Ilustrasi (dok. Pexels)

Dampak Negatif Gawai, Anak-anak Cenderung Menjadi Ansos hingga Picu Depresi

25 November 2021   |   14:15 WIB

Teknologi memang banyak membantu dan memberikan kemudahan dalam dalam segi apapun. Namun di sisi lain, ini memberikan pengaruh buruk bagi kesehatan mental serta perilaku manusia, terutama di masa pandemi Covid-19. Ketua Umum Ikatan Psikolog Klinik (IPK) Indonesia Indria Laksmi Gamayanti mengatakan selama pandemi, pertemuan tatap muka menjadi semakin terbatas yang membuat orang lebih nyaman dengan berselancar di dunia digital.

Kondisi ini membuat keterampilan bersosialisasi anak-anak dan remaja khususnya, menjadi berkurang. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu dengan gadget, selain memang perlu untuk belajar. Namun bisa dikatakan waktu bermain aplikasi di gadget lebih besar porsinya daripada untuk belajar. 

Tentu para orang tua menurut Gamayanti harus khawatir karena aplikasi dan informasi yang melimpah di perangkat lunak ini tidak sedikit yang berisi nilai atau konten negatif. “Kalau anak dan remaja terpapar masalah agresi, kekerasan, hal berbau seksualitas, akan berdampak pada perkembangannya,” katanya dalam konferensi pers menjelang Kongres Nasional Ke-lV IPK lndonesia 2021, Kamis (25/11/2021).

Mengutip pidato pengukuhan Guru Besar Universitas Indonesia Elizabeth Kristi Poerwandari, Gamayanti menyebut ternyata stres dan depresi meningkat akibat penggunaan gadget, khususnya media sosial. Ada kecenderungan orang melakukan pembandingan sosial sehingga hal yang bersifat empati dan ketulusan mereka berkurang karena mengukur nilai ini lebih dangkal. 

“Penampilan, status sosial, kemakmuran kok kayaknya lebih penting dari spiritualitas, kedamaian diri, atau pengetahuan,” singgung Gamayanti. 

Kendati demikian, menurutnya bukan teknologinya yang salah, melainkan sikap dari orang tua yang perlu mengedukasi anak untuk berkembang dalam lingkup sosialnya secara nyata dan terus melakukan edukasi.

Adapun dalam pidato pengukuhannya, Elizabeth Kristi Poerwandari, menuturkan saat ini terjadi suatu kondisi dimana kita tidak bisa lagi membedakan antara mana yang real (nyata) dan mana yang merupakan pencitraan semata.

Kondisi ini menyebabkan banyak orang terjebak pada fiksi yang dibangun dirinya sendiri melalui pencitraan diri yang ditampilkan dalam gambar, berita-berita yang tampil di beranda media sosial (yang terfilter karena algoritma), maupun komentar yang muncul dari unggahan. Semua ini menjadikan manusia berpikir sempit, terjebak dalam pemikiran, dan realita dirinya sendiri.

Kehidupan yang terisolasi dan egosentris ini menurut Kristi terbukti menyebabkan fenomena bunuh diri, dan keinginan menyakiti diri sendiri, yang meningkat dalam 10 tahun terakhir ini.

Editor: Dika Irawan
SEBELUMNYA

Google Doodle Hari Ini Bertemakan Hari Guru Nasional, Yuk Simak Sejarahnya

BERIKUTNYA

Hari Guru Nasional 2021: Yuk Kenalan dengan Sosok Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: