Ilustrasi pria terkena PPOK (Sumber gambar: Freepik)

Kenali Gejala PPOK, Mirip Asma Tetapi Lebih Berbahaya

17 November 2022   |   13:32 WIB
Image
Chelsea Venda Hypeabis.id

Penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) adalah suatu kondisi paru yang heterogen yang disertai gejala pernapasan yang kronik. Gejala penyakit ini terbilang mirip dengan asma. Namun, PPOK terbilang lebih berbahaya karena peradangan paru-paru berlangsung dalam jangka panjang.

Asma dan PPOK termasuk ke dalam penyakit yang menyerang organ paru-paru. Dua penyakit ini sama-sama membuat penyempitan pada saluran pernapasan. Namun, keduanya punya perbedaan yang signifikan.

Asma kerap muncul karena dipicu alergen maupun iritan, seperti perubahan cuaca, stres, aktivitas fisik, udara, dan sebagainya. Namun, PPOK berkaitan dengan faktor risiko dari paparan gas iritatif, seperti polusi asap bahan bakar, perokok, dan sebagainya.

Spesialis Pulmonologi dan Kedokteran Paru RS Royal Surabaya Arief Bakhtiar mengatakan PPOK berbeda dengan asma karena penyakit ini disertai gejala penyerta lain seperti adanya batuk dan dahak.

PPOK umumnya terjadi karena adanya abnormalitas saluran pernapasan atau pada alveoli paru. Alveoli merupakan unit terkecil di paru paru yang berfungsi untuk pertukaran udara.

“Pada pasien PPOK terjadi hambatan aliran udara yang persisten dan progresif yang makin lama makin berat. Ini juga yang membedakan dengan asma,” ungkap Arief dalam diskusi virtual Perhimpunan Dokter Paru Indonesia.


Faktor Risiko Timbulnya PPOK


Penyakit paru obstruktif kronis tidak serta merta muncul. Dokter Arief mengatakan ada beberapa faktor risiko yang membuat seseorang bisa terkena penyakit ini.

Pasien penyakit ini umumnya ialah perokok, baik aktif maun pasif. Asap pada rokok bisa menyebabkan peradangan pada paru-paru dalam waktu lama. tidak hanya itu, paparan debu industri juga meningkatkan risiko terkena PPOK.
 

Ilustrasi penyakit paru paru/Kemenkes

Ilustrasi penyakit paru paru/Kemenkes


PPOK juga bisa disebabkan oleh faktor genetik. Selain itu, seseorang yang kerap mengalami sesak napas saat kecil juga bisa jadi penanda penting.

Dokter yang tergabung ke dalam Pokja Asma PPOK Perhimpunan dokter paru Indonesia menyarankan masyarakat agar memeriksakan diri jika memiliki tanda-tanda faktor risiko tersebut. Penanganan lebih dini akan memperkecil risiko penyakit berubah jadi ganas.

“Pertimbangkan untuk melakukan sarana penunjang pemeriksaan PPOK dengan spirometri. Setidaknya lakukan screening deteksi dini PPOK,” imbuhnya.
 

Tujuan Terapi PPOK


Dengan mendeteksi dini PPOK, pasien bisa mendapatkan terapi lebih cepat. Dokter Arief mengatakan tujuan dari terapi PPOK ialah mengurangi masalah penyakit, seperti menghilangkan gejala, meningkatkan toleransi aktivitas, dan meningkatkan status kesehatan.

Tujuan lain ialah mengurangi risiko PPOK menjadi berkembang. Terapi juga bisa mencegah dan mengobati kekambuhan. Selain itu, yang terpenting ialah menurunkan angka kematian.

Baca juga: Waspada Pandemi Baru, Penelitian Klinis Diperkuat


Dokter Arief mengatakan tujuan dari terapi cenderung untuk meringankan gejala. Akan tetapi, perlu diketahui terapi tidak bisa menyembuhkan PPOK.

“Jadi, kita harus sampaikan sekali terdiagnosis PPOK, maka selamanya melekat,” ungkapnya.

Oleh karena itu, sebaiknya pencegahan dilakukan sejak dini sebelum akhirnya penyakit ini muncul di tubuh. Dokter menyarankan untuk menjauhi faktor-faktor risiko yang mengakibatkan PPOK, seperti kebiasaan merokok dan paparan polusi udara yang buruk.

Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

Editor: M R Purboyo
SEBELUMNYA

Weak Hero Class 1, Drakor yang Ungkap Realitas Kelam Bulying SMA di Korea

BERIKUTNYA

Broadway Legendaris Dunia RENT The Musical Hadir di Ciputra Artpreneur

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: