Kebaya Funky (Sumber gambar: Kebaya Funky Official Instagram)

Sasar Anak Muda, Desainer Lenny Agustin Ciptakan Inovasi Kebaya Funky

16 November 2022   |   15:30 WIB

Like
Indonesia memiliki warisan wastra yang sangat beragam, mulai dari batik, songket, ulos, tenun, gringsing, jumputan, dan lain sebagainya. Setiap lembar wastra pun memiliki nilai filosofis dan mencerminkan karakter budaya bangsa.

Wastra merupakan kain tradisional yang sarat akan makna budaya Nusantara. Masing-masingnya memiliki ciri khas yang dapat dibedakan dari simbol, warna, ukuran, hingga material yang digunakan.

Keindahan dan kelestarian wastra baik sebagai produk budaya maupun komoditas pun tak bisa terlepas dari jasa para desainer yang tak henti-hentinya berkreasi. Melalui olahan-olahan kreatif mereka lah, wastra mampu terus eksis dan eksploratif dengan gaya fesyen yang terus berkembang.

Salah satu desainer yang menaruh perhatian khusus pada kreasi wastra adalah Lenny Agustin. Menurutnya, wastra akan tetap diminati sebagai produk fesyen oleh banyak orang selama dalam prosesnya terus mengalami inovasi, baik dari segi bentuk, warna, maupun bahan.

Baca jugaLAELYIND, Wujud Cinta Laely pada Wastra Nusantara

Sejak 2001, Lenny telah terobsesi untuk mengeksplorasi pakaian tradisional seperti kebaya. Sejak saat itu, dia sukses mengenalkan kombinasi kebaya dengan rok tutu yang menjadi inspirasi gaya fesyen banyak orang. Sampai hari ini, dia terus berupaya menciptakan inovasi desain kebaya hingga menghadirkan koleksi kebaya funky.

Seperti namanya, kebaya funky menawarkan koleksi kebaya yang lebih segar, atraktif, kasual, dan ringan. Ide kreasi kebaya funky diciptakan Lenny agar kebaya, sebagai pakaian tradisional, bisa digunakan sebagai item fesyen sehari-hari, bukan hanya sebagai pakaian yang dikenakan saat acara-acara formal yang terlalu mengikuti pakem.
 

Kebaya Funky (Sumber gambar: Kebaya Funky Official Instagram)

Kebaya Funky (Sumber gambar: Kebaya Funky Official Instagram)

Jika selama ini kebaya cenderung dibuat dari bahan-bahan seperti organza ataupun brokat yang dipadukan dengan kain batik atau tenun menjuntai, kebaya funky terbuat dari bahan-bahan ringan seperti katun dan polyester yang dipadukan dengan rok beragam motif.

"Biar kebaya ini enggak ditinggal, kita harus membawa kebaya lebih ke ranah fesyen. Bahwa kebaya itu bagian dari fesyen item, yang bisa mix and match dengan apapun, untuk acara apapun," katanya kepada Hypeabis.id, belum lama ini.

Dalam mengembangkan kebaya funky, Lenny melakukan berbagai inovasi mulai dari desain hingga pemakaian bahan yang lebih kekinian. Hal itu juga tercermin dalam koleksi terbarunya berjudul Coco Kebaya, yang terinspirasi dari koleksi ikonik perancang Coco Chanel yakni tweed jacket.

Lenny mengubah tampilan kebaya menyerupai tweed jacket yang menurutnya saat ini tengah digandrungi kalangan muda, sehingga lebih terlihat modern dan chic. Dengan mengombinasikan dua hal itu dalam koleksinya, Lenny berharap bahwa kebaya dapat dengan mudah diterima oleh kalangan muda sebagai item fesyen sehari-hari.
 

Kebaya Funky (Sumber gambar: Kebaya Funky Official Instagram)

Kebaya Funky (Sumber gambar: Kebaya Funky Official Instagram)


Potensi Wastra

Lenny mengatakan bahwa saat ini pangsa pasar konsumen produk fesyen wastra masih besar. Setidaknya hal itu didukung juga oleh beberapa budaya di institusi pendidikan seperti sekolah maupun kantor yang telah memandang batik sebagai pilihan pakaian formal.

"Kantor-kantor juga kan sekarang enggak ada tren pakai jas atau dasi. Orang lebih milih kalau formal itu pakai batik. Jadi itu cukup jadi pangsa pasar yang sangat besar dan menjanjikan," ucap desainer lulusan Institut Kesenian Jakarta itu.

Meski demikian, diperlukan konsistensi dari segi inovasi desain dalam mengembangkan produk fesyen wastra, untuk terus menetrasi pasar. Menurut Lenny, dalam dunia mode wastra, saat ini masih belum banyak desainer tekstil yang dapat menciptakan beragam motif dan warna kain wastra. Saat ini, kebanyakan wastra didapatkan dari para pengrajin.

Sebab, sebagai desainer, dia mengaku kerap menemui para pengrajin yang sulit untuk diajak berkolaborasi dalam menciptakan motif wastra yang lebih eksploratif. Mereka cenderung pakem dengan motif-motif atau warna yang telah dibuat selama ini.

"Mereka lebih nyaman dengan motif-motif yang biasa mereka bikin. Padahal kalau itu ada inovasi terus yang lebih modern, konsumen pasti lebih seneng juga dan akan beli terus," imbuh Lenny.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Lenny bersama komunitasnya, Indonesian Fashion Chamber (IFC), pun mulai memberikan diskusi dan pelatihan pengembangan motif hingga pengetahuan perkembangan tren fesyen kepada para pengrajin dan UMKM. Dengan upaya itu, diharapkan para pengrajin juga mulai terbiasa untuk mengeksplorasi dan menciptakan motif-motif baru dari wastra.

Sebab, menurutnya, wastra merupakan medium yang sangat luas bagi desainer untuk berbagai ide kreatif desain yang divisualkan melalui beragam corak dan motif wastra. Namun, hal itu juga perlu didukung dengan perkembangan kain wastra yang harus selalu inovatif, sehingga dapat memenuhi kebutuhan para desainer dalam berkreasi.

"Sebenarnya kalau bisa kerja sama dengan pengrajin itu, kita bisa mengatur motif itu biar sesuai dengan tema kita, karakter kita. Jadi sangat penting sebenarnya, karena baju itu kan bercerita dan punya konsep," terangnya.

Lenny percaya bahwa wastra merupakan salah satu potensi Indonesia untuk bisa unggul dalam dunia mode dunia. Sebab, menurutnya, jika hanya mengandalkan produk-produk pabrikan, fesyen akan mudah ditiru oleh negara-negara lain yang mampu menawarkan harga lebih murah.

"Wastra kan semuanya handmade, yang ada banyak sentuhan manusianya sehingga sangat sulit ditiru, dan itu akan tetap menjadi kekuatan kita," imbuhnya.

Baca jugaFesyen Wastra Punya Peluang Besar di Pasar Global

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Editor: Gita Carla
SEBELUMNYA

3 Masalah Utama Wajah Pria Indonesia, Begini Cara Menanganinya

BERIKUTNYA

Jadwal Pertandingan Piala Dunia 2022 Qatar

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: