ilustrasi konsumsi gula (Sumber gambar: Freepik)

Viral Soal Bahaya Minuman Manis, Berapa Jumlah Konsumsi Gula Harian?

26 September 2022   |   11:37 WIB
Image
Chelsea Venda Hypeabis.id

Belakangan ini warganet sedang disibukkan dengan perbincangan viral soal bahaya minuman manis. Kandungan gula yang dianggap terlalu tinggi pada sejumlah minuman kekinian itu membuat kekhawatiran tersendiri terhadap kesehatan konsumen. Namun, berapa sebenarnya batas maksimal jumlah konsumsi gula harian?

Asupan gula yang berlebihan memang mengandung risiko bagi kesehatan. Namun, bukan berarti seseorang sama sekali tidak boleh mengonsumsi gula. Sebab, gula juga salah satu bahan yang menghasilkan sumber energi bagi tubuh.

Oleh karena itu, yang perlu dilakukan bukanlah menghindari gula, melainkan mengontrol konsumsinya setiap hari. Dengan demikian kita bisa mendapatkan manfaat gula dan bisa menghindari efek buruk ketika mengonsumsinya secara berlebihan.

Dokter Ahli Gizi Tan Shot Yen mengatakan konsumsi gula harian di Indonesia sebenarnya sudah diatur oleh Kementerian Kesehatan. Melalui Permenkes Nomor 30 Tahun 2013, Kemenkes meminta semua produk mencantumkan informasi kandungan gula, garam, dan lemak, serta pesan kesehatan pada pangan siap saji atau pangan olahan.

Masih pada permenkes yang sama, diatur pula konsumsi gula harian per orang hanya 10 persen dari total energi (220 kkal). Konsumsi tersebut setara dengan 4 sendok makan per hari atau 50 gram per hari.

Menurut Dokter Tan, aturan konsumsi gula Indonesia sebenarnya masih jauh lebih toleran dibandingkan dengan organisasi kesehatan dunia (WHO). Sebab, WHO punya anjuran untuk setiap negara agar mengatur lebih ketat batasan konsumsi gula per harinya.

Pedoman WHO yang diterbitkan pada 2015 merekomendasikan orang dewasa dan anak-anak mengurangi asupan gula harian mereka menjadi kurang dari 10 persen dari total asupan energi mereka. Pengurangan lebih lanjut hingga di bawah 5 persen atau sekitar 25 gram (6 sendok teh) per hari akan memberikan manfaat kesehatan tambahan.

Dokter Tan menegaskan bahwa gula yang baik adalah gula yang masih langsung berasal dari sumbernya. Misalnya, gula yang terdapat di tumbuhan tebu, sejumlah buah yang terasa manis, hingga susu. Namun, seiring perkembangan zaman gula juga ada di dalam produk rafinasi, seperti gula pasir, sirup, dan sebagainya.

Dokter Tan sendiri lebih merekomendasikan asupan gula dari sumber asli, seperti beras, umbi, jagung, sagu, sayur, buah, tebu, dan lainnya. Sebisa mungkin tidak perlu menambah dari produk olahan pabrik, seperti gula pasir maupun pemanis buatan.

Masyarakat juga diimbau mewaspadai gula di dalam berbagai produk makanan maupun minuman kemasan. Sebab, bisa jadi ada gula tersembunyi di dalamnya. Biasakanla untuk membaca label pangan sehingga kita bisa mengukur konsumsi gula harian secara lebih tepat.
 

Efek Konsumsi Gula Berlebihan

Dokten Tan menjelaskan asupan gula secara berlebihan punya efek yang buruk bagi kesehatan. Seseorang bahkan bisa merasa ketagihan dan selalu meningkatkan kebutuhan rasa manis setiap harinya. Seseorang akan merasa makanan yang dikonsumsinya tidak terasa manis sehingga dengan sendirinya menambahkan gula tambahan ke makanan atau minuman tersebut.

Orang yang mengonsumsi gula berlebihan juga memiliki risiko kegemukan dan diabetes. Konsumsi gula berlebih bisa memengaruhi hormon pengontrol berat badan seseorang. Hormon leptin yang biasa memberi tahu otak bahwa orang sudah kenyang jadi tidak berfungsi. Akhirnya, orang akan terus menerus makan untuk memenuhi rasa lapar tersebut.

Baca juga: Viral Somasi Es Teh, Pakar Ingatkan Bahaya Sugar Craving

Selain itu, risiko orang terkena kolesterol juga makin besar. Sebab, gula sering kali membuat tubuh jadi punya kalori yang berlebihan. Kalori bisa berubah menjadi trigliserida yang meningkatkan kolesterol tidak sehat di dalam darah.

Bukan hanya itu, risiko penyakit berbahaya lain, seperti kanker, penyakit kardivaskular, peningkatar kadar gula darah, diabetes, infeksi gigi dan gusi, hingga ginjal juga menanti. Oleh karena itu, pastikan konsumsi gula setiap harinya dibatasi sehingga risiko kesehatan bisa dicegah.

Editor: Fajar Sidik 
SEBELUMNYA

Jadwal MPL ID Season 10 Week 8, ONIC Puncaki Klasemen dan MVP di Week 7

BERIKUTNYA

Ini Alasan Bisnis Kue Tradisional Tetap Menjanjikan dan Bertahan Lama

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: