Deretan bus AKAP sedang beristirahat di RM Umega, Gunung Medan, Kabupaten Dharmasraya, Sumatra Barat (dok: Hypeabis/Rezha Hadyan)

Umega, Rumah Makan Legendaris di Jalur Lintas Sumatra

04 June 2021   |   17:21 WIB
Image
Rezha Hadyan Hypeabis.id

Rumah makan yang berdiri pinggir jalur Lintas Sumatra di Gunung Medan, Kabupaten Dharmasraya, Sumatra Barat ini punya tempat tersendiri di hati orang Minang, utamanya para perantau yang menuju ke Jawa lewat jalan darat.

Salah satunya adalah Afrizon, pria yang bekerja sebagai pedagang pakaian di Pasar Tanah Abang, Jakarta. Dia mengaku selalu menyempatkan diri untuk mampir ke rumah makan tersebut ketika pulang ke kampung halamannya di Payakumbuh, Sumatra Barat atau kembali ke Jakarta apabila menggunakan kendaraan pribadi bersama keluarga.

Selain untuk beristirahat atau mengisi perut yang lapar, dia mengaku punya kenangan tersendiri dengan rumah makan tersebut.
 
Pintu masuk RM Umega (dok: Hypeabis/Rezha Hadyan)


“Makanannya enak dan murah untuk ukuran [harga] makanan di jalan, bersih, toiletnya juga. Saya juga punya kenangan dengan rumah makan ini. Ketika pertama kali merantau ke Jakarta 25 tahun lalu bus Gumarang Jaya yang saya naiki mampir makan di sini, ingin saja mengulang kenangan masa itu. Teman-teman perantau lain sepertinya juga sama,” tuturnya ketika ditemui di RM. Umega.
 
Toilet dan tempat wudhu RM Umega yang bersih dan tak pernah berubah sejak puluhan tahun lalu (dok: Hypeabis/Rezha Hadyan)





Menurut Afrizon, hal yang membuat RM Umega punya kesan tersendiri bagi dirinya adalah keberadaan pengamen saluang atau alat musik tradisional Minang di teras rumah makan.

Alunan saluang yang begitu merdu seakan menyambut para perantau yang akan kembali ke kampung halamannya di Ranah Minang. Sebaliknya, bagi para perantau yang akan kembali ke tanah rantauan, alunan saluang seakan-akan menjadi salam perpisahan di ujung Bumi Minangkabau.

Ya, memang rumah makan yang didirikan oleh salah satu pegawai kejaksaan di Dharmasraya, Zubir Sutan Bagindo pada medio 1970 itu lokasinya tak jauh dari perbatasan antara Sumbar dan Jambi. Nama Umega sendiri merupakan sebuah akronim dari “Usaha Menambah Gaji”.

Siapa sangka, usaha menambah gaji yang dilakukan oleh Zubir Sutan Bagindo itu berkembang pesat. Dari hanya sekadar warung makan, berkembang menjadi sebuah komplek rest area atau tempat istirahat yang terdiri dari rumah makan, toko oleh-oleh, ATM, mushola, hotel, dan SPBU.
 
Penjual oleh-oleh khas Minang di RM Umega (dok: Hypeabis/Rezha Hadyan)


Untuk menu makanan yang tersedia di RM Umega tak jauh berbeda dengan rumah makan Padang atau Ampera Minang pada umumnya. Tersedia menu seperti rendang, ayam gulai, ayam bakar, gulai cancang, telur balado, dan lain-lain lengkap dengan sayur pucuk ubi (daun singkong), gulai cubadak (nangka), serta sambal hijau.

Menu-menu tersebut bisa diambil sendiri secara prasmanan atau dihidangkan di meja seperti lazimnya di rumah makan Padang atau Ampera Minang. Tersedia juga menu lain seperti soto, nasi goreng, atau mie goreng bagi kalian yang enggan makan masakan khas Minang yang kaya akan santan.

Harganya mulai dari belasan ribu rupiah hingga Rp28.000 untuk satu piring nasi beserta sayur dan lauk lengkap. Tentunya dengan rasa yang bisa dikatakan cukup lamak atau enak dalam bahasa Minang harga tersebut masih masuk di akal, mengingat lokasi rumah makan itu berada di jalur Lintas Sumatra yang jauh dari keramaian.
 
Deretan menu prasmanan di RM Umega (dok: Rezha Hadyan)





Kebangkitan kembali bus antarkota antarprovinsi (AKAP) jurusan Sumbar-Jabodetabek-Bandung sejak dua tahun belakangan kembali menghadirkan suasana yang sama seperti dua hingga tiga dekade lalu. Kala itu, bus AKAP sedang berada di puncak kejayaannya, masing-masing perusahaan bisa memberangkatkan lebih dari empat armadanya dari Jabodetabek-Bandung atau Sumbar.

Namun, ada hal yang hilang di RM Umega saat ini, yaitu raut muka lelah dari penumpang bus ekonomi non-AC yang turun untuk beristirahat di rumah makan tersebut. Demikian halnya dengan kejumawaan penumpang bus super eksekutif yang turun dari singgasananya di atas bus.

Bus ekonomi non-AC kini sudah hilang seiring dengan menurunnya permintaan masyarakat terhadap kelas tersebut. Adapun, untuk bus super eksekutif yang dahulu dilayani oleh ANS (Aman, Nyaman, Sampai Tujuan) kini tak lagi mampir ke RM Umega lantaran sudah memiliki rumah makan tersendiri di Kiliranjao, tak jauh dari Dharmasraya.

Editor: Fajar Sidik

SEBELUMNYA

Unik, Pesan Kopi Dengan Teknologi Nirsentuh Pertama di Indonesia

BERIKUTNYA

Waspadai Ini, di Balik Minat Anak Mengakses Internet

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: