Museum perlu menjadi prioritas (sumber gambar ilustrasi: pexels/Una Laurencic)

Kenapa Museum Kurang Memiliki Daya Tarik untuk Wisata Edukatif?

25 June 2022   |   21:00 WIB

Tarif murah yang diberlakukan oleh sejumlah pengelola museum terhadap pengunjung untuk sebaiknya tidak menjadi alasan atas pengelolaan museum yang tidak maksimal. Museum sebagai tempat wisata edukatif serta pengenalan sejarah dan budaya dituntut untuk meningkatkan pelayanan agar keberadannya memiliki daya tarik. 

Kurator Mikke Susanto menilai saat ini tarif masuk yang sangat murah kerap menjadi kambing hitam atau tudingan atas pengelolaan museum yang tidak maksimal.  Menurutnya, tarif ideal untuk masuk museum adalah gratis. “Namun pelayanannya internasional,” katanya.

Dia menjelaskan tarif tiket masuk museum sebagai ruang rekreasi edukasi, ujarnya, sangat bergantung pada tujuan dan kualitas pelayanan. Pengunjung harus merasakan dampak pelayanan jika standarnya sudah di level nasional atau internasional.

Di Indonesia, ujarnya, penetapan tarif masuk suatu museum tidak hanya menyangkut profesionalisme dan standar internasional saja. Penetapan tarif museum di dalam negeri, ujarnya, juga terkait dengan kebijakan negara yang mengatakan bahwa museum tidak boleh menarik keuntungan.

Di satu sisi museum tidak boleh menarik keuntungan. Di sisi lain, ujarnya, anggaran yang diberikan oleh negara ke museum-museum kerap tidak mencukupi untuk biaya operasional. Dengan kondisi itu, lanjutnya, sulit untuk menetapkan tarif ideal masuk ke dalam museum.

Meskipun begitu, tarif masuk sebesar Rp5.000 yang ditetapkan untuk masuk ke dalam museum sangat murah jika berbicara standar internasional.

Dengan besaran tarif tersebut, ujarnya, pengunjung tidak boleh protes seandainya ada beberapa hal seperti kondisi ruangan yang kurang dingin, kotor, koleksi rusak, display yang jelek, dan sebagainya.

Secara teknis, perawatan atau konservasi koleksi adalah bidang yang cukup sulit dan memerlukan biaya yang tidak murah. Jadi, perawatan preventif akan sangat efektif jika dibandingkan dengan perawatan kuratif, yakni saat koleksi sudah terlanjur rusak.

Setiap museum, ujarnya, perlu memiliki tim konservasi sendiri jika berbicara ideal dalam merawat atau melakukan konservasi koleksi. Namun, Indonesia sangat kekurangan tenaga untuk melakukan konservasi. Tidak hanya itu, lanjutnya, biaya untuk melakukan konservasi juga terkadang menjadi kendala bagi museum.

 “Koleksi setiap museum tentu [dan umumnya] sangat berharga,” katanya.

Meskipun begitu, ujarnya, menaikkan tarif masuk museum bukan solusi atas pelayanan yang ada di dalam museum. Menurutnya, langkah menaikkan tarif masuk museum adalah langkah yang mudah dilakukan.

Namun, yang perlu menjadi perhatian museum adalah imbas setelah kenaikan yang harus dipertanggungjawabkan secara benar – termasuk soal keuntungan yang masih menjadi perdebatan dalam ranah museum.

Idealnya, ujarnya, adalah negara melalui beberapa kementerian/lembaga, seperti Kementerian Pendidikan, kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, dan pemerintah daerah memberdayakan museum sebagai prioritas terlebih dahulu.

Kemauan negara, ujarnya, untuk membantu museum secara total ditambah dukungan sumber daya manusia dengan kualitas tinggi merupakan langkah penting yang perlu dilakukan dalam membuat layanan museum menjadi maksimal.

Selain itu, ujarnya, pemerintah juga perlu menempatkan individu-individu dengan kualitas tinggi untuk mengelola museum. Selama ini, lanjutnya, museum menjadi tempat “buangan” individu atau hal-hal yang dianggap kuno.

“Terkadang ada individu pengelola museum sering menyerah karena banyak hal yang tak mampu dilakukan dengan alasan yang macam-macam,” katanya.

Editor: Fajar Sidik 
SEBELUMNYA

Kopling Tidak Berfungsi? Yuk Cek Penyebabnya

BERIKUTNYA

Cyberpunk 2077 Bakal Hadir dalam Bentuk Board Game, Begini Cara Mainnya!

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: