Cuplikan film Yuni (Sumber gambar: Fourcolours Films)

Ada 'Hantu' Resesi, Bagaimana Efeknya ke Industri Perfilman Nasional?

30 November 2022   |   17:19 WIB
Image
Luke Andaresta Jurnalis Hypeabis.id

Tahun ini boleh dibilang menjadi momen emas industri perfilman Indonesia yang mampu bangkit setelah dihantam pandemi Covid-19 sejak 2020 silam. Tak sedikit film lokal yang dirilis tahun ini mampu meraih jutaan penonton di bioskop dan mencetak keuntungan yang fantastis.

Sebut saja film KKN di Desa Penari yang meraup 9,2 juta lebih penonton, Pengabdi Setan 2: Communion yang meraih 6,3 juta lebih penonton, dan Miracle in Cell No 7 yang ditonton 5,8 juta lebih penonton.

Baca juga: Jadwal & Link Cara Menonton Festival Film Indonesia 2022

Namun, di tengah tren positif ini, industri perfilman juga dihadapkan dengan ancaman resesi global yang digadang-gadang akan terjadi pada tahun depan. Co-founder & CEO Screenplay Films, Wicky V. Olindo, mengatakan dampak dari krisis global telah terjadi di Indonesia dengan banyaknya masyarakat yang mengalami PHK.

Menurutnya, hal itu juga secara tidak langsung akan berdampak pada pasar perfilman di Tanah Air, dimana para pekerja tersebut juga merupakan target penonton bioskop. Meski demikian, Wicky tetap optimis seiring dengan Indonesia yang masih mengalami pertumbuhan ekonomi.

"Jadi ketika ada economy growth, mestinya kita ada sustainability terhadap ekonomi dan daya beli. Resesi akan terjadi, tapi diprediksi juga tidak akan berkepanjangan," katanya saat ditemui Hypeabis.id di Jakarta, baru-baru ini.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, Wicky mengatakan pihaknya akan melakukan pengetatan dalam menggarap proyek film atau series, terutama yang memiliki skala besar. Sebab, menurutnya, tren penonton khususnya di bioskop belum mengalami konsistensi.

"Kadang ada kadang enggak ada. Kenapa? Karena level of film making craftsmanship di Indonesia pun belum konsisten dari film ke film," imbuhnya.

Konsistensi
Dia pun menilai bahwa para pelaku industri perfilman perlu menjaga konsistensi dalam membuat konten film yang berkualitas, sehingga kepercayaan publik untuk menonton film di bioskop juga bisa terjaga.

"Ketika film-film Indonesia di bioskop itu punya kualitas yang konsisten, kepercayaan publik terhadap film Indonesia konsisten, tentunya kita akan punya market yang lebih konsisten juga," jelasnya.


Menurutnya, resesi yang terjadi tidak akan serta merta menghilangkan animo penonton film di bioskop. Sebaliknya, hal itu justru bisa terjadi ketika para pelaku industri perfilman tidak bisa konsisten menyajikan konten-konten yang berkualitas.

"Ketika publik percaya terhadap film Indonesia, pasti mereka akan berusaha untuk menonton [film]. Tapi ketika sudah enggak percaya, itu menjadi resesi di perfilman Indonesia," terangnya.

Sebagai salah satu produk dari industri kreatif, film berpijak pada dua sisi yakni dari segi sosial-ekonomi dan kreatif. Sutradara Kamila Andini mengatakan jika dilihat dari sisi kreatif, ancaman resesi global pada tahun depan tidak akan berdampak pada industri perfilman.

Bahkan, dia mengatakan tak jarang film-film berkualitas justru hadir saat masa-masa krisis terjadi. "Saya melihat tidak ada kekhawatiran karena seni akan selalu hidup dengan situasi apapun. Seni sangat lentur dan cair, serta akan beradaptasi dengan situasinya," ujarnya.

Sementara dari segi tren penonton, perempuan yang akrab disapa Dini itu menilai bahwa ancaman resesi yang yang terjadi tidak serta merta akan ikut terpengaruh. Sebab, menurutnya, perfilman merupakan industri yang sangat dinamis dan acapkali tidak terprediksi.

Baca juga: Cek Daftar Lengkap Pemenang Piala Citra Festival Film Indonesia 2022

Dia mengambil contoh seperti tahun ini dimana tren penonton film Indonesia mengalami peningkatan yang sangat signifikan setelah terpuruk akibat pandemi. Menurutnya, fenomena ini tidak terjadi di negara manapun.

"Ini menunjukkan betapa anomalinya atau fluktuatifnya situasi industri perfilman kita ini yang kadang-kadang tidak terbaca," imbuh sutradara yang menggarap film Yuni itu.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Editor: Fajar Sidik

SEBELUMNYA

Berkenalan dengan Marina Abramovic yang Jadi Guru Chiharu Shiota

BERIKUTNYA

Profil Prita Kemal Gani, Tokoh Pendidik Bidang Public Relations Indonesia

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: