Untitled pada 1992 dan Butterfly on the Sunflower pada 1997 adalah seni lukis yang dibuat oleh Chiharu Shiota. (Sumber gambar: Hypeabis.id/ Yudi Supriyanto)

Terkenal Dengan Seni Instalasi & Perfomance Menggunakan Benang, Ini Karya Pertama Chiharu Shiota

24 November 2022   |   15:16 WIB

Seniman Chiharu Shiota sangat terkenal dan identik dengan karya seni instalasi atau performance dengan menggunakan material benang. Meskipun begitu, sang seniman sebenarnya memulai berkarya tidak dari seni instalasi atau performance dengan material benang.

Asisten Kurator Museum MACAN Asri Winata mengatakan bahwa penggunaan material benang oleh Shiota dalam menciptakan karya tidak dilakukannya sejak awal berkarya. Karya pertama sang seniman adalah berupa karya seni lukisan yang dibuat pada 1977 dengan judul Butterfly on the Sunflower .

Karya yang dibuat saat Shiota masih berusia lima tahun itu menggunakan media cat air di atas kanvas dengan ukuran 54x 30 cm. Lukisan pertama dari sang seniman adalah lukisan tentang bunga dan kupu-kupu yang dinamis.

Baca juga: Cerita di Balik Lukisan Claude Monet yang Dilempar Kentang Tumbuk oleh Aktivis

Karya itu tercipta saat sang seniman belum bisa menulis. Dengan kata lain, Shiota lebih dahulu bisa menggambar dibandingkan dengan menulis.

Sementara itu, lukisan terakhir yang dibuat oleh Shiota sebelum benar-benar meninggalkan melukis, dan berpindah ke seni instalasi, performance, serta sebagainya dan adalah lukisan berjudul Untitled yang dibuat pada 1992.

Lukisan dengan medium cat minyak di atas kanvas berukuran 166 x 134 cm tercipta saat sang seniman masih menjadi mahasiswa tahun pertama di Kyoto Seika University. Pada saat itu, dirinya merasakan seperti kehilangan passion terhadap seni lukis.

“Jadi, dia [Shiota] merasa bahwa seni lukis hanya tentang permukaan,” kata Asri.

Sang seniman pun kemudian berpikir bagaimana mengekspresikan isi dalam karya seni yang ada di dalam lukisan tersebut, dan akhirnya memutuskan untuk berhenti melukis.

Setelah beberapa waktu memutuskan untuk berhenti menciptakan karya lukis, Shiota bermimpi bahwa dirinya masuk ke dalam lukisan. Saat bangun dari tidur, Asri menuturkan, sang seniman pun memutuskan untuk membuat karya yang kemudian diberikan judul Become Painting.

Shiota pun membalut tubuh dengan kanvas dan melumurinya dengan cat enamel berwarna merah yang sebenarnya berbahaya bagi kulit di karya tersebut. Wanita seniman itu pun merasa seperti mengalami pembebasan lantaran seutuhnya bisa tenggelam dalam ekspresi.

Tidak berhenti di karya performance, Shiota juga membuat sebuah seni instalasi untuk pertama kalinya pada tahun yang sama. Dengan menggunakan medium cardboard, fabric, wire, wool, dan acrylic paint, karya seni instalasi berjudul From DNA to DNA pun tercipta pada 1994.

Karya seni instalasi yang dibuat ketika sang seniman masih di Kyoto Seika University itu berbicara tentang DNA itu sendiri. Shiota mempertanyakan pengaruh DNA bagi manusia, “Identitas kita sebagai manusia,” katanya.

Sang seniman pun kemudian terus mengeksplorasi seni instalasi dan performance. Saat di Jerman, dia bahkan selama 1,5 bulan setiap pukul 7 pagi pergi ke sebuah tempat pemotongan sapi untuk mengumpulkan tulang rahang sapi dan membuat karya seni instalasi.

Karya seni itu berjudul I Have Never Seen My Death pada 1997 dan Congregation pada 1997. Dalam karya I Have Never Seen My Death, Shiota meletakkan rahang sapi sebagai simbol kematian dalam formasi berkumpul mengelilingi sejumlah telur yang merupakan simbol kehidupan.

Sementara itu, dalam karya Congregation, sang seniman juga meletakkan rahang sapi dengan formasi yang sama. Namun, di tengahnya terdapat air. Karya ini menggambarkan seperti kematian mencari kehidupan atau sapi-sapi yang mencari air.

Fokus penting dalam dua instalasi karya Shiota ini adalah penggunaan elemen tanah yang menunjukkan bahwa sang seniman berusaha mengeksplorasi hubungan manusia dengan sekelilingnya. Tidak hanya itu, di Jerman, dia juga belajar atau mengikuti workshop dari seniman Marina Abramovic yang merupakan salah satu pelopor seni performance.


Editor: Indyah Sutriningrum
 
SEBELUMNYA

Reviu Keramat 2: Caruban Larang, Kisah Mistis dalam Balutan Dokumenter

BERIKUTNYA

Berikut Kelebihan Firefox Untuk Android

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: