Arsitektur Masjid Raya Sultan Riau. (Sumer gambar: BISNIS/YUSTINUS ANDRI)

Indahnya Harmoni Arsitektur Timteng dan Melayu di Masjid Raya Sultan Riau

10 July 2022   |   21:30 WIB

Di Pulau Penyengat, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau, berdiri megah Masjid Raya Sultan Riau yang kental dengan nuansa sejarah dan religinya. Bangunan peribadatan yang memiliki luas bangunan 18 x 19,8 meter ini merupakan peninggalan masa kejayaan Kesultanan Islam Riau – Lingga (1828 - 1911).

Masjid Raya Sultan Riau Penyengat merupakan salah satu peninggalan masa kejayaan Kesultanan Lingga-Riau yang masih tersisa. Awalnya, masjid yang dibangun pada 1803, seluruh konstruksinya menggunakan material kayu.

Pada masa pemerintahan Yang Dipertuan Muda VII Raja Abdurrahman pada 1832, bangunan kayu yang menjadi material utama masjid mulai diganti dengan beton. Selain itu, tempat ibadah umat muslim yang dicat dengan warna kuning dan hijau terlihat lebih menonjol dibandingkan bangunan di sekitarnya.

Baca juga: Selain Al Mumtadz, Ini 10 Masjid Rancangan Ridwan Kamil

Apalagi bila petang menjelang, pendaran lampu membuat bangunan ini tampak hidup. Ditilik dari sisi arsitektur, masjid ini sangat unik karena memadukan gaya Timur Tengah dan Melayu. Hal tersebut tidak menjadi aneh mengingat arsitek pembangunan masjid adalah pedagang dari India.

”Konon dulu Raja Abdurrahman memanggil ahli khusus [arsitek] dari India, yang juga seorang saudagar untuk membantu membangun masjid ini. Namun, sayangnya sampai saat ini tak ada sejarah tertulis yang menyebutkan siapa ahli itu,” ujar juru kunci masjid yang bernama Hambali, dikutip dari laporan Bisnis Weekend edisi 5 Juli 2015.

Di dalam kawasan masjid terdapat beberapa bagian bagunan yakni bangunan utama, yang terletak di tengah, dan beberapa bagian pendukung.

Konsep penggunaan arsitektur Melayu terlihat jelas pada rumah Sotoh yang berupa bangunan bale-bale yang terletak di sebelah kanan dan kiri halaman masjid. Bangunan ini berbentuk pangggung dan dibuat tanpa dinding di keempat sisinya.

Fungsi dinding digantikan kayu pembatas yang ditatah dengan membentuk ornamen unik. Rumah Sotoh berfungsi sebagai ruang tamu sekaligus tempat rehat para pelancong yang baru saja menunaikan salat. Tidak mengherankan jika ruangan di dalamnya dibiarkan lapang tanpa perabot.

Selain rumah Sotoh, di halaman masjid terdapat dua bangunan lain yang lebih luas. Bentuk bangunan ini menyerupai rumah Gadang khas Melayu. Perbedaannya terdapat pada bagian bingkai jendela dan pintu yang dibentuk melengkung, meski daun pintu dan jendela tetap menyerupai gaya rumah Gadang yang khas dengan kisi-kisi.

Bangunan ini difungsikan sebagai tempat penyimpanan beduk, dapur umum, dan tempat tinggal marbot atau pengurus masjid. Beranjak pada bangunan utama masjid, bentuknya sepintas mirik dengan Taj Mahal di Agra, India.

Bangunan utama tempat  beribadah ini menerapkan arsitektur Timur Tengah yang identik dengan kubah, dan menara yang megah dan tinggi menjulang. Kubah yang menghias atap masjid berjumlah 13.

Sementara itu, empat menara yang dibangun di sudut masjid tingginya mencapai 15 meter, dengan bentuk atap yang runcing dan tiang penompang yang ramping. Keempat menara ini berbentuk bangunan klasik yang biasa ditemui di Turki pada masa Bizantium.

Dari rancangan interior nuansa arsitektur Mughal khas India begitu kuat mencocok mata. Ciri khas dilihat dari penggunaan bingkai gerbang pemisah antaruangan yang berbentuk lengkung dan berwarna senada dengan ornamen ukiran di langit-langit kubah.

Satu-satunya perabotan dalam interior ruangan yang bergaya nusantara adalah mimbar masjid. Mimbar yang terbuat dari kayu jati ini, menurut sejarah sengaja didatangkan oleh Raja Abdurrahman dari Jepara.

Baca juga: Megah, Arsitektur Masjid Raya Sumatra Barat Terbaik di Dunia

Arsitek Seto Parama Artho menyebutkan pengaruh gaya Timur Tengah pada bangunan masjid sangat lumrah pada masa lalu. Terlebih pulau Penyengat termasuk kawasan pintu masuk para pedagang dan saudagar asal Timur Tengah, di Malaka.

”Bangunan dengan gaya Timur Tengah memang sangat banyak tersebar di sana. Terlebih setelah banyak kerajaan yang bekerjasama bertukar komoditas, termasuk jasa perancang bangunan kala itu,” tuturnya.

Di sisi lain, berkembangnya ajaran Islam pada masa itu, juga menjadi penanda kejayaan arsitektur Timur Tengah dan Turki yang banyak digunakan di berbagai daerah, termasuk beberapa daerah Indonesia yang di dominasi oleh warga beragama Islam.

Editor: Fajar Sidik
SEBELUMNYA

Bunda, Yuk Jaga Tumbuh Kembang Anak pada Seribu Hari Pertama!

BERIKUTNYA

Kalap Makan Daging Kurban, Hati-hati Risiko Penyakit Ini Mengintai

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: