Cuplikan film Before, Now & Then (Nana)-Sumber gambar: Fourcolours Films

Kemenangan Film Nana dan Kebebasan Perempuan

27 November 2022   |   11:00 WIB

Setelah lama menggulung rambutnya dengan rapat dan menyimpan rahasia serta traumanya sendirian, Nana memberanikan diri untuk terjun bebas ke sungai. Bersama Ino, dia nikmati air sungai yang mengalir deras menghanyutkan tubuhnya.

Sesudahnya, mereka duduk di beranda rumah dengan pakaian seadanya dan rambut panjang yang dibiarkan menjuntai. Di antara asap rokok yang mengepul, mereka saling terbuka dan menguatkan satu sama lain.

Itu hanya satu dari sekian adegan terbaik dalam film Before, Now & Then (Nana). Film garapan sutradara Kamila Andini itu berhasil menjadi Film Cerita Panjang Terbaik di ajang Festival Film Indonesia (FFI) 2022.

Before, Now & Then (Nana) berkisah tentang Nana yang tidak bisa lepas dari masa lalunya. Berlatar tahun 1960-an, Nana hidup miskin dan kehilangan keluarganya akibat perang di Jawa Barat. Dengan rasa trauma yang terus mengikutinya, Nana pun menikah lagi dan memulai hidup baru.

Baca juga: Film Before, Now & Then (Nana) Ingatkan Masyarakat Sunda tentang Budaya Mereka

Namun, suami barunya yang begitu kaya membuat Nana sering dipandang rendah oleh kerabat suaminya. Nana menderita dalam diam hingga dia bertemu dengan salah satu perempuan simpanan suaminya, Ino.

Hidup Nana pun berubah. Ino adalah seseorang yang bisa dia percaya, seseorang yang menawarkan kenyamanannya dan tempat dia menceritakan rahasia, masa lalu, dan masa sekarang. Bersama-sama, kedua perempuan itu menemukan harapan akan kebebasan baru.

Film yang diadaptasi dari kisah hidup Raden Nana Sunani dalam penggalan novel Jais Darga Namaku karya Ahda Imran ini diakui oleh Kamila Andini membawanya ke dalam eksplorasi baru dalam perjalanan kariernya sebagai sutradara. Lewat film Nana, dia menggarap film periodik yang juga terinspirasi dari kisah nyata.

Perempuan yang akrab disapa Dini itu mengatakan film periodik Indonesia selalu berkaitan dengan sesuatu yang besar atau tentang seorang tokoh penting.

Meski begitu, dia mengaku justru ingin menggarap film ini dengan menceritakan seorang tokoh perempuan pada umumnya, seperti tokoh nenek, kakak, atau ibu, yang bisa disayangi dengan semua kekurangan dan kelebihannya.

"Kebetulan saja dia hidup di masa itu. Tapi kita juga bisa berefleksi dengan masa itu dan masih bisa terhubung dengan masa kini. Saya ingin membuat jembatan dari masa lalu ke masa sekarang," ujarnya.

Menurut Dini, perempuan adalah korban zaman yang paling nyata. Meski demikian, di setiap zaman pula, selalu ada sosok perempuan yang tidak pernah sekalipun menjadikan dirinya korban, meskipun tetap tidak lepas dari pengorbanan.

"Nana adalah kisah perempuan yang menjadi korban sebuah era perang, politik, pemberontakan dan kehidupan sosial patriarki yang ingin mencari arti kebebasannya sendiri," kata sutradara yang juga menggarap film Yuni itu.
 


Tematik & Estetika

Yosep Anggi Noen, sutradara sekaligus salah satu dewan juri akhir FFI 2022, mengatakan secara komprehensif, film Nana mampu menunjukkan kualitas dari empat kategori teknis yang menjadi penilaian yakni penyutradaraan, skenario, editing, dan sinematografi.

Menurut sutradara yang akrab disapa Anggi itu, secara berkualitas, film Nana juga menceritakan tentang satu narasi sejarah pada tahun 1960-an dari sudut pandang yang berbeda  meski disajikan dengan kisah yang melankolis.

"Film ini juga menguatkan dan memberi semacam advokasi pada peran perempuan. Secara tematik, ditujukkan bagaimana seorang perempuan bisa bernegosiasi dan memutuskan untuk memperoleh kemerdekaannya sendiri," ujarnya.

Sebagai sutradara, Dini memang dikenal konsisten membuat film yang mengangkat tema perempuan. Sebelum Nana, dia juga telah menggarap sejumlah film diantaranya Yuni (2021), Sekala Niskala (2017), Sendiri Diana Sendiri (2015), dan The Mirror Never Lies (2011).

Anggi menilai dalam menggarap film-filmnya, Dini mencoba menyajikan isu-isu perempuan dengan menggunakan berbagai cara tutur dan ketokohan.

Seperti misalnya dalam film Sekala Niskala yang menggunakan sudut pandang penceritaan realis dan surealis dari tokoh anak-anak terhadap mitologi Bali, sedangkan film Yuni berangkat dari sudut pandang problematika anak remaja perempuan di pinggiran kota.

"Karakter-karakter perempuan di film-film Dini itu tidak berontak dengan cara yang outstanding. Tapi justru dari ruang-ruang kecil dan intim, perempuan itu bertahan dan melawan," jelasnya.

Kritikus film Hikmat Darmawan menilai sebagai film, Nana memiliki kualitas yang mumpuni baik dari segi tematik maupun estetika. Secara konteks, katanya, film ini juga berhasil menyampaikan persoalan yang tengah dihadapi masyarakat saat ini tentang kesetaraan pada perempuan.

"Sekarang di perfilman Indonesia tema perempuan itu kuat sekali. Kuat itu bukan berarti mendakwahi, tapi mereka punya tools estetika yang kuat," katanya.

Dia juga mengatakan bahwa sebagai sebuah film periodik yang berangkat dari kisah sejarah pada masa tertentu, Nana disajikan dengan pendekatan estetika semi-surealis. Dalam film, hal itu ditandai dengan kehadiran tokoh yang berasal dari konteks waktu masa depan dan beberapa adegan dengan latar tempat yang tampak mistikal.

Pendekatan estetika tersebut juga kian menonjol dengan penggunaan bahasa Sunda yang disampaikan secara halus dan perlahan oleh para karakter dalam film.

"Jadi filmnya itu seperti menggunakan alam mimpi dan agak surreal, sehingga semuanya menjadi tepat meskipun bisa dianggap sebagai kekurangan," katanya.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Editor: Nirmala Aninda

 
SEBELUMNYA

Melihat Cinta & Harapan dalam Drama Musikal Rent: Seasons of Love

BERIKUTNYA

Marak PHK, Bekali Diri dengan 4 Hal Ini

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: