Kota Purwokerto (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)

Menjelajahi Purwokerto dalam 48 Jam, Surga Slow Living di Kaki Gunung

25 March 2026   |   22:00 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Purwokerto, sebuah kota di kaki selatan Gunung Slamet, Banyumas, Jawa Tengah, perlahan keluar dari bayang-bayang sebagai kota transit. Dari kota yang dulu dikenal sunyi dan identik dengan masa pensiun, Purwokerto bertransformasi menjadi destinasi yang diburu banyak orang, baik untuk ditinggali maupun singgah sementara menikmati wisatanya.

Kemudahan akses menjadikan Purwokerto cocok untuk pelarian singkat akhir pekan. Jaraknya yang tidak terlalu jauh dari Jakarta maupun kota-kota besar lain membuat perjalanan pulang-pergi tetap realistis dalam satu akhir pekan, sambil tetap mendapat pengalaman suasana berlibur di kota yang belakangan dikenal dengan gaya slow living-nya tersebut.

Baca juga: Hypereport: Menjalani Hidup yang Bermakna dengan Slow Food & Slow Living

Dari Jakarta, kita bisa naik kereta api langsung ke Purwokerto dalam waktu sekitar 4 hingga 5 jam saja, sehingga bisa berangkat tengah malam sebelumnya dan tiba pagi untuk mulai menjelajah.

Alternatif lain, bus antarkota juga tersedia dari terminal-terminal besar di Jakarta dengan durasi sekitar tujuh hingga sembilan jam perjalanan, sementara perjalanan dengan mobil pribadi biasanya membutuhkan waktu sekitar enam sampai delapan jam melalui Tol Trans Jawa.

 

 

 

 

Kota Purwokerto (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)

Kota Purwokerto (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)

 


Ada perasaan melambat begitu tiba di Purwokerto. Dari jalanan hingga sudut kotanya, semuanya seolah bergerak dengan kecepatan yang lebih pelan, membuat siapa pun tak merasa perlu terburu-buru.

Dalam eksplorasi pertama, banyak wisatawan menjadikan Baturraden sebagai tujuan utama. Kali ini, perjalanan pun akan dimulai dari titik tersebut. Kawasan ini dikenal sebagai destinasi paling populer di Purwokerto, menawarkan udara sejuk khas pegunungan, hamparan hutan pinus yang asri, air terjun alami, hingga pemandian air panas

Curug Juneng, atau Curug Jumeneng, merupakan salah satu air terjun tersembunyi yang menarik dikunjungi di kawasan ini. Terletak di desa Karang Salam, air terjun ini menawarkan suasana alam yang masih sangat asri.

Dari area parkir, pengunjung perlu berjalan kaki sekitar 20 menit atau kurang lebih satu kilometer menyusuri jalur setapak yang naik turun dan berkelok. Tak perlu khawatir, perjalanan menuju curug justru menjadi bagian dari pengalaman seru. Sepanjang jalur, kita akan melewati pematang sawah, aliran sungai, hingga hutan yang rindang. Setiap sudut perjalanan menyuguhkan pemandangan hijau yang menenangkan mata.

Begitu tiba di lokasi, rasa lelah pun seolah langsung terbayar. Air Curug Jumeneng mengalir jernih dan tidak terlalu deras, cocok untuk bermain air atau sekadar merendam kaki sambil menikmati suasana. Tak jauh dari sana, Curug Kembar dengan aliran air yang saling terhubung turut melengkapi keindahan kawasan ini, menjadikannya tempat yang pas untuk menyegarkan badan dan pikiran.

Bagi yang ingin menjelajah lebih jauh, kawasan Baturraden masih menyimpan banyak pilihan wisata lain, mulai dari Curug Telu, Curug Bayan, Hutan Pinus Limpakuwus, Telaga Sunyi, hingga Taman Botani. Salah satu yang paling unik adalah Pancuran Pitu, sebuah pemandian air panas alami yang mengalir melalui tujuh celah batu, dengan air yang bersumber dari aktivitas vulkanik Gunung Slamet.

Air panas di sini diyakini memiliki khasiat untuk membantu menyembuhkan berbagai keluhan fisik seperti penyakit kulit, rematik, hingga energi negatif. Kepercayaan itu berakar dari legenda Syekh Maulana Maghribi, atau yang dikenal sebagai Mbah Atas Angin. Konon, tokoh ini pernah menyembuhkan penyakit kulitnya dengan mandi di tujuh pancuran air panas di kaki Gunung Slamet

 

 

 

 

Kota Purwokerto (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)

Kota Purwokerto (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)

 


Setelah menjelajahi kawasan alam, perjalanan bisa dilanjutkan ke pusat kota. Di sini, pengunjung dapat singgah ke Museum Jenderal Soedirman, Museum Wayang Banyumas, hingga ikon terbaru, Menara Pandang Teratai. Dari puncak menara ini, panorama 360 derajat tersaji, memperlihatkan bentang kota, Gunung Slamet, serta hamparan sawah dari ketinggian sekitar 117 meter.

Menyusuri Purwokerto juga menghadirkan keseruan tersendiri. Suasana kota yang tenang berpadu dengan jejak arsitektur lama peninggalan kolonial Belanda yang masih bisa ditemui di beberapa sudut. Bangunan bergaya Indisch dengan bentuk kokoh dan detail unik tersebar di kawasan seperti Jalan Yos Sudarso, Jalan BKR, hingga area Kranji.

Sebagai penutup, tak lengkap rasanya jika tak mencicipi kuliner khasnya. Sroto dengan kuah kacangnya yang khas, getuk goreng yang manis legit dari singkong, tempe mendoan yang gurih, hingga klanting sebagai camilan renyah menjadi sajian yang tak boleh dilewatkan saat berada di Purwokerto.

Semua pengalaman wisata tersebut bisa dinikmati hanya dalam 48 jam atau dua hari. Cukup sisihkan waktu di akhir pekan, Sabtu dan Minggu, untuk menjelajahi kota sekaligus keindahan alamnya.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 

SEBELUMNYA

PUMA Hidupkan Warisan Atletik Lewat H-Street Versi Lifestyle

BERIKUTNYA

Mengenal Susunan Tim Kepelatihan Timnas Indonesia di Bawah Arahan John Herdman

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga