman Chiharu Shiota

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Editor: Gita Carla
SEBELUMNYA

4 Cara Mudah Berlibur ke Kepulauan Seribu

BERIKUTNYA

Menengok Prospek Investasi Emas di Tengah Ancaman Resesi 2023

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: