Calon penumpang menanti kedatangan kereta api jarak jauh di Stasiun Pasar Senen, Jakarta, Rabu (26/3/2025). (sumber gambar:JIBI/Bisnis/Fanny Kusumawardhani )

Jadi Tradisi Tahunan, Begini Sejarah & Pergeseran Mudik Lebaran di Indonesia

26 March 2025   |   17:00 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Mudik merupakan salah satu tradisi yang kerap dilakukan masyarakat Indonesia, terutama umat Islam menjelang Idulfitri tiba. Mudik adalah istilah kegiatan pulang ke kampung halaman atau tanah kelahiran setelah setahun lamanya merantau.

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata mudik memiliki arti berlayar atau pergi ke udik. Istilah udik merujuk pada hulu sungai, alias pedalaman. Selain itu, mudik juga didefinisikan kegiatan pulang ke kampung halaman dari tanah rantau. 

Menurut beberapa sumber, asal-usul istilah mudik berasal dari bahasa Melayu, yaitu udik, yang berarti hulu atau ujung. Istilah ini diambil dari kebiasaan masyarakat Melayu yang bermukim di hulu sungai pada masa silam, dan kerap melakukan perjalanan ke hilir sungai. 

Menggunakan perahu atau biduk, mereka akan menyusuri sungai untuk berbagai urusan. Syahdan setelah urusannya selesai mereka akan pulang kembali ke hulu pada sore harinya. Kegiatan yang berlangsung berabad-abad inilah yang kelak membuat istilah mudik. 

Baca juga: Fenomena Unik dari Tradisi Mudik Lebaran Menurut Sosiolog

Antropolog UGM, Prof Heddy Shri Ahimsa-Putra mengatakan, istilah mudik mulai dikenal luas pada era 1970-an. Momen ini terjadi setelah orde baru melakukan pembangunan pusat pertumbuhan di kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung dan Medan. 

Peristiwa 'pembangunan' inilah yang menyebabkan orang melakukan urbanisasi ke kota untuk menetap dan mencari pekerjaan dan baru pulang menjelang Lebaran. Pemilihan mudik saat Lebaran juga bukan tanpa alasan. Sebab, mayoritas masyarakat Indonesia adalah Muslim.

"Jadi berbeda di Amerika dan Eropa, warganya banyak pulang kampung saat perayaan thanksgiving atau perayaan Natal. Sementara di kita ya Idulfitri,” paparnya. 

Di Tanah Air, tradisi mudik sendiri bukanlah sesuatu yang baru, atau terjadi setelah munculnya agama Islam. .Bila ditelusuri, sejarahnya bahkan sudah bermula sejak masa kerajaan di Nusantara, Termasuk saat kerajaan-kerajaan pra Islam masih memancangkan kuku-kukunya.

Kiwari, meskipun perkembangan teknologi dan infrastruktur semakin pesat, tradisi mudik tetap bertahan, karena memiliki nilai budaya serta memperkuat ikatan kebersamaan. Menukil laman Kemdikbud, setidaknya ada beberapa alasan mengapa masyarakat Indonesia melakukan tradisi mudik. 
 
Pertama, mudik merupakan bentuk penghormatan kepada orang tua dan keluarga besar di kampung halaman. Kedua, mudik merupakan bentuk refleksi dan introspeksi diri untuk memperbaiki kehidupan ke depan. Ketiga, mudik juga merupakan bentuk syukur atas keselamatan dan kesehatan yang diberikan selama setahun. 
 

Pergeseran Makna & Tujuan 

Sosiolog Universitas Padjadjaran, Yusar Muljadji mengatakan, dalam dua dekade terakhir makna dan tujuan mudik mengalami pergeseran seiring perkembangan teknologi dan sosial. Bagi kaum muda misal, tradisi mudik bisa dikategorikan antara yang antusias dengan yang kurang antusias.

Yusar menjelaskan, tradisi mudik secara umum masih menunjukkan adanya keterikatan terhadap kampung halaman dan juga kerabat-kerabat yang lebih tua. Setelah sampai di kampung halaman misalnya, para pemudik akan “nyekar” ke makam leluhur dan bertemu kerabat yang lebih tua.

Namun, selain ihwal tersebut, mudik juga menjadi bentuk rekreasi melepaskan penat setelah setahun lamanya berjuang keras di perkotaan. Kembali ke kampung halaman, papar Yusar, merupakan salah satu bentuk untuk mengistirahatkan fisik dan mental dari para pekerja urban yang merantau.

"Momen mudik ini biasanya juga untuk tetap memelihara hubungan dengan kerabat-kerabat yang terjauhkan karena aktivitas pekerjaan di luar kampung halaman," katanya.

Menurut Yusar, bagi beberapa pemudik yang 'hidup sukses' di perkotaan, kegiatan mudik adalah suatu bentuk penunjukan 'identitas kesuksesannya' dalam terminologi yang netral. Penunjukan identitas ini, menurut Yusar juga merupakan hal yang wajar dan membanggakan.

Momen inilah yang menurutnya turut menjadi faktor penarik orang-orang di desa untuk mengadu nasib di perkotaan terutama bagi generasi muda. Sebab pemudik tersebut biasanya menjadi teladan bagi kerabat-kerabat yang lain untuk bisa mengikuti jejaknya.

Namun ada juga fenomena menarik dari mudik bagi generasi baby boomers. Sebab selain menjalin silaturahmi, bagi mereka mudik justru dijadikan waktu untuk mencari lahan yang bisa dibeli dan dibangun rumah untuk dijadikan tempat bermukim di hari tua.

"Dengan kata lain bagi generasi yang lebih tua, mudik adalah sarana untuk kembali hidup di desa," katanya.

Baca juga: 5 Persiapan Agar Mudik Lebaran Aman & Nyaman

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Editor:

SEBELUMNYA

Kebakaran Hutan Landa Korea Selatan Picu Kerusakan Masif dan 18 Orang Tewas

BERIKUTNYA

Daftar Lengkap Titik Rest Area di Jalan Tol Trans Sumatera

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga