Ilustrasi bentuk virus corona. (Sumber gambar : Unsplash/Fusion Medical Animation)

Terdeteksi di Indonesia, Ini Gejala Subvarian Omicron BA.4 dan BA.5

14 June 2022   |   08:22 WIB

Subvarian baru Omicron BA.4 dan BA.5 menyebar di sejumlah negara, termasuk Indonesia. Mutasi virus corona ini bahkan menyebabkan gelombang kelima Covid-19 di Afrika Selatan. Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa (ECDC) telah menetapkan varian Omicron BA.4 dan BA.5 sebagai variant of concern (VOC) pada 12 Mei 2022. 

Di Indonesia, kasus ini pertama kali ditemukan pada 6 Juni 2022. Kementerian Kesehatan menyebut ada empat kasus yang dilaporkan, terdiri dari satu orang WNI positif BA.4 dengan kondisi klinis tidak bergejala serta vaksinasi sudah dua kali.

Sisanya, tiga orang kasus positif BA.5. Mereka merupakan pelaku perjalanan luar negeri delegasi pertemuan the Global Platform for Disaster Risk Reduction di Bali pada 23 sampai 28 Mei.

(Baca juga: Cek Fakta-Fakta Subvarian Omicron BA.4 & BA.5 yang Mulai Terdeteksi di Indonesia)

Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prof. Zubairi Djoerban mengatakan walaupun tidak jauh berbeda dengan varian Omicron, dia meminta masyarakat tetap waspada. Faktanya, kasus subvarian Omicron ini meningkat dalam beberapa hari terakhir. 

"Betul juga kita harus pede karena pernah antisipasi gelombang Omicron dengan baik. Tapi kita tetap jangan jemawa. Sebab ada tambahan 519 kasus dan 9 orang meninggal per hari ini," tegas Zubairi dikutip dari akun Twitter pribadinya, Selasa (14/6/2022). 

Bicara soal gejala, Juru Bicara Kementerian Kesehatan dr. Mohammad Syahril menyampaikan kondisi klinis satu orang yang pertama kali terdeteksi Omicron BA.4 dan BA.5 dan bergejala, mengeluhkan rasa sakit tenggorokan dan badan pegal. Mereka rata-rata sudah vaksin Booster bahkan sampai ada yang 4 kali divaksin Covid-19.

Oleh karena BA.4 dan BA.5 tidak jauh berbeda dari Omicron, dr. Meera Chand dari Badan Keamanan Kesehatan Inggris (UKHSA) menuturkan gejala yang bisa timbul seperti suhu tinggi, batuk terus menerus, hilang atau berubahnya indra penciuman atau perasa. 

Kemudian sesak napas, merasa lelah atau lelah, badan pegal, sakit kepala, sakit tenggorokan, hidung tersumbat atau berair, kehilangan nafsu makan, hingga diare. 

Sementara itu, BA.4 dan BA.5 diketahui membawa mutasi L452R , yang sebelumnya juga terdeteksi pada varian Delta. Mutasi ini membuat virus menular lebih cepat dengan meningkatkan kemampuan virus untuk menempel pada sel manusia. Mutasi tersebut turut membuat subvarian Omicron ini dapat menghindari sel-sel kekebalan. 

BA.4 dan BA. 5 juga memiliki perubahan genetik, yang disebut mutasi F486V , di dekat tempat protein lonjakan mereka mengikat sel manusia. Ini juga dapat membantu mereka menghindari respon imun kita.

Berbeda dengan varian BA.2, sebagian besar urutan BA.4 dan BA.5 juga mengandung perubahan genetik yang mempengaruhi pembacaan tes PCR rutin tertentu, yang mengarah ke fenomena yang disebut putusnya gen S. Ini memberikan cara yang cepat – meskipun tidak konklusif – pelacakan sub-varian ini di negara-negara di mana BA.2 dominan.

Editor: Nirmala Aninda
SEBELUMNYA

Dijamin Enak! Yuk Coba Resep Nasi Goreng Rendang ala Chef Chepi

BERIKUTNYA

5 Manfaat Madu Manuka khas Selandia Baru

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: