Political Clowns, 1999, oleh Heri Dono (Srisasanti Gallery) salah satu karya dalam Art Jakarta Spot (sumber gambar: Art Jakarta 2022)

Yuk Intip Karya dalam Art Jakarta Spot yang Nanti Akan Ada di Art Jakarta 2022

04 August 2022   |   12:30 WIB
Image
Yudi Supriyanto Jurnalis Hypeabis.id

Genhype, salah satu segmen dari gelaran Art Jakarta yang akan terselenggara pada 26-28 Agustus 2022 adalah Art Jakarta Spot. Segmen ini akan menampilkan karya seni pilihan yang telah mengalami kurasi, seperti patung, proyek khusus, atau karya instalasi.

Di segmen Art Jakarta Spot, Art Jakarta akan menghadirkan agenda acara khusus yaitu presentasi karya oleh 15 galeri. Berikut ini adalah karya-karya yang akan dipamerkan:
 
  • Tak Berakar Tak Berpucuk No. 8 / No Roots No Shoots No. 8, 2019, oleh Handiwirman Saputra (Nadi Gallery)

 

Tak Berakar Tak Berpucuk  (Sumber gambar: Art Jakarta 2022)

Tak Berakar Tak Berpucuk (Sumber gambar: Art Jakarta 2022)



Karya seni dari Handiwirman Saputra ini berawal dari catatan visual sang seniman mengenai sampah yang terbawa oleh banjir dan sampai ke depan studio yang dimiliki, yang berada di pinggiran kota Yogyakarta.

Karya yang pernah hadir dalam ajang Venice Biennale 2019 ini pada akhirnya dapat dinikmati oleh masyarakat di Indonesia untuk yang pertama kalinya.
 
  • Membangun Literasi Indonesia Baru / Building A New Indonesian Literacy, 2022, oleh Dedy Sufriadi (Artemis Art)

 
  • Membangun Literasi Baru (Sumber gambar: Art Jakarta 2022)

Membangun Literasi Baru (Sumber gambar: Art Jakarta 2022)


Dedy adalah seorang seniman yang sangat senang membaca. Sang seniman menggunakan buku-buku sebagai sumber inspirasi dalam beberapa waktu guna mengangkat isu-isu literasi yang sangat mendesak di dalam negeri.

Baca juga: Kolektor Muda Tunjukkan Antusiasme Tinggi di Art Jakarta 2022

Sang seniman membangun karya instalasi berjudul Membangun LIterasi Indonesia Baru guna menyampaikan ide-ide mengenai hubungan antara pembangunan bangsa dan literasi.
 
  • Casting Spells for the Movement, 2021, oleh Nadiah Bamadhaj (A+ Works of Art)

 

Casting Spells for the Movement (Sumber gambar: Art Jakarta 2022)

Casting Spells for the Movement (Sumber gambar: Art Jakarta 2022)


Karya seni ini merupakan replikasi bentuk perempuan Tugu Tani yang dibuat oleh sang seniman berdasarkan penelitian tentang gerakan perempuan Indonesia pada era Soekarno. Mencoba menangkap semangat gerakan yang sebenarnya, alih-alih citra Sukarno tentang seorang wanita, dia mengubah sosok itu menjadi beberapa bagian, menghasilkan citra perempuan yang lebih berani dan lebih berdaya.
 
  • Gender Artefact 2nd, 2016, oleh Ninindityo Adipurnomo (D Gallerie)

 

Gender Artefact (Sumber gambar: Art Jakarta 2022)

Gender Artefact 2nd (Sumber gambar: Art Jakarta 2022)


Gender Artefact 2nd termasuk dalam seri Gender Artefacts karya Ninindityo Purnomo. Karya ini adalah sebuah eksplorasi tentang bagaimana simbol dan objek gender dapat berevolusi dan beradaptasi dengan perubahan zaman.

Karya ini memaparkan bagaiamana teknik rumit tenun rotan bekerja dengan elemen lain seperti sedge. Sang seniman memanfaatkan sifat rotan yang fleksibel.
 
  • Long Shadow #1, 2020, oleh Jompet Kuswidananto (ISA Art Gallery)

 

Long Shadow #1 (Sumber gambar: Art Jakarta 2022)

Long Shadow #1 (Sumber gambar: Art Jakarta 2022)


Karya dari sang seniman berbicara tentang subjek tersembunyi, hilang, atau terlupakan dari sejarah Indonesia yang tersapu ke dalam kegelapan dan semua trauma itu tetap hidup. Lampu yang menyala dan mati sebenarnya berfungsi untuk menyembunyikan dan memberi kompensasi berlebihan terhadap apa yang ada di dalam kegelapan.
 
  • Breathe, 2022, oleh Bagus Pandega (ROH) 

 
  • Breathe (Sumber gambar: Art Jakarta 2022)

Breathe (Sumber gambar: Art Jakarta 2022)


Ketika pandemi menunjukkan kepada kita peran penting dari tabung oksigen, Bagus Pandega melihat ke dalam mode produksi oksigen dan menemukan cetak biru yang luas di mana karya seni ini dibuat dan kemudian dihiasi.

Dengan satu set lampu yang dapat aktif hanya ketika mesin mengeluarkan oksigen, karya ini menunjukkan konsistensi sang seniman untuk mengeksplorasi interaksi cahaya, suara, dan gerakan.
 
  • Political Clowns, 1999, oleh Heri Dono (Srisasanti Gallery)

 

Political Clowns (Sumber gambar: Art Jakarta 2022)

Political Clowns (Sumber gambar: Art Jakarta 2022)


Baca juga:  2 Lukisan Karya Affandi Terjual dengan Harga Fantastis di Art Jakarta 2022

Setelah pergantian rezim 1998, muncul generasi politisi baru dalam lanskap politik Indonesia. Melalui karya ini, Heri Dono menyoroti apa yang dilihatnya sebagai watak khusus dari para politisi itu, yaitu fokus yang menjijikkan dan tanpa malu-malu pada kepentingan mereka sendiri. Lebih dari 20 tahun kemudian, karya seni ini mempertahankan relevansinya yang langgeng.


Editor: Roni Yunianto



 

SEBELUMNYA

4 Fakta Menarik tentang Vanaris Tactics, Gim yang Rilis Hari Ini

BERIKUTNYA

Girls' Generation Tampil Anggun bak Selebriti Teaser Video Klip FOREVER 1

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: