Desy Febrianti saat ditemui di Art:1, Jakarta. (Sumber gambar: Hypeabis.id/Luke Andaresta)

Desy Febrianti, Jadikan Seni Lukis Abstrak sebagai Ruang Nyaman Berekspresi

23 May 2022   |   13:23 WIB
Image
Luke Andaresta Jurnalis Hypeabis.id

Sebagai sebuah karya seni, lukisan juga kerap menjadi medium bagi seniman untuk menunjukkan jati diri dan eksistensinya. Lewat kanvas dan goresan cat, mereka memvisualisasikan apa yang ada di dalam pikiran secara artistik. Begitupun pada Desy Febrianti, sosok seniman muda yang mencuri perhatian lewat karya-karyanya.

Lahir di Purbalingga, Jawa Tengah, Desy memutuskan pindah ke Yogyakarta sebagai mahasiswa aktif Institut Seni Indonesia (ISI). Karya-karyanya banyak memvisualisasikan gerak dan alur, yang merupakan ungkapan dari alur hidup yang berjalan antara kepastian dan ketidakpastian.

Visual abstrak dan proses melukisnya mewakili kehidupan realita yang dia jalani apa adanya. Dalam berkarya, dia banyak terinspirasi dari kegelisahan perempuan dalam menjalani hidup. Dia mengambil latar belakang psikologi perempuan dalam mencari eksistensi dirinya.

Baca juga: Seniman Desy Febrianti Gelar Pameran Sign of Soul di Art:1 Jakarta, Hadirkan 13 Karya Abstrak


Menekuni Seni Lukis Abstrak

Pilihan Desy untuk menekuni seni lukis abstrak sendiri telah melalui perjalanan yang cukup panjang. Sebelumnya, dia telah mencoba untuk melukis dengan beberapa gaya seperti misalnya realis dan surealis. Namun, menurutnya, hal itu tidak memberikan kenyamanan dalam proses kreatifnya.

“Ternyata kenyamanan untuk melukis itu sangat penting. Pemikiran-pemikiran saya itu sulit untuk diwujudkan dalam bentuk-bentuk yang objektif, juga terlalu rumit dan banyak,” katanya saat ditemui Hypeabis.id di Jakarta, baru-baru ini.
 

v

Beberapa koleksi lukisan dalam pameran Tunggal Sign of Soul oleh Desy Febrianti di Art:1, Jakarta (Sumber gambar: Hypeabis.id/Luke Andaresta)

Berangkat dari hal tersebut, akhirnya Desy memutuskan untuk menjadikan gaya melukis abstrak sebagai medium yang tepat untuk memvisualisasikan pemikiran atau gagasannya yang personal serta penuh ambiguitas.

Sebagai seniman, Desy juga mengaku bahwa dia lebih tertarik dengan hal-hal yang mengalir dan tidak terencana. Hal itu pun turut mempengaruhi proses kreatifnya dalam membuat suatu karya.

“Dalam waktu tertentu, saya benar-benar melukis terus di depan kanvas, bereksplorasi dan sebagainya. Kemudian, saya memutuskan bahwa lukisan ini sudah jadi dan saya setop. Hasilnya memuaskan,” ungkapnya.


Pengaruh Studi Seni Rupa

Sebagai seniman yang juga sedang menempuh pendidikan seni di salah satu kampus, Desy mengatakan bahwa peran studi yang didapatkannya cukup berpengaruh pada proses kreatifnya. 

Teori-teori yang dipelajari, menurut Desy, membantu dirinya menjelaskan karya yang ingin dibuatnya. Begitupun studi visual yang didapatkannya, membantu dirinya untuk melatih kepekaan sebagai seorang seniman.

“Jadi di awal kenapa realis yang terus dilatih. Kita melihat apa yang kita tangkap di mata, kemudian dituangkan ke dalam kanvas. Itu melatih kepekaan, kedetailan, sehingga pada saat saya memilih abstrak, ada hal yang memang mungkin berbeda dari orang lain. Jadi ternyata kita lebih detail cara berpikirnya, lebih kritis juga. Melihat sesuatu juga dengan banyak sudut pandang,” jelasnya.
 

Ruang kerja kreatif Desy Febrianti (Sumber gambar: Desy Febrianti/Instagram)

Ruang kerja kreatif Desy Febrianti (Sumber gambar: Desy Febrianti/Instagram)

Dalam proses kreatifnya, Desy mengaku banyak mendapat inspirasi dari beberapa seniman luar negeri seperti Lisa Morgan, Amy Wright, Flora Yukhnovich, Ian Rayer Smith dan Melanie Daniel. 

Menurut Desy, beberapa seniman tersebut menjadikan seni lukis sebagai proses terapi penyembuhan. “Awal proses berkarya mereka itu hampir sama. Jadi melihat alam dulu, merasakan dan memiliki pengalaman dengan alam, kemudian mengekspresikannya ke dalam lukisan. Saya juga sama,” imbuhnya.

Sementara itu, saat ini, Desy tengah menggelar pameran tunggal perdananya bertajuk Sign of Soul di Art:1, Jakarta. Dalam pameran ini, ada 13 karya abstrak dengan beragam corak, goresan dan warna. Lewat Sign of Soul, Desy mencoba menampilkan representasi karakter dirinya yang khas yang tertuang dalam setiap karyanya.

Secara visual, karya-karya Desy terinspirasi dari bentuk-bentuk dalam tubuh yang selalu memiliki alur dan bercabang. Misalnya neuron dalam otak, saraf, otot, bahkan gerak tubuh lentur dan cukup fleksibel.

Sebelumnya, karya-karyanya juga telah dipamerkan dalam berbagai kesempatan pameran seni mulai dari 2017 seperti Pameran AksiArtsy #2 di ISI Yogyakarta, Pameran Guyub Rupa #8 di UNNES Semarang, Pameran Magelang Youth Art Fair #2 di Magelang, Pameran Em.Brace Jogja Art Weeks Special Project 2021 dan Pameran Jogja Affordable Art di Jogja Gallery.

Editor: Nirmala Aninda

SEBELUMNYA

Jadi Box Office di Korea Selatan, Film The Roundup Raup Rp309 Miliar

BERIKUTNYA

Hipertensi Bisa Sebabkan Kerusakan Organ Tubuh, Stroke hingga Gagal Ginjal

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: