Fandom idol K-Pop nyatanya tak sekadar mendukung para idola di atas panggung, tapi banyak melakukan aktivitas sosial kemanusiaan (Sumber gambar: Unsplash/Noiseporn)

Hypereport: Fenomena Fandom K-Pop, Misi & Aktivitas Sosial

23 October 2022   |   21:00 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Meski sering mendapat cibiran dari orang awam, fandom K-Pop ternyata memiliki banyak kegiatan positif. Buktinya baru-baru ini banyak fandom K-Pop di Indonesia ikut serta menggalang dana untuk peristiwa Tragedi Kanjuruhan di Malang, Jawa Timur. Total dana yang terkumpul juga tak main-main, angkanya mencapai hampir Rp1 Miliar.

Munculnya fandom K-Pop merupakan imbas dari Hallyu, atau gelombang Korean Wave yang menyebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. Fenomena ini merebak lewat musik, dan budaya Korea yang pertama kali dipopulerkan jurnalis di Beijing pada dekade 1900-an.

Indonesia, sebagai salah satu negara dengan fanbase K-Pop terbesar di dunia juga memiliki banyak penggemar idol K-Pop. Beberapa di antaranya yang memiliki basis terbesar adalah, ARMY, penggemar grup BTS; Carat dari grup SEVENTEEN; Blink penggemar BLACKPINK; ELF alias penggemar Super Junior; NCTZen fans NCT 127, dan masih banyak lagi.

Namun, alih-alih menjadi fandom yang hanya mengidolakan grup musik favoritnya, komunitas-komunitas tersebut juga memiliki aktivitas sosial dengan berbagai kegiatan positif, bagi masyarakat dan lingkungan di Indonesia.

Baca jugaDaftar Fans K-Pop yang Galang Donasi Korban Kanjuruhan, Total Dana Hampir Rp1 Miliar

Salah satunya adalah gerakan fandom ARMY Indonesia, sebutan fans grup K-Pop Bangtan Sonyeondan alias BTS. Dibentuk pada 2014, kelompok ini sering melakukan proyek kegiatan sosial dan event seru-seruan bareng anggota saat ulang tahun member BTS. Kendati demikian, kelompok fan ini tidak berafiliasi langsung dengan agensi BTS yang ada di Indonesia.

Dihubungi Hypeabis.id, member ARMY Indonesia Bunga mengatakan grup dengan anggota sekitar 700 orang itu telah mengadakan kegiatan sosial pembagian makan siang di Kampung Pemulung Cassablanca dan Bilik Pintar Jakarta untuk menyambut ulang tahun member BTS, Jimin. Didominasi anak-anak muda yang masih kuliah, kelompok ini juga sering melakukan proyek bersama fandom ARMY dari daerah untuk kegiatan kemanusiaan.
 

Setali tiga uang, Ketua ARMY dari Lombok Hardyanti mengatakan bahwa komunitas mereka juga sering melakukan kegiatan sosial. Misalnya melepas tukik ke pantai, bantuan sosial korban bencana, hingga yang fenomenal adalah donasi untuk tragedi Kanjuruhan yang mencapai Rp447 juta.

Saat ditanya mengenai afiliasi mereka dengan ARMY dari daerah lain, Hardyanti mengatakan tidak ada hubungan istimewa. Fandom ARMY, menurutnya, hanya disatukan melalui platform media social, yang tiap daerah memiliki pengurus, member, dan kegiatan masing-masing. Selain berbasis wilayah, ada juga kelompok yang didasarkan pada kategori tertentu.

Dia mengungkap ada fandom ARMY yang bergerak di bidang kesehatan mental bernama AHC (ARMY Help Center),  ada ARMY Advokat yang beraktivitas terkait dengan bidang hukum, dan juga fanbase dari daerah yang mengurusi lowongan kerja, beasiswa sekolah, dan masih banyak lagi.

"Jadi kita [fandom ARMY] biar terarah dan ada yang concern dengan hal-hal tertentu. Misalnya jika ada anggota yang butuh pengacara tinggal ke ARMY advokat, butuh psikolog tinggal hubungi AHC, gitu," ungkap Hardyanti.

Baca jugaArtis K-Pop Favorit Jadi Kategori Baru American Music Awards, Cek Daftar Lengkap Nominasinya

Adapun Ketua ARMY dari Kota Salatiga Tina mengaku jika fandom mereka juga sering melakukan kegiatan sosial. Biasanya acara itu dilakukan saat ulang tahun member BTS, meliputi kegiatan amal, melukis bersama, hingga pembagian makan siang untuk warga setempat.

Memiliki lebih dari 200 anggota di grup aplikasi pesan instan, ibu rumah tangga ini mengatakan komunitas yang berdiri pada 2017 itu juga dapat dijadikan wadah positif untuk menyalurkan hobi. Selain itu, karena dibangun lewat interaksi sosial yang baik, tentu juga dapat meningkatkan kepercayaan diri anggotanya. 
 

Lain ladang lain belalang, Ketua Carats Indonesia Raras mengatakan fanbase dari boy group Seventeen menyebut bahwa kelompok itu juga memiliki misi yang sama terkait kemanusiaan, meski berbeda fandom. Dia mengaku grupnya juga telah menggalang dana tragedi Kanjuruhan dengan total Rp150 juta.

Meski jarang melakukan kegiatan offline, komunitas Carats di Indonesia malah disatukan dalam SVT Billboard dan Worldwide Carats yang berisi komunitas fandom Carats dari seluruh dunia. Dia mengatakan, Carats Indonesia bukan komunitas seperti organisasi resmi karena mereka tidak memiliki ketua. Grup tersebut hanya memiliki 3 admin yang aktif mengurus postingan Instagram dan Twitter. 

"Kalau demi kebaikan tentu dengan dengan senang hati kami melaksanakan kegiatan positif apapun itu, karena fandom Carats juga kadang membuka fundraising untuk membantu saudara-saudara kita yang terkena musibah," kata Raras.

Simak liputan khusus tentang Fandom K-Pop terkait berikut ini:
Kpopers, Dimulai dari Fandom hingga Kekuatan Nyata Media Sosial
Totalitas Penggemar di Balik Fanatisme Idol K-Pop
Fanatisme Idola K-Pop dan Kegaduhan Fan War di Ruang Maya


(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Editor: Syaiful Millah 

SEBELUMNYA

Hypereport: Kpopers, Dimulai dari Fandom hingga Kekuatan Nyata Media Sosial

BERIKUTNYA

Hypereport: Totalitas Penggemar di Balik Fanatisme Idol K-Pop

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: