Ilustrasi, berbagai penyakit mengintip kaum mageran. (Sumber gambar: Freepik)

Hati-hati, Kaum Mageran Punya Potensi Lebih Besar Terkena Strok

10 November 2022   |   19:30 WIB
Image
Chelsea Venda Hypeabis.id

Angka kejadian strok terus meningkat, tidak hanya menyerang usia lanjut, tetapi sudah menjangkit kaum muda. Namun, penyakit tidak menular yang menyumbang 116 juta kematian global ini sebenarnya bisa dicegah. Memiliki pola hidup yang sehat dan enggak mageran bisa menjadi kunci mencegah penyakit strok.

Direktur P2PTM Eva Susanti mengatakan saat ini prevalensi strok di Indonesia sudah mencapai 10,9 per mil. Kasus tertingginya ada di Kalimantan timur dengan jumlah 14,7 per mil, sedangkan yang terendah di Papua berjumlah 4,1 per mil.

Tingginya penyakit strok dipengaruhi oleh empat transisi yang terjadi dalam kehidupan manusia. Dari segi epidemiologi, saat ini Indonesia masih disibukkan dengan penyakit menular, seperti Covid-19 yang masih belum bisa dianggap selesai. Akan tetapi, di sisi lain juga dibarengi angka penyakit tidak menular (PTM) yang terus meningkat.

Baca juga: Kenali Metode FAST Untuk Deteksi Dini Serangan Stroke

Dari transisi demografi, saat ini pemerintah terus berupaya memperbaiki sistem layanan kesehatan. Kabar baik tersebut membuat angka harapan hidup pasien jadi meningkat. Namun, jumlah orang yang terkena strok bisa tetap meningkat jika faktor risikonya tidak dikendalikan.

Dari transisi ekonomi dan sosial budaya, Eva mengatakan pertumbuhan ekonomi akan memengaruhi kebutuhan hidup individu yang berdampak pada tingkat stres. Faktor ini juga ikut  memengaruhi besarnya kasus strok.

Terakhir ialah transisi teknologi. Transisi ini ikut menyumbang kasus strok karena menciptakan kebiasaan sedentary life. Gaya hidup mageran alias malas gerak dapat membuat kesehatan seseorang jadi menurun. Lantaran tidak aktif bergerak, kalori yang dikeluarkan setiap harinya pun sangat sedikit.
 

Gaya Hidup Buruk Merusak Kesehatan


Eva mengatakan sedentary life bahkan menjadi pembeda faktor penyebab stroke di Indonesia dan dunia. Di dunia, kebanyakan kasus stroke terjadi akibat obesitas. Namun, di Indonesia salah satu yang menjadi salah satu penyebab terbesarnya ialah kebiasaan penduduk yang kurang beraktivitas fisik.

“Kurangnya aktivitas fisik ditambah pola makan yang tinggi gula, garam, dan lemak akan mempertinggi faktor risiko,” ujar Eva dalam diskusi Temu Media: Peringatan Hari Stroke Sedunia 2022, beberapa waktu lalu.

Eva mengatakan penyebab strok lain yang sering dilakukan masyarakat Indonesia ialah kurangnya konsumsi buah dan sayur. Sebanyak 95,5% penduduk di atas 10 tahun diketahui mengonsumsi sayur dan buah kurang dari normal.

Selain itu, kebiasaan merokok dan meminum alkohol juga turut menjadi penyebab kasus strok di Indonesia. Eva menyebut saat ini ada sekitar 29,3% penduduk usia lebih dari 15 tahun yang memiliki kebiasaan merokok. Adapun sebanyak 3,3% penduduk di atas 10 tahun telah mengonsumsi minuman beralkohol

Eva menyarankan masyarakat untuk mulai mengurangi kebiasaan buruk yang menjadi penyebab strok. Imbangi pola makan yang sehat dengan olahraga rutin. Setidaknya, olahraga dilakukan 5 kali dalam seminggu dengan durasi per sesi 30 menit.

 

Tubuh aktif bisa bisa menghidarkn dari stroke (Sumber gambar: Pexels/Rui Diaz0

Tubuh aktif bisa bisa menghidarkan dari strok. (Sumber gambar: Pexels/Rui Diaz)


Sementara itu Dokter Gizi Klinik MRCCC Siloam Hospitals Semanggi Samuel Oetoro mengatakan pola makan tidak sehat jadi salah satu faktor terbesar penyebab strok. Pola makan tidak sehat terjadi karena seseorang tidak memiliki jam makan. Oleh karena itu, konsumsi makanan benar-benar tidak terjadwal.

Selain itu, jenis makanan yang dikonsumsi pun lebih banyak yang tidak sehat. Namun, masih banyak orang yang belum sadar bahwa makanan yang dikonsumsinya bisa merusak tubuh, termasuk jadi pemicu strok.

Samuel mencontohkan banyak orang tidak sadar telah mengonsumsi gula berlebihan. Memang tidak memakan gula atau menambahkan langsung ke makanan. Namun, mereka rutin mengonsumsi boba atau minuman manis sejenisnya, yang mana punya kandungan gula berlebih.

Namun, bukan berarti jenis makanan-makanan tersebut sama sekali tidak boleh dimakan. Jika sedang menginginkannya, sesekali memakannya pun tidak masalah.

Dokter Samuel hanya mensyaratkan satu hal, yakni seseorang harus memiliki pola hidup yang sehat terlebih dahulu sebelum mencoba jenis makanan tidak sehat.

Cobalah untuk menjalani hidup sehat selama 8-12 minggu hingga membentuk kebiasaan. Jika sudah memiliki kebiasan hidup sehat, umumnya orang tidak akan kalap untuk memakan makanan yang berpotensi tidak sehat. Hal itu akan jadi rem alami seseorang dalam mengonsumsi makanan.


Editor: Indyah Sutriningrum
 
SEBELUMNYA

Spesifikasi & Harga Smartphone Sharp Aquos V6 5G yang Bawa Unsur Ninja 

BERIKUTNYA

Alasan Zaskia Adya Mecca Kini Lebih Senang Berbisnis

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: