Ilustrasi pria yang mengalami kelainan penis dan saluran kemih. (Sumber gambar : Freepik/Jcomp)

4 Kelainan Penis yang Ganggu Kualitas Hidup Pria

01 September 2022   |   13:09 WIB

Mayoritas manusia ingin menikah dan mempunyai keturunan. Namun, tidak sedikit dari mereka yang mengalami kendala atau hambatan seperti timbunya penyakit maupun kelainan pada alat reproduksi, seperti pada penis dan saluran kemih.

Spesialis Urologi Eka Hospital Cibubur dokter Gampo Alam Irdam menerangkan kelainan penis dan saluran kemih sangat berdampak pada kualitas hidup penderitanya, sehingga tidak boleh diabaikan. Oleh karena itu butuh penanganan yang tepat agar alat reproduksi pria itu kembali berfungsi optimal.

Dia menyebut ada beberapa kelainan pada penis yang cukup sering dialami oleh kaum pria. Ada yang memang bawaan dari lahir maupun berkembang seiring waktu, berikut diantaranya.

1. Hipospadia 

Ini merupakan kelainan sejak lahir di mana pembukaan uretra (lubang kencing) terletak di bagian bawah penis. Gejala umumnya terjadi seperti lubang pembukaan uretra yang tidak normal (dapat terletak di dekat kepala penis hingga di bawah buah zakar), penis melengkung ke bawah, dan semprotan urin yang tidak normal pada saat buang air kecil. 

Baca juga: Stres Bisa Pengaruhi Kesehatan Reproduksi Loh Genhype

Pada kelainan ini, diperlukan tindakan pembedahan sebagai penanganan dan mengoreksi serta memposisikan kembali lubang uretra ke ujung penis.

Gampo menyebut pembedahan akan lebih mudah dilakukan bagi penderita dengan usia 6 hingga 18 bulan. "Proses pembedahan pada usia dewasa cenderung lebih sulit, dengan kejadian komplikasi yang lebih tinggi dan angka keberhasilan yang lebih rendah,” ujarnya dikutip dari siaran pers, Kamis (1/9/2022).

2. Penyakit Peyronie 

Ini merupakan kondisi pembentukan jaringan parut di dalam penis yang menyebabkan penis melengkung dan nyeri pada saat ereksi. Penyebabnya adalah cedera pada penis dan diperparah dengan adanya riwayat keluarga, riwayat merokok, atau penyakit kencing manis. 

Gejalanya berupa terabanya jaringan parut (bekas luka pada kulit) di bawah kulit penis, penis melengkung ke sisi tertentu, gangguan ereksi, pemendekan penis, nyeri, dan perubahan bentuk penis.

Pada kondisi yang sudah parah, kata Gampo, diperlukan pembedahan guna mengurangi kelengkungan penis dengan cara dijahit (plikasi), membuang jaringan parut, atau pemasangan prostesis penis. Tindakan bedah umumnya dilakukan pada kondisi penyakit yang sudah stabil (tidak bertambah parah) dalam jangka waktu minimal 3 bulan.

3. Kurvatura Penis Kongenital 

Memiliki nama lain chordee adalah ketika bentuk penis melengkung sejak lahir. Berbeda dengan penyakit Peyronie, pada kelainan ini tidak ditemukan adanya jaringan parut, di mana penyebabnya adalah kelainan pembentukan penis pada saat di kandungan. 

Pembedahan hanya dilakukan pada kondisi chordee yang cukup parah dengan cara membuat insisi (penyayatan kulit) dan penjahitan pada sudut yang lebih besar atau hanya penjahitan.

4. Striktur Uretra

Striktur uretra adalah kondisi adanya penyempitan pada saluran uretra akibat pembentukan jaringan parut pada uretra. Kelainan bisa disebabkan disebabkan oleh riwayat trauma, infeksi, serta tindakan medis yang melibatkan uretra.

“Gejalanya sendiri bisa dari lemahnya aliran urin, aliran urin seperti lidi, tidak lancar dan harus mengedan untuk buang air kecil, hingga infeksi saluran kemih,” ungkap Gampo.

Teknik pembedahan bergantung dari letak dan keparahan striktur, meliputi tindakan endoskopi dan pembedahan rekonstruksi terbuka. Dia menjelaskan rekonstruksi terbuka dilakukan pada kasus yang kompleks dengan berbagai teknik dengan prinsip utama untuk membuang jaringan parut di sepanjang saluran uretra dan menjahit kembali, baik dengan atau tanpa menambahkan jaringan dari organ lain.


Editor: Indyah Sutriningrum
 

SEBELUMNYA

Ini Makna 'Wake Me Up When September Ends', Lagu Green Day yang Viral di Twitter

BERIKUTNYA

Mau Hemat BBM Saat Berkendara? Begini Caranya

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: