Game lokal Dreadout (Sumber gambar: Steam/Digital Happiness)

Ternyata, Ini Alasan Game Lokal Belum Jadi Raja di Negeri Sendiri 

30 April 2022   |   16:30 WIB

Wakil Presiden Asosiasi Game Indonesia (AGI) Adam Ardisasmita mengatakan bahwa potensi pasar gim di dalam negeri sangat besar. Berdasarkan laporan Newzoo, nilainya mencapai angka hampir US$2 miliar pada tahun lalu. Hanya saja, dari jumlah tersebut, kurang dari 2 persen yang menjadi milik pemain lokal dan sisanya lari ke pemain luar negeri. 

Menurut Adam, ketimpangan besar yang terjadi antara gim lokal dan luar negeri berakar pada tertinggalnya garis mulai perjalanan industri di dalam negeri. Dia menjabarkan, Amerika Serikat telah memulai pengembangan gim sejak 1970-an, Jepang dan Korea Selatan mulai dari 1980-an, sementara Indonesia baru berjalan sekitar awal 2000-an dengan pemain kecil. 

Dia melanjutkan hal ini berdampak ada tiga aspek penting industri gim nasional. Pertama, talenta yang masih sangat terbatas, baik dalam hal ketertarikan maupun fasilitas bagi mereka yang berminat. Oleh sebab itu, AGI terus mendorong peningkatan kuantitas dan kualitas insan gim lokal. 

Kedua, pendanaan bisnis atau operasional. Adam menilai bahwa iklim investasi industri gim di dalam negeri juga masih sangat terbatas. Tak ayal bila pengembang atau studio gim dalam negeri banyak mencari pendanaan asing untuk mendanai proyek mereka. 

Di satu sisi, katanya, ini merupakan bentuk upaya yang sah-sah saja untuk dilakukan dan positif. Hanya saja, ada barrier to entry bagi pengembang gim lokal terhadap akses pendanaan yang lebih luas, khususnya bagi para pendatang baru. 

Ketiga, pasar yang kompetitif. Adam, membagi pasar gim dalam negeri ke tiga bagian besar yakni perangkat seluler (mobile), komputer, dan konsol. Dia menyampaikan bahwa pengguna gim Indonesia mayoritas ditempati oleh para pemain gim seluler. 

Pasar ini sudah sangat kompetitif dengan masuknya raksasa gim luar negeri yang mendominasi pasar. Selain itu, karakteristik pasar seluler juga lebih setia pada satu gim, sehingga pendekatan yang dilakukan adalah pengembangan dan promosi besar-besaran, yang sulit dilakukan pemain lokal. 

“Sulit untuk berkompetisi dengan perusahaan [luar negeri] yang punya skala bujet pengembangan sampai pemasaran sangat tinggi, sementara modal dan talenta kita masih belum ada di level yang sama. Ini yang sulit untuk tembus top 100 mobile game,” katanya kepada Hypeabis.id. 

Oleh sebab itu, Adam menerangkan, banyak gim developer lokal yang menargetkan pasar global dengan fokus utama di pasar konsol dan komputer. Mereka menyadari situasi yang ada, dan karakteristik industri yang memang tidak mengenal batas geografis, sehingga menyesuaikan sasaran adalah upaya yang paling mungkin dilakukan. 

Kendati begitu, dalam konteks meningkatkan pangsa pasar gim lokal di negeri sendiri, AGI juga terus melakukan komunikasi dengan pemerintah dan pihak lain terkait. Menurut Adam, sejak akhir tahun lalu, seluruh stakeholder gim telah melakukan pembahasan mengenai hal ini. 

Selain itu, Adam berharap pemerintah segera mengeluarkan aturan terkait kebijakan fiskal untuk mendorong operasional para pengembang gim lokal. Ini bisa mencontoh beberapa praktik yang telah sukses dilakukan di luar negeri. 

Misalnya Singapura dan Malaysia yang mendorong raksasa gim untuk membuat studio di negaranya, dengan pemberian fasilitas bebas pajak dan akses pendanaan. Ini dinilai akan mampu mendorong pengembangan sumber daya lokal dan transfer teknologi yang cepat. 

Bisa juga mencontoh Jerman yang memiliki program Matching Fund, di mana pengembang gim akan mencari investor yang setengah dari total investasinya bisa didanai oleh pemerintah. “Ini akan menstimulasi investor untuk lebih interest ke pengembang gim lokal dengan adanya backup dari pemerintah,” ujarnya


Editor: Gita Carla
SEBELUMNYA

3 Film Indonesia Mulai Tayang di Bioskop, Pas Ditonton bareng Keluarga

BERIKUTNYA

Bahaya! Hindari Tidur di Dalam Mobil dengan AC Menyala

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: