Ilustrasi (Dok. Freepik)

Duh, Kanker Serviks Jadi Penyebab Kematian Tertinggi Kedua pada Perempuan

07 February 2022   |   13:36 WIB

Kanker serviks menjadi penyebab kematian tertinggi kedua pada perempuan di Indonesia. Menurut data GLOBOCAN 2020, terdapat 36.633 kasus kanker serviks di Indonesia atau setara dengan 17,2 persen dari total kejadian kanker di Indonesia.

Secara medis, diketahui bahwa Human Papillomavirus (HPV) adalah penyebab utama kanker serviks yang juga disebut kanker leher rahim itu. Oleh karena itu, kanker serviks dapat dicegah melalui vaksinasi HPV. 

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, menjelaskan, tingginya kematian akibat kanker salah satunya disebabkan oleh deteksi dini yang masih rendah. Cakupan screening kanker serviks di Indonesia baru sekitar 8,29 persen.

"Kejadian dan kematian kanker serviks dapat dicegah dengan beberapa cara, di antaranya dengan melakukan imunisasi dengan human papillomavirus (HPV) dan deteksi dini," ujarnya dalam webinar "Hari Kanker Sedunia 2022 Ayo Cegah Kanker Serviks dengan Vaksinasi HPV dan Deteksi Dini Sekarang Juga, baru-baru ini.

Berdasarkan rekomendasi dari Komite Penasehat Ahli Imunisasi Nasional (Indonesian Technical Advisory Group on Immunization/ITAGI) pada 2016, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan telah melakukan Program Demonstrasi imunisasi HPV sejak 2016.

Pada 2020 hingga tahun 2024 akan dilaksanakan demonstrasi pemberian imunisasi HPV di sembilan provinsi percontohan sebagai wujud konkret dukungan Indonesia untuk percepatan eliminasi kanker leher rahim pada 2030.

(Baca juga: Vaksin HPV Efektif Mencegah Kanker Serviks)
 

Ilustrasi (Dok. Freepik)

Ilustrasi (Dok. Freepik)

Ketua Dewan Penasihat Himpunan Onkologi Ginekologi Indonesia, Prof Dr dr Andrijono SpOG(K)-Onk, mengatakan bahwa kanker serviks adalah suatu kanker yang sudah diketahui segala aspeknya. Eliminasi kanker serviks insidennya kurang dari empat kasus per 100 ribu per tahun.

"Eliminasi kanker serviks diharapkan dapat dicapai dengan cakupan vaksinasi 90 persen, screening 70 persen, dan terapi 90 persen," ujar Prof Andrijono.

Di Indonesia, setiap hari ada 89 pasien kanker serviks. Sementara itu, angka kematian karena kanker serviks mencapai 57 orang. Bahkan, data di RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta menunjukkan 94 persen pasien kanker serviks meninggal dalam waktu dua tahun.

Prof Andirjono menuturkan, vaksinasi perlu diberikan sebelum terjadi infeksi HPV. Vaksinasi tipe 16 dan 18 yang perlu diberikan karena tipe virus inilah yang paling banyak dijumpai dari kasus kanker serviks.

"Dari penelitian yang kami lakukan di Jakarta, Bali, Tasikmalaya, Papua terhadap 20 ribu sampel, paling banyak tipe 16, 18, dan 52. Sudah terjangkau 70 sampai 80 persen dengan tipe 16 dan 18," ujarnya.

Selain dengan vaksin HPV dan screening, pencegahan kanker serviks pada perempuan yang telah menikah atau aktif secara seksual bisa dilakukan dengan IVA, papsmear, dan tes DNA HPV. Namun, data screening menunjukkan cakupannya kurang dari 10 persen.

"Sangat menyedihkan dan ironis sekali kalau kita tidak bisa mencegah kanker serviks, sebab itu akan terjadi suatu problem besar karena kanker serviks banyak menyebakan kematian," imbuh Prof Andrijono.

Oleh karena itu, pencegahan paling baik adalah pencegahan primer dengan vaksinasi. Pencegahan ini diharapkan bisa mencegah virus HPV tipe 16 dan 18.

Adapun, screening sendiri bertujuan untuk menemukan lesi pra kanker sehingga bisa diterapi dengan baik. Terapi pada lesi pra kanker memberikan hasil mendekati 100 persen, hanya kelemahannya terdapat morbiditas.

Prof Andrijono menambahkan vaksinasi mempunyai efektivitas yang sangat baik. Pada penelitian terhadap perempuan usia 16 sampai 23 tahun, katanya, efektivitasnya mencapai 100 persen. Hingga 14 tahun, vaksin ini tetap memberikan antibodi yang cukup untuk cegah kanker serviks.

Pada pria, vaksinasi juga bisa mencegah kanker anus begitupun pada perempuan. Bahkan, menurut penelitian, selain kanker serviks, vaksinasi HPV juga mencegah kanker anus dan kanker orofaring.

"Disuntik vaksinasi HPV mencegah tiga kanker pada pria, yakni mencegah kanker anus, kanker orofaring, dan kanker penis," kata Prof Andrijono.

Program yang dicanangkan pemerintah adalah vaksiansi anak sekolah. Untuk suntikan pertama diberikan pada anak SD kelas lima, sedangkan suntikan kedua diberikan pada kelas enam. Adapun, rentang usia anak yang akan menjadi sasaran vaksin HPV sekitar 10 dan 11 tahun.

Menurut Prof Andrijono, selain mudah dijangkau karena anak-anak masih sekolah, pemberian vaksin HPV saat usia tersebut dalam kondisi imunogenisitas yang sangat baik, sehingga antibodi akan bertahan cukup lama.

"Meski sudah mencapai 10 tahun, antibodi itu tetap tidak turun sehingga tidak memerlukan booster," ujar Prof Andrijono.


Editor: Avicenna
SEBELUMNYA

Cek Nih, 5 Tips Meningkatkan Kinerja Smartphone Android 

BERIKUTNYA

Tepati Janji, BIGBANG Akan Rilis Album pada Musim Semi

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: