Menu sarapan anak. (Freepik)

Penuhi Gizi Anak saat Sarapan Agar Bebas dari Lethargy Syndrome

24 June 2022   |   08:23 WIB

Sebagian besar anak Indonesia belum memperoleh gizi yang cukup saat sarapan. Padahal sarapan sangat penting bagi anak-anak, terutama supaya anak memiliki energi yang cukup untuk beraktivitas dan belajar serta mengurangi risiko lethargy syndrome.

Ahli gizi Victoria Djajadi mengungkapkan lethargy syndrome merupakan suatu keadaan ketika anak-anak merasa dirinya tidak bertenaga, lemas, lesu, dan merasa mengantuk atau letih.

Lethargy syndrome ini bisa memicu rendahnya konsentrasi, anak menjadi lamban dalam berpikir dan bergerak serta menimbulkan suasana perasaan yang sering berubah-ubah atau mood swings.

Dalam kondisi seperti itu, anak tidak siap untuk belajar. Pelajaran sekolah pun tidak akan bisa diserap dengan baik oleh anak. Guru maupun teman sekolahnya akan memberikan cap pemalas kepada si anak tersebut.

Yang lebih mengkhawatirkan lethargy syndrome bisa membuat anak ketinggalan dalam kegiatan belajar. Untuk itu, sarapan yang bernutrisi akan  membuat anak-anak terhindar dari lethargy syndrome karena saat malam hari atau waktu tidur, setiap orang tergolong sedang berpuasa.

Saat itu, proses metabolisme tengah beristirahat dan saat terbangun aktivitas metabolisme menjadi tinggi, sehingga tubuh mengharapkan adanya asupan gizi yang sesuai melalui makanan. “Kalau enggak sarapan, tubuh tidak memperoleh asupan yang diinginkan,” katanya. 

Di Indonesia, dua per tiga anak- anak tidak memperoleh nutrisi yang  cukup saat sarapan. Padahal anak- anak harus pergi ke sekolah dan  seharusnya bisa menoreh prestasi di sana. Dengan adanya lethargy syndrome, anak-anak akan sulit untuk meraih prestasi secara maksimal.

Sarapan idealnya mengandung karbohidrat, protein, dan sumber serat. Sumber karbohidrat, misalnya, nasi atau roti sedangkan protein bisa diperoleh dari susu dan keju.

Sementara itu, sumber serat paling penting berasal dari sayur-sayuran dan buah-buahan. Kombinasi semacam itu akan  menghasilkan makanan yang low glycaemic index dan tinggi protein.

Victoria menjelaskan glycaemic index merupakan angka yang memperlihatkan seberapa cepat makanan diolah menjadi gula darah. Makanan yang memiliki glycaemic index rendah membuat seseorang tidak mudah lapar. Sarapan dilakukan setelah bangun tidur, sebelum memulai aktivitas.

Sarapan bisa menyuplai kandungan energi mencapai 20-25 persen dari seluruh energi yang dibutuhkan setiap hari. “Sarapan bisa dikatakan sebagai makanan paling penting kita untuk sepanjang hari,” katanya.

Catatan redaksi: artikel diambil dari Bisnis Indonesia Minggu edisi 31 Mei 2015.

Editor: Fajar Sidik
SEBELUMNYA

Yuk Usir Penyakit Kronis dengan Rajin Bergerak!

BERIKUTNYA

Waspada 5 Risiko Beli Mobil Bekas Berkilometer Tinggi

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: