Ilustrasi wisata kuliner (Sumber gambar: Freepik)

Tak Hanya Alam, Wisata Kuliner Juga Diminati Saat Libur Nataru

29 December 2022   |   19:24 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Selama libur Natal dan Tahun Baru, atau Nataru  2023, ada banyak jenis aktivitas hiburan yang kerap dilakukan oleh masyarakat. Selain berwisata ke alam, masyarakat Indonesia juga gemar mencicipi kuliner ketika berkunjung ke daerah-daerah.

Dalam survei Travel Trends yang dilakukan Jakpat, wisata kuliner menempati 3 besar sebagai aktivitas favorit masyarakat saat menghabiskan libur Nataru. Hal itu membuktikan minat masyarakat menghabiskan waktu di restoran sudah cukup tinggi.

Tak jauh berbeda, dalam survei Vakansi Akhir Tahun 2022 yang dibuat DataIndonesia.id, wisata kuliner masuk ke dalam 3 besar jenis aktivitas yang paling banyak dilakukan pada libur Nataru 2023.

Ketua Umum Apkrindo Eddy Sutanto mengatakan setiap kali libur Nataru, restoran dan kafe selalu mengalami kenaikan jumlah kunjungan. Lonjakan tersebut terutama dirasakan oleh restoran yang menyajikan pengalaman makan berbeda.

Eddy mengatakan tren kenaikan kunjungan pada libur Nataru bisa mencapai 10 persen hingga 20 persen dibandingkan dengan kondisi hari biasa. Oleh karena itu, dirinya berharap libur akhir tahun ini bisa jadi momentum baru untuk kebangkitan industri restoran dan kafe di Indonesia. Sebab, menurut Eddy, industri restoran masih belum pulih 100 persen meski pemerintah sudah mulai melonggarkan kebijakan mobilitas masyarakat.

“Mudah-mudahan ini jadi momen perbaikan. Ada  beberapa restoran yang sejak weekend lalu sudah mulai ramai. Harapannya, saat libur Nataru kenaikannya mencapai 10 persen-20 persen,” ujar Eddy kepada Hypeabis.id beberapa waktu lalu.
 

Ilustrasi wisata kuliner (Sumber gambar: Freepik)

Ilustrasi wisata kuliner (Sumber gambar: Freepik)


Secara umum, jumlah kunjungan ke restoran akan naik. Namun, Eddy mengatakan masyarakat akan jauh lebih pilih-pilih untuk menuju ke restoran tertentu. Masyarakat cenderung memilih restoran yang punya branding yang baik dan memiliki nama besar.

Sebab, hal itu sering jadi patokan masyarakat bahwa makanan yang disajikan berkualitas. Eddy mengatakan tidak mungkin masyarakat asal pilih restoran, terlebih di momen spesial seperti akhir tahun ini.

Beberapa restoran akan menawarkan menu baru sebagai daya tarik. Namun, taktik tersebut perlu usaha dan promosi yang lebih keras. Sebab, masyarakat belum tentu akan langsung mau menjajal menu baru pada momen yang spesial. Dibanding gambling dengan mencoba menu baru, mereka cenderung lebih memilih menu lama yang sudah terjamin rasanya.

Baca juga: Cek 6 Titik Lokasi Festival Malam Tahun Baru 2023 di Jakarta

Salah satu hal yang bisa menambah suasana dalam menyantap makanan ialah musik. Cara ini terbilang cukup efektif menarik perhatian orang untuk mengunjungi restoran.

Namun, musik yang dihadirkan mesti berasal dari musisi ternama. Jika hanya asal ada, musik hanya penambah suasana saja dan tidak terlalu berefek pada jumlah kunjungan.
 

Tantangan Restoran


Meski mobilitas masyarakat sudah diperlonggar, Eddy menilai bisnis restoran belum pulih seutuhnya. Pada November lalu, Eddy masih melihat mayoritas restoran dan kafe masih kesulitan mendatangkan konsumen ke tempatnya.

Keadaan itu dipandangnya cukup merata, dari restoran kelas bawah, menengah, dan atas, semuanya masih berjuang kembali ke titik normal mereka. Ada beberapa alasan yang menyebabkan kunjungan ke restoran tidak terlalu cepat comeback meski mobilitas mulai dibuka.

Eddy menyebut masalah ekonomi dan daya beli masyarakat jadi faktor utamanya. Terlebih, publik sudah dibayangi tahun depan akan ada resesi. Tentu, masyarakat akan lebih berhati-hati dalam menggunakan uangnya.

Di sisi lain, Eddy menganggap pelonggaran mobilitas adalah pisau bermata dua. Pelonggaran tersebut membuat masyarakat lebih bebas beraktivitas. Akan tetapi, tak sedikit yang memanfaatkan itu untuk pergi ke luar negeri, termasuk saat libur Nataru.

“Mungkin bukan tidak beli (di restoran, Red), tetapi mereka punya kebiasaan baru untuk lebih memilih memasak di rumah. Ada shifting ke arah situ. Sebab, sudah ada YouTube dll yang membuat semuanya lebih mudah,” ujarnya.

Meskipun demikian, Eddy optimistis keadaan ini tidak akan lama. Menurut dia, restoran akan tetap bertahan dan bertumbuh. Sebab, makan di restoran dan makan di rumah lewat pembelian online berbeda.

Seseorang yang makan di restoran bukan hanya menikmati rasa makannya saja. Namun, mereka juga mendapatkan suasana, fasilitas, dan pengalaman yang tak bisa dirasakan ketika dilakukan di rumah.

Editor: M R Purboyo

SEBELUMNYA

Cara Mudah Mengembalikan Akun YouTube yang Diretas

BERIKUTNYA

Dinner Romantis di Hotel Jadi Cara Baru Nikmati Malam Pergantian Tahun

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: