Menyelami Keseruan Budaya Brunch di Tanah Air

31 October 2025   |   17:30 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id
Menyelami Keseruan Budaya Brunch di Tanah Air

The Nineteen Jakarta (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)


Budaya brunch kini mulai menggeliat di Indonesia, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta. Kafe dan restoran kini tak hanya menawarkan menu standar saat akhir pekan, tetapi mulai menciptakan set khusus untuk mengakomodir tren tersebut.

Brunch merupakan singkatan dari breakfast dan lunch. Istilah ini konon diciptakan oleh penulis Guy Beringer melalui rilisan esainya berjudul Brunch: A Plea pada 1895. Dalam tulisannya, dia menganjurkan orang-orang untuk menyantap makanan pada hari minggu yang lebih santai.

Konsep brunch lahir dari ide membiarkan orang tidur lebih lama pada hari Minggu, setelah merayakan pesta yang menyenangkan pada Sabtu malamnya. Setelah bangun, mereka bisa menikmati hidangan yang menggabungkan sarapan dan makan siang, karena sarapan terasa terlalu pagi, sementara makan siang memiliki aturan waktu yang lebih kaku.

Baca Juga: Chef Martin Praja Ungkap Trik Sederhana Mengolah Dada Ayam Anti Kering

Brunch kemudian berkembang menjadi solusi bagi mereka yang ingin menikmati pagi tanpa terburu-buru, lengkap dengan hidangan hangat, roti, telur, dan minuman seperti teh atau kopi. Budaya ini rupanya banyak disukai orang. Brunch kemudian menyebar ke Amerika Serikat pada awal abad ke-20 dan mengalami evolusi menjadi lebih modern. Di sana, brunch identik dengan menu yang lebih beragam.

 

 

 

 

The Nineteen Jakarta (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)

The Nineteen Jakarta (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)

 


Tidak hanya soal makanan, budaya brunch di Amerika menekankan interaksi sosial, suasana santai, dan estetika penyajian makanan yang lebih menarik. Ciri khas brunch yang membuatnya unik adalah fleksibilitas waktu dan ragam hidangannya. Menu brunch dapat menyesuaikan selera pagi atau siang, termasuk kombinasi hidangan manis dan gurih, sarapan sehat, atau hidangan berat. Minuman khas brunch pun bervariasi, mulai dari kopi, teh, jus segar, hingga koktail ringan.

Seiring tren global ini, brunch mulai menembus pasar Indonesia. Popularitas brunch di Indonesia juga dipengaruhi oleh gaya hidup urban, media sosial, dan minat masyarakat akan pengalaman bersantap yang berbeda dari rutinitas sarapan atau makan siang biasa.

General Manager The Nineteen Jakarta, Rahmat Ismail, menyebut bahwa budaya brunch kini semakin populer di Indonesia, karena banyak orang tidak ingin menghabiskan akhir pekan begitu saja. Fenomena ini menunjukkan bagaimana masyarakat mulai mencari cara menikmati waktu santai sambil bersantap.

Sebenarnya, pola brunch di Indonesia tidak jauh berbeda dengan kebiasaan di luar negeri. Bedanya, di negara lain brunch kerap dilakukan setelah pesta semalam suntuk pada hari Sabtu, sehingga mereka butuh waktu bersantai pada hari Minggunya.

Sementara di Indonesia, orang mungkin tetap bangun pagi, tetapi mereka ibadah ke Gereja. Sepulang ibadah, katanya, banyak yang ingin melanjutkan waktu santai tanpa terburu-buru pulang, sehingga membutuhkan momen makan yang lebih fleksibel.

Selain itu, di Jakarta juga sedang ramai berolahraga saat car free day. Namun, selepas itu, mereka tak ingin buru-buru pulang ke rumah. Mereka membutuhkan aktivitas lebih untuk mengisi akhir pekan dengan santai, tetapi berkesan.  Alasan inilah yang membuat brunch diminati. Sebab, budaya ini hadir untuk mengisi celah orang yang ingin lebih bersantai saat akhir pekan.

Dengan melihat tren tersebut, The Nineteen pun mencoba mengakomodir budaya tersebut ke dalam program set menu mereka dengan tajuk Brunch Affair. Is menyebut konsep brunch restorannya mengadaptasi gaya New York.

Setiap akhir pekan, restorannya menghadirkan menu klasik Amerika seperti scramble, pancake, roti panggang, salmon ringan, hingga steak, sebuah hidangan yang kerap dinikmati orang Amerika saat brunch.

"Brunch memang terkenal di Amerika, dan menu klasiknya sesuai dengan konsep restoran kami, American New York twist. Pasar Jakarta juga mencari sesuatu yang berbeda, jadi American taste memang jadi kombinasi yang menarik," imbuhnya.

 

 

 

 

The Nineteen Jakarta (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)

The Nineteen Jakarta (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)

 


Is mengatakan pengunjung dapat menikmati budaya brunch dengan gaya New York yang menarik. Dengan ambience dan konsep restoran yang tertata apik, dipadukan sentuhan seni modern, pengalaman bersantap pun menjadi makin berkesan.

Beberapa menu American Classics yang bisa dicoba antara lain Eggs Benedict, yang disajikan dengan English muffin, bayam tumis, hollandaise foam, serta pilihan beef bacon atau smoked salmon. 

Ada juga Smoked Salmon Latke Stack, kentang renyah yang dilengkapi dill crème fraîche dan bawang merah acar, serta Southern Crispy Chicken & Potato Waffle dengan Asian coleslaw, sirup maple, dan saus BBQ. Bagi penggemar pasta, tersedia Rolled Baked Lasagna dengan ricotta segar dan bolognese daging sapi panggang, serta Mac & Cheese yang bisa ditambahkan lobster atau truffle untuk sentuhan lebih istimewa.

Dirinya berharap budaya brunch dapat makin berkembang di Indonesia. Sebab, menikmati akhir pekan sembari bersantap santai merupakan pengalaman yang menarik. 

Baca Juga: Arti Warna Segel pada Kemasan Roti Tawar

SEBELUMNYA

Mencicipi Bakmi Gang Kelinci yang Legendaris di Jakarta

BERIKUTNYA

Mencicipi Cita Rasa Keju Prancis yang Punya Karakter Unik

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.


The Nineteen Jakarta (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)

Menyelami Keseruan Budaya Brunch di Tanah Air

31 October 2025   |   17:30 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id
Menyelami Keseruan Budaya Brunch di Tanah Air

The Nineteen Jakarta (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)


Budaya brunch kini mulai menggeliat di Indonesia, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta. Kafe dan restoran kini tak hanya menawarkan menu standar saat akhir pekan, tetapi mulai menciptakan set khusus untuk mengakomodir tren tersebut.

Brunch merupakan singkatan dari breakfast dan lunch. Istilah ini konon diciptakan oleh penulis Guy Beringer melalui rilisan esainya berjudul Brunch: A Plea pada 1895. Dalam tulisannya, dia menganjurkan orang-orang untuk menyantap makanan pada hari minggu yang lebih santai.

Konsep brunch lahir dari ide membiarkan orang tidur lebih lama pada hari Minggu, setelah merayakan pesta yang menyenangkan pada Sabtu malamnya. Setelah bangun, mereka bisa menikmati hidangan yang menggabungkan sarapan dan makan siang, karena sarapan terasa terlalu pagi, sementara makan siang memiliki aturan waktu yang lebih kaku.

Baca Juga: Chef Martin Praja Ungkap Trik Sederhana Mengolah Dada Ayam Anti Kering

Brunch kemudian berkembang menjadi solusi bagi mereka yang ingin menikmati pagi tanpa terburu-buru, lengkap dengan hidangan hangat, roti, telur, dan minuman seperti teh atau kopi. Budaya ini rupanya banyak disukai orang. Brunch kemudian menyebar ke Amerika Serikat pada awal abad ke-20 dan mengalami evolusi menjadi lebih modern. Di sana, brunch identik dengan menu yang lebih beragam.

 

 

 

 

The Nineteen Jakarta (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)

The Nineteen Jakarta (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)

 


Tidak hanya soal makanan, budaya brunch di Amerika menekankan interaksi sosial, suasana santai, dan estetika penyajian makanan yang lebih menarik. Ciri khas brunch yang membuatnya unik adalah fleksibilitas waktu dan ragam hidangannya. Menu brunch dapat menyesuaikan selera pagi atau siang, termasuk kombinasi hidangan manis dan gurih, sarapan sehat, atau hidangan berat. Minuman khas brunch pun bervariasi, mulai dari kopi, teh, jus segar, hingga koktail ringan.

Seiring tren global ini, brunch mulai menembus pasar Indonesia. Popularitas brunch di Indonesia juga dipengaruhi oleh gaya hidup urban, media sosial, dan minat masyarakat akan pengalaman bersantap yang berbeda dari rutinitas sarapan atau makan siang biasa.

General Manager The Nineteen Jakarta, Rahmat Ismail, menyebut bahwa budaya brunch kini semakin populer di Indonesia, karena banyak orang tidak ingin menghabiskan akhir pekan begitu saja. Fenomena ini menunjukkan bagaimana masyarakat mulai mencari cara menikmati waktu santai sambil bersantap.

Sebenarnya, pola brunch di Indonesia tidak jauh berbeda dengan kebiasaan di luar negeri. Bedanya, di negara lain brunch kerap dilakukan setelah pesta semalam suntuk pada hari Sabtu, sehingga mereka butuh waktu bersantai pada hari Minggunya.

Sementara di Indonesia, orang mungkin tetap bangun pagi, tetapi mereka ibadah ke Gereja. Sepulang ibadah, katanya, banyak yang ingin melanjutkan waktu santai tanpa terburu-buru pulang, sehingga membutuhkan momen makan yang lebih fleksibel.

Selain itu, di Jakarta juga sedang ramai berolahraga saat car free day. Namun, selepas itu, mereka tak ingin buru-buru pulang ke rumah. Mereka membutuhkan aktivitas lebih untuk mengisi akhir pekan dengan santai, tetapi berkesan.  Alasan inilah yang membuat brunch diminati. Sebab, budaya ini hadir untuk mengisi celah orang yang ingin lebih bersantai saat akhir pekan.

Dengan melihat tren tersebut, The Nineteen pun mencoba mengakomodir budaya tersebut ke dalam program set menu mereka dengan tajuk Brunch Affair. Is menyebut konsep brunch restorannya mengadaptasi gaya New York.

Setiap akhir pekan, restorannya menghadirkan menu klasik Amerika seperti scramble, pancake, roti panggang, salmon ringan, hingga steak, sebuah hidangan yang kerap dinikmati orang Amerika saat brunch.

"Brunch memang terkenal di Amerika, dan menu klasiknya sesuai dengan konsep restoran kami, American New York twist. Pasar Jakarta juga mencari sesuatu yang berbeda, jadi American taste memang jadi kombinasi yang menarik," imbuhnya.

 

 

 

 

The Nineteen Jakarta (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)

The Nineteen Jakarta (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)

 


Is mengatakan pengunjung dapat menikmati budaya brunch dengan gaya New York yang menarik. Dengan ambience dan konsep restoran yang tertata apik, dipadukan sentuhan seni modern, pengalaman bersantap pun menjadi makin berkesan.

Beberapa menu American Classics yang bisa dicoba antara lain Eggs Benedict, yang disajikan dengan English muffin, bayam tumis, hollandaise foam, serta pilihan beef bacon atau smoked salmon. 

Ada juga Smoked Salmon Latke Stack, kentang renyah yang dilengkapi dill crème fraîche dan bawang merah acar, serta Southern Crispy Chicken & Potato Waffle dengan Asian coleslaw, sirup maple, dan saus BBQ. Bagi penggemar pasta, tersedia Rolled Baked Lasagna dengan ricotta segar dan bolognese daging sapi panggang, serta Mac & Cheese yang bisa ditambahkan lobster atau truffle untuk sentuhan lebih istimewa.

Dirinya berharap budaya brunch dapat makin berkembang di Indonesia. Sebab, menikmati akhir pekan sembari bersantap santai merupakan pengalaman yang menarik. 

Baca Juga: Arti Warna Segel pada Kemasan Roti Tawar

SEBELUMNYA

Mencicipi Bakmi Gang Kelinci yang Legendaris di Jakarta

BERIKUTNYA

Mencicipi Cita Rasa Keju Prancis yang Punya Karakter Unik

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.