Era Soekamto dalam konsep Adi Mangunsa (Sumber gambar : Instagram Era Soekamto)

Era Soekamto Rilis 111.111 NFT Batik

22 July 2022   |   21:16 WIB

Tidak hanya meluncurkan jenama dan galeri batik, desainer Era Soekamto juga menghadirkan karyanya dalam bentuk non fungible token (NFT). Setidaknya ada 60 desain yang direpresentasikan ke dalam 120 koleksi batik tulis, kemudian dibuat menjadi 111.111 NFT. 

Adapun peluncurannya dilakukan seiring dengan pagelaran 2022 Batik & Fashion Presentation bertajuk Adi Manungsa, di The Apurva Kempinski, Bali, Jumat (22/7/2022) malam. 

Era menjelaskan 111.111 NFT ini sebagian besar akan disumbangkan ke yayasan sosial SOS Children Village,khusus di desa-desa terpencil bagi pendidikan dan pemberdayaan manusia. Ini semua tidak lepas dari tema Adi Manungsa yang menjadi representasi karyanya. 

"Manusia itu lebih canggih daripada teknologi kalau kita tahu sejatinya manusia. Teknologi ada harus balance, untuk membantu, untuk membuat impact menjadi lebih besar, bukan untuk menguasai manusia," ujarnya. 

Persiapan jenama, galeri, hinnga NFT ini kata Era sudah dilakukan sejak 8 bulan. "Tapi konsep Adi Manungsa ini udah ada dari bertahun-tahun yang lalu sebetulnya. Saya menunggu momentum saja di mana, bagaimana pasnya kita kembali ke nol, kembali ke manusia," tuturmya. 


Sementara itu, Era menerangkan Adi Manungsa menjadi sebuah gambaran representasi karya batik untuk menunjukkan perjalanan manusia dalam mencari jati dirinya. 

Adi Manungsa, yang dalam Bahasa Sansekerta atau Bahasa Jawa, memiliki makna ciptaan Tuhan yang sempurna. Era menjabarkan ini merupakan gambaran manusia yang sadar bahwa dirinya harmoni antara fisik dan ruhani. Dikenal juga dengan istilah papat sedulur limo pancer.

Artinya, manusia secara fisik terdiri dari empat elemen yakni air, api, udara, dan tanah. Kemudian dari ruh yang ditiupkan Sang Maha Pencipta. 

Karya batik ini pun dihadirkan untuk menjadi pencerahan bagi siapapun yang tersentuh untuk mengetahui betapa berdaya manusia karena dia adalah kepanjangan tangan Tuhan di dunia ini. 

"Jadi manusia itu multidimensi di mana kita harus kembali kepada mengingat bahwa kita adalah manusia ether, yaitu yang memakai rasa. Di seni budaya sudah melakukan itu sejak lama sehingga kita bisa mengolah rasa di dalam bahasa. Nah ini adalah elemen-elemen yang saya cantumkan di dalam batik," tuturnya. 

Founder Purpose NFT Okki Soebagio menjelaskan dari 60 desain bertema Adi Manungsa yang dibuat Era, Purpose mengolahnya menjadi 111.111 NFT dengan harga yang berbeda-beda. 

Sebanyak 100.000 NFT  bernilai US$10-US$15. Kemudian 10.000 NFT nilainya US$100-US$150. Lalu, 1.000 NFT bernilainya US$1.000, 100 NFT senilai US$10.000, dan yang paling mahal bernama Tri Manunggal Trimatra seharga US$1 juta.

"111.111 unik NFT, 6 juta dollar nilainya," ungkapnya. 

Alasan mengapa jumlahnya banyak terutama senilai US$10-US$15 agar banyak orang berkontribusi dalam penggalangan dana model baru ini. "Untuk kolaborasi ini kita kerja sama dengan SOS. Jadi 50 persen fundrising kita akan serahkan ke SOS," jelas Okki. 

Penjualan utama dilakukan melalui Purpose Art dan opsi lainnya Opensea melalui Polygon (matic). "Karena kita ingin partisipasi yang sebesar-besarnya jadi walaupun gagap blockchain, di tempat kita memungkinkan beli NFT pakai credit card kalau nggak punya wallet crypto," terang Okki.  

Sementara itu dia sangat bangga terlibat dalam pembuatan NFT batik ini. Dengan demikian, batik semakin tersebar luas sebagai kearifan lokal dan budaya Indonesia. 

Editor: Fajar Sidik
SEBELUMNYA

Dijajal Awak Media, Yuk Intip Performa Hyundai Stargazer

BERIKUTNYA

Begini 5 Kiat Bangun Ikatan Untuk Tumbuh Kembang Anak

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: