Mencicipi Bakmi Gang Kelinci yang Legendaris di Jakarta
31 October 2025 |
13:37 WIB
Bakmi Gang Kelinci (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)
Di antara hiruk pikuk Jakarta Pusat, ada satu gang kecil yang sejak puluhan tahun lalu tak pernah sepi oleh pengunjung. Namanya Gang Kelinci, dan dari sanalah lahir sebuah ikon kuliner yang kini melegenda di seantero Jakarta, yakni Bakmi Gang Kelinci.
Dimulai dari sebuah gerobak kecil pada 1957, Bakmi Gang Kelinci kini menjelma menjadi jaringan rumah makan dengan puluhan cabang. Kini, hampir tujuh dekade sudah berlalu, namun wangi mi rebus dengan kuah gurihnya masih melekat di ingatan banyak orang.
Baca juga: Hypereport: Jejajah Kuliner di Pasar Baru Jakarta, Menikmati Bakmi Gang Kelinci yang Autentik & Segarnya Es Krim Legendaris
Nama “Gang Kelinci” dipilih bukan tanpa alasan. Lokasinya memang berada di sebuah gang kecil dengan nama serupa, yang saat itu menjadi titik pertemuan warga dan kawasan perniagaan padat. Seiring waktu, nama jalan itu justru melekat sebagai identitas brand yang sulit dipisahkan.
Menariknya, meski sudah punya puluhan cabang, kedai pertama di Gang Kelinci tetap dianggap sebagai “rumah” yang membawa nuansa nostalgia. Banyak pelanggan setia yang sengaja datang hanya untuk merasakan atmosfer asli di sana.
Suasana di dalam kedai terasa begitu khas. Meja-meja kayu berjajar rapat, aroma kaldu mengepul, dan deru wajan tak pernah berhenti. Pelayan pun berkeliling cepat sambil membawa mangkuk mi untuk para pemburu kuliner.
Menu andalan tentu saja bakmi ayam. Semangkuknya berisi mi, ayam kecap, ayam putih, sayur rebus, dan jamur kecap. Sementara itu, kuah kaldu bening disajikan terpisah, menghadirkan rasa ringan yang melengkapi kelezatan tiap suap.
Rahasia kelezatan bakmi ini terletak pada konsistensi racikan. Resep turun-temurun dijaga ketat, dari cara membuat mi segar, meracik kaldu, hingga bumbu ayam kecap yang selalu pas di lidah. Itulah sebabnya, meski puluhan tahun berlalu, rasa Bakmi Gang Kelinci nyaris tak berubah.
"Cita rasa yang ada dari dahulu tetap kami pertahankan secara autentik. Mungkin, itu alasan orang-orang tetap datang ke sini," ucap sang pemilik bisnis, Padmawati Dharmawan.
Tekstur mi dalam semangkuk bakmi ini terasa istimewa karena diolah secara rumahan. Kuahnya pun menghadirkan cita rasa gurih dari racikan bumbu rahasia yang berpadu sempurna dengan kaldu ayam.
Banyak pelanggan yang menyebut bakmi ini sebagai bagian dari perjalanan hidup mereka. Ada yang pertama kali mencicipi saat masih sekolah, lalu kembali lagi bertahun-tahun kemudian bersama keluarga. Nostalgia rasa menjadi daya tarik tersendiri yang tak dimiliki kedai lain.
Keistimewaan lain adalah keberaniannya beradaptasi. Selain bakmi ayam klasik, varian lain juga tak kalah populer. Ada bakmi spesial dengan tambahan bakso, pangsit rebus, kwetiaw, dan aneka kudapan lain.
Harga yang ditawarkan pun relatif ramah di kantong, menjadikannya pilihan makan yang bisa dinikmati berbagai kalangan. Tak heran jika pelanggan yang datang bukan hanya keluarga, tapi juga pekerja kantoran, mahasiswa, hingga wisatawan yang sengaja berburu kuliner legendaris Jakarta.
Bahkan, tak jarang kedai ini disebut sebagai ikon wisata kuliner Jakarta. Wisatawan dari luar kota atau luar negeri sering direkomendasikan untuk mampir, karena dianggap merepresentasikan kekayaan kuliner Tionghoa-Indonesia yang autentik.
Bakmi Gang Kelinci didirikan pada 1957 oleh Padmawati Dharmawan bersama almarhum suaminya, Hadi Sukiman. Sebagai pendiri generasi pertama, mereka memulai usaha ini dengan berjualan bakmi menggunakan gerobak dan belum memiliki lokasi tetap, sehingga sering berpindah-pindah tempat.
"Waktu itu masih pakai gerobak. Setelah itu, sempat sewa lapak di belakang bioskop Globe," ungkap Padmawati.
Namun, karena pemilik lapak membutuhkan tempatnya sendiri, Padmawati terpaksa berpindah dan sempat menghentikan sementara usahanya sembari mencari lokasi baru. Dia kemudian memulai kembali berjualan, kali ini lokasinya di rumah orang tuanya.
Namun, tak lama kemudian, dirinya harus berpindah kembali karena rumah tersebut akan dipakai untuk hal lain, hingga akhirnya kedai bakminya menetap di Gang Kelinci. Hingga kini, lokasi tersebut masih dipertahankan dan menjadi pusat Bakmi Gang Kelinci di kawasan Pasar Baru, Jakarta.
Menariknya, kala itu, saat mereka pindah ke lokasi tersebut, Lilis Suryani merilis lagu berjudul “Gang Kelinci”, yang kian menambah popularitas dan menjadikan Bakmi Gang Kelinci sebagai kuliner legendaris.
Kini, usaha ini diteruskan oleh generasi kedua, yaitu anak Padmawati, Kenny Sukiman, dan akan berlanjut ke generasi ketiga, cucu Padmawati, Michael Kenny Sukiman. Meski demikian, Padmawati Dharmawan sendiri masih sering hadir di gerai, bahkan ikut menggulung dan menyiapkan mi untuk pelanggan.
Bakmi Gang Kelinci memang bukan sekadar makanan. Ia adalah khazanah kuliner yang menjadi saksi perkembangan kota Jakarta. Dari era becak, bus kota, hingga kini orang-orang mulai berbicara mengenai artificial intelligence, kedai ini tetap berdiri tegak. Ia menjadi bukti bahwa di tengah perubahan zaman, kuliner dengan rasa jujur selalu punya tempat di hati masyarakat.
Setiap mangkuk bakmi yang terhidang bukan hanya soal rasa, melainkan juga cerita panjang tentang perjuangan, konsistensi, dan cinta pada kuliner. Itulah mengapa, hingga hari ini, Bakmi Gang Kelinci tetap teguh berdiri sebagai semangkuk mi yang merekam hiruk pikuk Jakarta dari zaman ke zaman.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Dimulai dari sebuah gerobak kecil pada 1957, Bakmi Gang Kelinci kini menjelma menjadi jaringan rumah makan dengan puluhan cabang. Kini, hampir tujuh dekade sudah berlalu, namun wangi mi rebus dengan kuah gurihnya masih melekat di ingatan banyak orang.
Baca juga: Hypereport: Jejajah Kuliner di Pasar Baru Jakarta, Menikmati Bakmi Gang Kelinci yang Autentik & Segarnya Es Krim Legendaris
Nama “Gang Kelinci” dipilih bukan tanpa alasan. Lokasinya memang berada di sebuah gang kecil dengan nama serupa, yang saat itu menjadi titik pertemuan warga dan kawasan perniagaan padat. Seiring waktu, nama jalan itu justru melekat sebagai identitas brand yang sulit dipisahkan.
Menariknya, meski sudah punya puluhan cabang, kedai pertama di Gang Kelinci tetap dianggap sebagai “rumah” yang membawa nuansa nostalgia. Banyak pelanggan setia yang sengaja datang hanya untuk merasakan atmosfer asli di sana.

Bakmi Gang Kelinci (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)
Suasana di dalam kedai terasa begitu khas. Meja-meja kayu berjajar rapat, aroma kaldu mengepul, dan deru wajan tak pernah berhenti. Pelayan pun berkeliling cepat sambil membawa mangkuk mi untuk para pemburu kuliner.
Menu andalan tentu saja bakmi ayam. Semangkuknya berisi mi, ayam kecap, ayam putih, sayur rebus, dan jamur kecap. Sementara itu, kuah kaldu bening disajikan terpisah, menghadirkan rasa ringan yang melengkapi kelezatan tiap suap.
Rahasia kelezatan bakmi ini terletak pada konsistensi racikan. Resep turun-temurun dijaga ketat, dari cara membuat mi segar, meracik kaldu, hingga bumbu ayam kecap yang selalu pas di lidah. Itulah sebabnya, meski puluhan tahun berlalu, rasa Bakmi Gang Kelinci nyaris tak berubah.
"Cita rasa yang ada dari dahulu tetap kami pertahankan secara autentik. Mungkin, itu alasan orang-orang tetap datang ke sini," ucap sang pemilik bisnis, Padmawati Dharmawan.
Tekstur mi dalam semangkuk bakmi ini terasa istimewa karena diolah secara rumahan. Kuahnya pun menghadirkan cita rasa gurih dari racikan bumbu rahasia yang berpadu sempurna dengan kaldu ayam.
Banyak pelanggan yang menyebut bakmi ini sebagai bagian dari perjalanan hidup mereka. Ada yang pertama kali mencicipi saat masih sekolah, lalu kembali lagi bertahun-tahun kemudian bersama keluarga. Nostalgia rasa menjadi daya tarik tersendiri yang tak dimiliki kedai lain.
Keistimewaan lain adalah keberaniannya beradaptasi. Selain bakmi ayam klasik, varian lain juga tak kalah populer. Ada bakmi spesial dengan tambahan bakso, pangsit rebus, kwetiaw, dan aneka kudapan lain.
Harga yang ditawarkan pun relatif ramah di kantong, menjadikannya pilihan makan yang bisa dinikmati berbagai kalangan. Tak heran jika pelanggan yang datang bukan hanya keluarga, tapi juga pekerja kantoran, mahasiswa, hingga wisatawan yang sengaja berburu kuliner legendaris Jakarta.
Bahkan, tak jarang kedai ini disebut sebagai ikon wisata kuliner Jakarta. Wisatawan dari luar kota atau luar negeri sering direkomendasikan untuk mampir, karena dianggap merepresentasikan kekayaan kuliner Tionghoa-Indonesia yang autentik.


Bakmi Gang Kelinci (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)
Sejarah Bakmi Gang Kelinci
Bakmi Gang Kelinci didirikan pada 1957 oleh Padmawati Dharmawan bersama almarhum suaminya, Hadi Sukiman. Sebagai pendiri generasi pertama, mereka memulai usaha ini dengan berjualan bakmi menggunakan gerobak dan belum memiliki lokasi tetap, sehingga sering berpindah-pindah tempat."Waktu itu masih pakai gerobak. Setelah itu, sempat sewa lapak di belakang bioskop Globe," ungkap Padmawati.
Namun, karena pemilik lapak membutuhkan tempatnya sendiri, Padmawati terpaksa berpindah dan sempat menghentikan sementara usahanya sembari mencari lokasi baru. Dia kemudian memulai kembali berjualan, kali ini lokasinya di rumah orang tuanya.
Namun, tak lama kemudian, dirinya harus berpindah kembali karena rumah tersebut akan dipakai untuk hal lain, hingga akhirnya kedai bakminya menetap di Gang Kelinci. Hingga kini, lokasi tersebut masih dipertahankan dan menjadi pusat Bakmi Gang Kelinci di kawasan Pasar Baru, Jakarta.
Menariknya, kala itu, saat mereka pindah ke lokasi tersebut, Lilis Suryani merilis lagu berjudul “Gang Kelinci”, yang kian menambah popularitas dan menjadikan Bakmi Gang Kelinci sebagai kuliner legendaris.

Kawasan Pasar Baru, Jakarta (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)
Kini, usaha ini diteruskan oleh generasi kedua, yaitu anak Padmawati, Kenny Sukiman, dan akan berlanjut ke generasi ketiga, cucu Padmawati, Michael Kenny Sukiman. Meski demikian, Padmawati Dharmawan sendiri masih sering hadir di gerai, bahkan ikut menggulung dan menyiapkan mi untuk pelanggan.
Bakmi Gang Kelinci memang bukan sekadar makanan. Ia adalah khazanah kuliner yang menjadi saksi perkembangan kota Jakarta. Dari era becak, bus kota, hingga kini orang-orang mulai berbicara mengenai artificial intelligence, kedai ini tetap berdiri tegak. Ia menjadi bukti bahwa di tengah perubahan zaman, kuliner dengan rasa jujur selalu punya tempat di hati masyarakat.
Setiap mangkuk bakmi yang terhidang bukan hanya soal rasa, melainkan juga cerita panjang tentang perjuangan, konsistensi, dan cinta pada kuliner. Itulah mengapa, hingga hari ini, Bakmi Gang Kelinci tetap teguh berdiri sebagai semangkuk mi yang merekam hiruk pikuk Jakarta dari zaman ke zaman.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.
KUMPULAN ARTIKEL LAINNYA
Menikmati House of Tugu, Destinasi Kuliner Berbalut Sejarah di Kota Tua Jakarta
26 Maret 2026
Rekomendasi Kuliner Khas di Jawa Tengah yang Wajib Dicoba Saat Mudik
17 Maret 2026
The Good Bagel: Kafe Bagel Artisan di Gading Serpong yang Viral
16 Maret 2026
Menikmati Kuliner Indonesia dalam Balutan Modern di Menteng
13 Maret 2026