Ilustrasi mata (dok. Pexels)

Kenali Risiko dan Cara Tangani AMD yang Jadi Penyebab Kebutaan

14 October 2021   |   16:55 WIB

Age-related macular degeneration (AMD) menjadi salah satu penyebab kebutaan pada lansia. Sayangnya, kondisi ini seringkali tidak dikenali dan kebanyakan pasien datang berobat ketika sudah mengalami masalah pada penglihatannya. 

Oleh karena itu perlu untuk melakukan deteksi dini dengan melakukan pemeriksaan mata setidaknya setahun sekali ketika kalian telah menginjak usia 40 tahun. Namun yang paling penting lagi adalah mengenali risiko dan cara menanganinya AMD. 

Ada sejumlah risiko kita bisa mengalami AMD. Paling utama adalah usia. Sepertiga orang dewasa di atas 75 tahun mengalami AMD. Kedua, adanya riwayat keluarga. “Biasanya jika ayah, ibu, kakak, adik, om AMD, itu bisa berisiko,” ujar dr. Gitalisa Andayani, spesialis mata konsultan RSCM-FKUI dalam diskusi virtual media briefing memperingati Hari Penglihatan Sedunia 2021 yang digelar Bayer Indonesia, Kamis (14/10/2021).

Risiko berikutnya yang meningkatkan peluang seseorang terkena AMD dua hingga lima kali lipat adalah merokok. Ini karena retina memiliki tingkat konsumsi oksigen yang tinggi, apa pun yang memengaruhi pengiriman oksigen ke retina dapat memengaruhi penglihatan. Merokok menyebabkan kerusakan oksidatif, yang dapat berkontribusi pada perkembangan penyakit ini.  

“[Bisa terjadi pada] Perokok berat, walaupun sudah berhenti lama, maupun perokok pasif,” sebut Gita.

Risiko keempat yakni pajanan sinar matahari berkepanjangan. Beberapa penelitian menunjukkan hubungan antara AMD dan kerusakan mata kumulatif dari sinar ultraviolet (UV) dan cahaya lainnya. Cahaya ini dapat merusak retina dan meningkatkan risiko AMD. 

“Paparan UV bisa memicu radikal bebas. Orang berpendapat blue light hanya dari gadget, komputer. Padahal itu lemah, paling kuat matahari, apalagi saat terik,” tegas Gita.
 

Dr. Gita saat memaparkan risiko AMD

Dr. Gita saat memaparkan risiko AMD

Risiko kelima adalah jenis kelamin. Perempuan lebih mungkin terkena AMD daripada laki-laki. Faktor ini mungkin karena perempuan hidup lebih lama dari laki-laki, dan dengan demikian memiliki lebih banyak waktu untuk mengembangkan penyakit. 

Keenam adalah ras kaukasia. Faktor ini mungkin terkait dengan perbedaan latar belakang genetik atau pigmentasi. Ketujuh adalah orang dengan mata berwarna terang yang lebih mungkin mengembangkan jenis AMD tipe kering. Faktor ini diduga karena mata berpigmen cahaya menawarkan perlindungan yang lebih sedikit dari sinar UV.

Diet juga menjadi faktor risiko loh. Orang dengan diet yang tinggi lemak, kolesterol, makanan indeks glikemik tinggi, dan rendah antioksidan serta sayuran berdaun hijau lebih mungkin terkena AMD. Begitu pula dengan obesitas. Seseorang dengan indeks massa tubuh lebih besar dari 30, akan 2,5 kali lebih mungkin mengembangkan penyakit ini.

Apalagi jika kamu tidak aktif bergerak. Pada AMD kering, retina tidak menerima oksigen yang cukup, menyebabkan kematian sel-sel di makula.

Risiko selanjutnya yakni orang yang memiliki tekanan darah tinggi karena dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah yang memberi nutrisi pada retina dan membatasi aliran oksigen. Terakhir yakni apabila salah satu mata terkena AMD, mata lainnnya berpotensi mengembangkan penyakit serupa. 

Setelah mengetahui faktor risiko tersebut, penting bagi kita melakukan sejumlah langkah untuk mengurangi risikonya. Misal, ketika keluar rumah atau berolahraga saat matahari sudah pada puncaknya, sebaiknya menggunakan topi atau kaca mata berwarna gelap. 

Kemudian hindari rokok, jaga berat badan ideal, pilih diet sehat dengan tidak lupa mengonsumsi ikan dan kacang-kacangan. Asam lemak omega-3 yang ditemukan pada ikan dapat mengurangi risiko degenerasi makula. Kacang-kacangan, seperti kenari, juga mengandung asam lemak omega-3. 

Jangan lupa juga untuk olahraga secara teratur, dan kelola kondisi medis yang kamu punya. Sebagai contoh, jika kamu memiliki penyakit kardiovaskular atau tekanan darah tinggi, minum obat dan ikuti petunjuk dokter untuk mengendalikan kondisi tersebut. 

Terkait pengobatan, Gita menambahkan, AMD kering biasanya tidak mengakibatkan kehilangan penglihatan total, dan saat ini belum ada pengobatan yang efektif. Sedangkan pada AMD basah, salah satu obatnya adalah Aflibercept yang dapat menghambat faktor pertumbuhan endotel antivaskular (vascular endothelial growth factor/VEGF).

Terapi dengan Aflibercept dilakukan dengan cara suntikan ke dalam bola mata (intravitreal). Ini dapat memperlambat pertumbuhan pembuluh darah abnormal dan mencegah kerusakan makula lebih lanjut, sehingga mencegah kebutaan. 

Memang saat ini banyak pasien AMD yang tertunda terapinya karena takut terinfeksi Covid-19 ketika ke rumah sakit. Padahal terapi ini harus dilakukan rutin, setidaknya 3 kali injeksi dengan interval 3 bulan pada awal tindakan, dan berlanjut setiap dua bulan sekali sesuai kondisi mata pasien.

Namun untung saja, berdasarkan Studi ALTAIR pada 2020 menunjukan bahwa terapi Aflibercept intravitreal pada penderita AMD tipe basah dapat dapat diperpanjang jarak interval pengobatannya dalam rejimen treat-and-entend (T&E) dengan penyesuaian 2 minggu atau 4 minggu. Hasil terapi menunjukkan perbaikan penglihatan dan anatomi makula pada pasien yang belum pernah menggunakan pengobatan selama 52 minggu, sekaligus mengurangi beban pengobatan. 

Studi ini kata Gita menunjukan bahwa 40 persen pasien bisa berobat 4 bulan sekali, dan 60 persen lainnya 3 bulan sekali dengan penggunaan Afliberceptini.


Editor: Indyah Sutriningrum
 
SEBELUMNYA

Coach Perkenalkan Koleksi Fall 2021 ke Indonesia

BERIKUTNYA

Film A World Without Pesankan Anak Muda untuk Bisa Menemukan Kekuatan Diri

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: