Keramat 2: Caruban Larang tawarkan pengalaman baru menonton film horor dengan cara yang berbeda. Ilusrasi adegan Keramat 2: Caruban Larang (sumber gambar Starvisionplus)

Reviu Keramat 2: Caruban Larang, Kisah Mistis dalam Balutan Dokumenter

24 November 2022   |   15:13 WIB

Setelah 13 tahun lamanya ditunggu-tunggu para pencinta sinema Indonesia, film bertajuk Keramat 2: Caruban Larang akhirnya tayang serentak di jaringan bioskop. Prekuel film Keramat (2009) ini masih menggunakan pendekatan dokumenter ala sutradara Monty Tiwa dengan kemasan yang lebih segar. 

Popularitas film keramat memang memiiki tempat tersendiri di hati kalangan pencinta film horor. Dari sinilah Monty Tiwa kembali melakukan riset untuk mengulang kesuksesannya dengan menggandeng bintang-bintang baru di Indonesia.

Beberapa di antaranya adalah Keanu Agl, Umay Shahab, Lutesha, Ajil Ditto, Arla Ailani, Josephine Firmstone, Maura Gabriela, Elly Lutan, Badriyah Afiff, Rosmala Sari Dewi, dan Ence Bagus.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by KERAMAT 2 (@keramat2film)




Secara sederhana film Keramat 2: Caruban Larang mengisahkan sekelompok anak muda yang menuju Kota Cirebon dengan berbagai tujuan berbeda. Ada Youtuber yang membuat cerita mistis, mahasiswa tari yang melakukan riset untuk tugas akhir, dan seorang pembuat film dokumenter.

Baca juga: Jadwal Tayang & Sinopsis Film Qorin, Sajian Ritual Horor Memanggil Jin

Meski pada awalnya film ini dikemas lucu, tetapi perlahan terjadi konflik yang berkembang. Antar karakter saling bersitegang demi kepentingan pribadi. Cerita makin liar dengan balutan horor dan kisah mistis. Terlebih setelah munculnya Luthesa, seorang indigo yang memperingatkan untuk mengakhiri tujuan mereka, karena ada bahaya yang mengancam.


Tawaran Baru Monty Tiwa

Keramat 2: Caruban Larang menawarkan pengalaman  berbeda di mana Monty berhasil memberikan sudut pandang visual yang lebih natural. Inilah kelebihan mokumenter, adegan-adegan yang muncul terjadi secara organik alias improvisasi antar berbagai karakter.

Penulis yang belum pernah menonton prekuelnya pun sampai dibuat penasaran untuk menonton apa yang dihadirkan Monty Tiwa 13 tahun silam. Setelah menonton saya pun mahfum dan mengangkat topi kepada sang  sutradara bahwa apa yang dilakukannya untuk membuat sekuel film ini memang tepat.

Berbeda dengan film pertamanya dengan alur cerita lebih intens serta peralihan adegan yang lebih soft, di film keduanya Monty menawarkan gaya pendekatan baru yang lebih modern ala-ala kreator Youtube yang belakangan marak dibuat pelaku kreatif digital.

Meski selama 1 jam 34 menit lebih banyak adegan-adegan yang mengundang tawa ketimbang horor dari dialog Keanu dengan mulut comelnya. Tapi bukan berarti Keramat 2: Caruban Larang tidak menawarkan kisah-kisah mencekam. 

Salah satunya tentu lewat akting mumpuni Luthesa dengan berbagai dialog serta intensitas aktingnya untuk membuat film tetap berada dalam gerbong horor. Meski pada akhirnya film ini lebih kental dengan narasi kisah-kisah mistis.

Hal ini bisa disimak dari balutan kisah sejarah mengenai penari tradisional yang menghilang tanpa diketahui sebabnya, hingga tidak bolehnya tarian tersebut dimainkan di luar kraton. Penonton juga akan diajak memasuki 'alam lain' lewat ritual khusus bernama pati geni dengan adegan mencekam  dari karakter-karakter  saat berada di dalam peti jenazah.

Namun, konflik yang dibangun dari friksi antar karakter terlihat buru-buru, sehingga film seolah berkesan  jadi sangat drama. Ada juga beberapa adegan yang diulang dari film prekuelnya, seperti saat Luthesa menyanyi di ranjang atau adegan munculnya Kemamang, alias hantu bola api.

Tidak adanya takarir bahasa Indonesia dalam penggunaan bahasa daerah juga membuat penonton seolah disuguhi dialog bisu bagi yang tidak mengerti artinya. Padahal, pada film prekuelnya hal ini disikapi Monty dengan adanya karakter yang menerjemahkan setiap bahasa lokal yang diucapkan oleh aktor.

Namun, terlepas dari itu semua, Film  Keramat 2: Caruban Larang berhasil menawarkan pengalaman baru untuk menonton film horor dengan cara berbeda, alih-alih mengikuti narasi konvensional yang jamak dikenal khalayak. Apakah hal ini juga akan membuka peluang eksplorasi baru sinema horor nasional, kita tunggu saja ke depannya.

Baca juga: Film Horor Laris Manis di Indonesia, Mistis & Rekreasi Emosi Jadi Pendorong


Editor: Roni Yunianto
 
SEBELUMNYA

Profil Mohammed bin Salman Al Saud, Sang Putra Mahkota Tajir Melintir dari Arab Saudi

BERIKUTNYA

Terkenal Dengan Seni Instalasi & Perfomance Menggunakan Benang, Ini Karya Pertama Chiharu Shiota

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: