Karya berjudul Burned Trees dari seniman asal Indonesia, yakni Arahmaiani

Pameran Seni Kontemporer Constellations: Global Reflections (CGR) Hadir di Bali Sampai November 2023

21 November 2022   |   11:07 WIB
Image
Yudi Supriyanto Jurnalis Hypeabis.id

Para pencinta seni kontemporer yang sedang atau akan liburan di Bali dapat menikmati pameran seni unik di ruang terbuka dari 21 seniman kontemporer internasional bertajuk Constellations: Global Reflections (CGR). Pameran yang dikurasi oleh Lance Fung itu terdapat di tiga lokasi di area pulau Kura Kura Bali dari November 2022 sampai dengan November 2023.

Karya seniman dari berbagai negara dalam pameran ini menyoroti isu perubahan iklim, kesetaraan hidup, dan kolaborasi global dengan menggunakan sejarah kain Bali, proses pembuatan lampion, dan pertunjukan wayang sebagai benang merah konsepnya.

Baca jugaLukisan Cerita-cerita Mimpi Seniman I Made Dabi Arnasa di Art Moments Jakarta 2022

Lance Fung menyebutkan bahwa Constellations: Global Re?ections bertujuan untuk mempertegas filosofi hidup khas Bali yaitu Tri Hita Karana.

“Diartikan secara harfiah sebagai ‘tiga cara mencapai kebahagian atau harmoni,’ filosofi ini mencakup tiga aspek kehidupan di Bali, yakni Tuhan, manusia, dan alam, dengan menempatkan ketiganya sebagai dasar pengembangan di Kura Kura dengan fokus utama kebahagiaan dan sistem berkelanjutan,” katanya dalam rilis yang diterima Hypeabis.id,

Dibuat di Bali, sekitar 20 karya dicetak secara digital di atas kain yang terbuat dari plastik daur ulang. Kemudian, hasil cetakan tersebut diaplikasikan terhadap 10 instalasi menyerupai drum yang digerakkan oleh energi matahari.Karya-karya seni instalasi itu mengeksplorasi susana yang tenang dan syahdu dengan dirancang untuk dapat dinikmati para pencinta seni baik siang atau malam hari.

Tidak hanya itu, karya seni instalasi itu juga melambangkan mercu suar yang mengundang orang dari seluruh dunia untuk bersama melihat karya seni tersebut dan berdiskusi mengenai cara untuk menciptakan masa depan yang lebih kuat dan lebih baik.

Seniman-seniman yang terlibat dalam pameran ini adalah Tony Albert (Australia), Arahmaiani (Indonesia), Dana Awartani (Saudi Arabia), Xu Bing (China), Berkay Bugdan (Turki), Genevieve Cadieux (Kanada), Minerva Cuevas (Meksiko), N. S. Harsha (India).

Kemudian, Kota Hirakawa (Jepang), Ilya & Emilia Kabakov (Rusia/Ukraina), Naledi Tshegofatso Modupi (Afrika Selatan), A.D Pirous (Indonesia), Paola Pivi (Italia), Liliana Porter (Argentina), Caio Reisewitz (Brasil), Thomas Ruff (Jerman), Yinka Shonibare CBE (Inggris), Kiki Smith (Amerika Serikat), Kimsooja (Korea Selatan), dan Ben Vautier (Prancis).

Seniman asal Indonesia, yakni Arahmaiani membuat karya berjudul Burned Trees di pameran ini. Dilansir dari laman constellationsbali.org, sang seniman membuat karya ini untuk mengingatkan masyarakat terhadap masalah lingkungan yang kian mendesak dan membutuhkan tindakan cepat di lapangan. Dampak negatif perubahan iklim sudah nyata, dan membawa berbagai malapetaka di hampir seluruh wilayah bumi.

Untuk diketahui, karya-karya sang seniman kerap bergulat dengan politik kontemporer, kekerasan, kritik terhadap kota, tubuh perempuan dan identitasnya sendiri,

Sang seniman juga sering menggunakan kehadirannya di depan umum untuk menarik perhatian terhadap kekerasan pada umumnya, dan kekerasan terhadap perempuan atau diskriminasi perempuan terhadap masyarakat Islam Indonesia pada khususnya.

Sejak 11 September, dia menggabungkan sikap kritisnya terhadap Islam dengan perjuangan melawan stigmatisasi umumnya. Tidak hanya itu, bahkan sejak 2010 sang seniman juga bekerja sama dengan biksu di Tibet dalam menangani masalah lingkungan.

Selain itu, dia juga telah bekerja sama dengan berbagai komunitas seniman, aktivis, dan akademisi di berbagai tempat di Indonesia dan dunia. Sejak 2006, sang seniman juga membuat sebuah proyek seni berbasis komunitas jangka panjang yang disebut proyek bendera.

Baca jugaPerlu Waktu 77 Tahun untuk Menyadari Lukisan Mondrian Ini Ternyata dipajang Terbalik

Dia memulai kerja komunitas dengan Pesantren Amumarta di Yogyakarta. Kemudian, sang seniman juga telah menjadi dosen tamu di Universitas Passau, Jerman, dalam 10 tahun terakhir. Tidak hanya itu, sang seniman juga pernah mengajar di  Guangzhou Academy of Fine Arts pada 2006-2008.

Editor: Fajar Sidik

SEBELUMNYA

Yuk Seruput Bareng di Pameran Kopi Togetherness Museum Nasional

BERIKUTNYA

Perhatikan 4 Bentuk Kekerasan dalam Rumah Tangga

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: