Ilustrasi petugas melakan CPR (Sumber gambar: Unsplash/Michel E.)

Demi Selamatkan Banyak Jiwa, Fasilitas Publik Disarankan Sedia Alat Pacu Jantung

30 June 2022   |   16:00 WIB

Yayasan Jantung Indonesia merekomendasikan berbagai tempat publik menyiapkan alat defibrillator eksternal otomatis (automated external deflibrilator/AED) untuk menangani kejadian darurat serangan henti jantung mendadak, sehingga akan lebih banyak nyawa yang dapat diselamatkan.

AED adalah suatu alat yang yang dapat dibawa dan ringan, portabel, yang bisa memberikan syok elektrikal melalui dada ke jantung. Secara umum, alat ini juga dikenal dengan sebutan alat pacu jantung. Dengan penggunaan AED ini, memungkinkan untuk segera mengembalikan irama jantung yang tidak normal menjadi normal sehingga denyut jantung muncul dan fungsi jantung sebagai pompa darah ke seluruh tubuh kembali.

Data Riset Kesehatan Dasar Indonesia menunjukkan, prevalensi penyakit jantung di Indonesia pada 2018 mencapai 1,5 persen. Hampir sebesar 80 persen kematian jantung mendadak di Indonesia terjadi di luar rumah sakit dengan tingkat kelangsungan hidup hanya 5 persen tanpa penanganan segera. Peluang korban untuk bertahan hidup berkurang sekitar 10 persen untuk setiap waktu berlalu setelah kolaps.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Radityo Prakoso, yang juga Ketua PP Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) mengatakan,  gaya hidup dan pola makan yang tidak sehat merupakan penyebab utama penyakit jantung koroner (PJK). “Sebanyak 50 persen pasien PJK berpotensi mengalami henti jantung mendadak atau kematian jantung mendadak,” katanya dalam siaran pers Yayasan Jantung Indonesia.

Dia menjelaskan henti jantung mendadak (sudden cardiac arrest/SCA) tidak sama dengan serangan jantung. Serangan jantung terjadi ketika aliran darah ke jantung terhambat, sedangkan henti jantung mendadak terjadi ketika jantung tidak berfungsi dan berhenti berdetak secara tidak terduga.

Baca jugaBanyak yang Tak Sadar, Waspadai Gejala Penyakit Jantung

Sementara orang tua atau pasien dengan komplikasi jantung yang ada memiliki risiko henti jantung yang lebih besar, hal itu juga dapat terjadi pada siapa saja yang tidak memiliki penyakit jantung yang diketahui. Jika tidak segera diobati, henti jantung mendadak ini dapat menyebabkan kematian.
 
Dengan akses awal ke AED, kemungkinan bertahan hidup pasien henti jantung mendadak dapat meningkat hingga 75?ngan resusitasi yang diberikan dalam tiga hingga lima menit pertama kolaps dengan resusitasi jantung paru (CPR), diikuti oleh gelombang kejut pertama yang diberikan oleh AED, membuat adanya perbedaan antara kehidupan dan kematian.

Kehadiran AED memungkinkan korban henti jantung untuk menerima perawatan dengan cepat. “AED yang dipasang di fasilitas umum seperti perkantoran, stasiun MRT, mal, pasar, ditambah dengan edukasi yang baik kepada masyarakat tentang cara membantu pasien henti jantung mendadak dengan dipasangnya AED di tempat umum, diharapkan dapat menurunkan angka kematian akibat henti jantung mendadak di Indonesia,” tambah Radityo.

 

Ilustrasi (Sumber gambar: Unsplash/Robina Weermeijer)

Ilustrasi (Sumber gambar: Unsplash/Robina Weermeijer)


Henti jantung mendadak dapat menyerang siapa saja, di mana saja, kapan saja, tanpa memandang usia, jenis kelamin, etnis, maupun kebugaran fisik. Peralatan AED harus ditempatkan di area publik dengan kepadatan tinggi seperti tempat olahraga, pusat perbelanjaan, bandara, pesawat terbang, tempat kerja, pusat konvensi, hotel, sekolah, kantor dokter, dan di tempat umum atau pribadi di mana banyak orang berkumpul atau di mana orang berada pada risiko tinggi mengalami insiden henti jantung mendadak.

Saat penempatan perangkat AED tambahan, agar diingat bahwa sasaran waktu respons dari korban ke AED dan kembali ke korban tidak boleh lebih dari tiga menit. Tantangan umum untuk menentukan waktu respons adalah membuat asumsi tentang hal-hal yang mungkin menunda proses penyelamatan. Hal-hal tersebut yaitu lift, tangga, bilik, pintu ruangan yang terkunci, perangkat mesin, atau akses masuk yang hanya memiliki satu arah dan lainnya.

Selain menyiapkan akses yang mudah untuk mencapai alat AED beserta protokolnya, juga diperlukan staf yang bisa mengoperasikan AED tersebut  sehingga dapat memberikan pertolongan pertama. Makin banyak orang dalam fasilitas yang terlatih dalam teknik ini, makin besar kemungkinan korban henti jantung mendadak akan bertahan.

“Kami sangat antusias mengkampanyekan cara praktis membantu pasien henti jantung mendadak yang bisa dilakukan oleh orang awam. Melalui kampanye 'Do More Than Wait', kami meminta organisasi dan pemangku kepentingan untuk melengkapi kotak P3K di tempat mereka dengan AED untuk menyelamatkan lebih banyak nyawa. AED juga bisa dipasang di kantor-kantor untuk memberikan perlindungan lebih bagi karyawannya,” kata Esti Nurjadin, Ketua Umum Yayasan Jantung Indonesia.


Editor: Roni Yunianto
 
SEBELUMNYA

Ini Tip Sukses Berkarier di Perusahaan Startup

BERIKUTNYA

Ragam Aktivitas pada Gelaran Jagad Sandya Legenda dari Apex Legends di M Bloc Space

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: