Ilustrasi bakteri. (Sumber gambar : Freepik/Wirestock)

Waspada 6 Bakteri Resisten Antibiotik Penyebab Kematian, Ada di Indonesia!

29 November 2022   |   14:26 WIB

Resistansi antimikroba (AMR) menjadi  salah satu dari sepuluh ancaman kesehatan masyarakat di dunia, terutama di negara berkembang. Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan kondisi ini dapat menyebabkan 10 juta kematian per tahunnya di seluruh dunia pada 2050. 

AMR juga menyebabkan beban ekonomi. Data terbaru Bank Dunia (World Bank) menunjukkan AMR akan meningkatkan kemiskinan dan berdampak terutama pada negara berpenghasilan rendah dibandingkan dengan negara lain di dunia. Studi menunjukkan bahwa Produk Domestik Bruto (PDB) global tahunan dapat turun sekitar 1 persen dan menimbulkan kerugian 5-7 persen pada negara berkembang pada 2050.

Kementerian Kesehatan mencatat AMR saat ini bisa dikatakan sebagai pandemi senyap (silent pandemic) karena angka kematiannya cukup tinggi. Pada 2030, diperkirakan penggunaan antibiotik di seluruh dunia akan meningkat sebesar 30 persen. Jumlah itu bisa mengalami peningkatan sebesar 200 persen jika AMR tidak ditangani dengan baik.

Baca juga: Bahaya! Ada Bakteri Super Penyerang Paru-paru di India yang Kebal Antibiotik

Ketua Pusat Resistansi Antimikroba Indonesia (PRAINDO) Dr. Harry Parathon menjelaskan AMR terjadi ketika bakteri, virus, jamur, dan parasit berubah dari waktu ke waktu dan tidak lagi merespons obat-obatan. Dengan demikian, infeksi jadi lebih sulit diobati dan meningkatkan risiko penyebaran penyakit hingga kematian. 

Setidaknya ada 6 bakteri yang tidak dapat dilemahkan atau dimatikan oleh lebih dari 1 golongan antibiotik. Diantaranya Escherichia coli, Staphylococcus aureus, Klebsiella pneumoniae, Streptococcus pneumoniae, Acinetobacter baumannii, dan Pseudomonas aeruginosa. 

Keenam bakteri prioritas penyebab kematian ini ada di Indonesia juga lho, Genhype. "Kematian luar biasa, dari 6 bakteri (yang resisten antibiotik) saja menimbulkan 5 juta manusia meninggal per tahun. Estimasi kematian terkait AMR sekitar 49 juta per tahun," ujar Harry dalam diskusi virtual, Selasa (29/11/2022).

Di balik tingginya angka kematian AMR yang diam-diam melebihi pandemi Covid-19 ini, antibiotik memang tidak lepas dari pengobatan masyarakat Indonesia sejak dulu. 

Harry menyampaikan salah satu area yang saat ini masih memiliki tingkat penggunaan antibiotik yang tinggi adalah perawatan luka. AMR mempengaruhi prosedur manajemen luka karena luka dapat menjadi saluran infeksi, memungkinkan masuknya mikroba, termasuk yang resistan antimikroba ke 
dalam jaringan. 

Infeksi yang disebabkan oleh bakteri resistan antibiotik katanya lebih sulit untuk diobati dan menyebabkan biaya pengobatan yang lebih tinggi, perawatan di rumah sakit yang lebih lama, dan meningkatkan kematian. 

"Dampak terbesar AMR ada empat yang utama. Infeksi aliran darah, pneumonia, infeksi saluran kemih, infeksi luka daerah operasi," jabarnya.

Oleh karena itu, penting untuk mengendalikan mikroba. Secara global, gerakan pengendalian AMR sudah berjalan, salah satunya dengan usaha penerapan Antimirobial Stewardship (AMS). 

AMS menjadi strategi untuk memerangi peningkatan AMR dengan berfokus pada penggunaan antimikroba yang tepat guna oleh professional kesehatan dengan mengikuti aturan dan pedoman yang sudah ditetapkan. Kiatnya yakni meningkatkan hasil perawatan pasien, mengurangi resistansi mikroba, dan mengurangi penyebaran infeksi yang disebabkan oleh organisme yang resistan terhadap obat. 

"AMS menjadi penting di semua area perawatan kesehatan termasuk area spesialis manajemen luka," tegas Harry.


Teknologi Baru

Untuk perawatan luka, Harry menyebut saat ini ada teknologi terkini seperti Dialkylcarbamoyl chloride (DACC), coated wound dressings yang efektif mencegah AMR dan mempercepat kesembuhan luka pada pasien.

Salah satu yang membuat teknologi perawatan luka ini adalah Essity. Marketing Director Essity Joice Simanjuntak pihaknya memiliki teknologi bernama Sorbact untuk perawatan luka yang dapat mencegah AMR.

Sorbact mengikat mikroba dengan mekanisme kerja murni secara fisik sehingga mikroba menjadi tidak aktif, dan mengangkatnya tanpa membunuh. "Teknologi Sorbact dipergunakan dalam balutan luka kami yaitu Cutimed dan Leukoplast," ujarnya.

Berbeda dengan balutan antimikroba lainnya yang secara aktif membunuh mikroba, balutan luka ini terbuat dari Dialkylcarbamoyl Chloride (DACC) yang bersifat hidrofobik. Balutan luka buatan perusahannya mengikat beberapa jenis mikroba secara permanen, dan mengurangi jumlah organisme di permukaan luka, sehingga proses penyembuhan luka lebih cepat.

Joice mengklaim Sorbact mampu menurunkan angka Infeksi Daerah Operasi (IDO) sampai dengan 65 persen dibandingkan standard dressing, dan bahkan mampu mengikat 5 bakteri patogen utama WHO.

"Sorbact tidak memiliki kontraindikasi dan risiko alergi yang rendah sehingga dapat digunakan pada bayi baru lahir, wanita hamil dan menyusui," tambahnya.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Editor: Nirmala Aninda
 
SEBELUMNYA

Sambut Tahun Baru, Yuk Percantik Kamar dengan Lima Item Aksesori Ini

BERIKUTNYA

Raisa Gelar Konser Solo di GBK, Tiket Mulai Dijual Besok!

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: