Biophilia Exquisite Corpse, Pameran Seni tentang Alam & Konflik Agraria di ISA Art Gallery
23 March 2026 |
17:48 WIB
Tenda darurat dengan palang kayu itu selalu ramai dimasuki pengunjung. Di bagian luarnya terpampang gambar para petani yang menumbuki alu padi. Di caping mereka tertulis: Tolak Pabrik Semen. Di tengah ruang galeri, kehadiran tenda itu terasa seperti potongan medan perjuangan yang dipindahkan ke jantung kota.
Berjudul Tenda Perjuangan, instalasi karya Fitri DK ini menjadi salah satu karya yang paling banyak mencuri perhatian dalam pameran Biophilia: Exquisite Corpse di ISA Art Gallery, Jakarta.
Baca juga: Pameran Seni & Desain ICAD 15 Mefefleksikan Hubungan Manusia dan Alam
Berlangsung hingga 16 April 2026, pameran ini melibatkan sejumlah seniman lintas generasi. Di antaranya Teguh Ostenrik, Anang Saptoto, Arahmaiani, Cynthia Delaney Suwito, Dabi Arnasa, Fitri DK, Reza Kutjh, serta Studio Birthplace dan Mater Design Lab.
Biophilia merupakan afinitas atau keterikatan bawaan manusia terhadap alam. Konsep ini diperkenalkan oleh psikolog Edward O. Wilson pada 1984. Sumber biophilia meliputi cinta terhadap alam, kehidupan, lingkungan alami, dan semua bentuk kehidupan di bumi.
Frasa biophilia inilah yang menjadi pengikat pameran. Setiap seniman menghadirkan fragmen gagasan yang saling terhubung, membentuk dialog tentang bumi, relasi, ekstraksi, hingga kemungkinan hidup setelah kerusakan lewat instalasi, patung, film, hingga fotografi.
Misalnya, Fitri DK yang tak hanya membuat Tenda Perjuangan sebagai bentuk dukungan gerakan penolakan tambang semen di Pegunungan Kendeng. Seniman asal Yogyakarta ini juga membuat seri Mantra Ibu Bumi (2021).
Dibuat dengan teknik cetak cukil hardboard pada kain, karya berdimensi 101 cm x 144 cm ini terinspirasi dari lagu-lagu yang dilantunkan para petani Kendeng saat melakukan protes terhadap penambangan semen di Jawa Tengah.
Didominasi warna monokrom, instalasi ini seakan mengartikulasikan etika timbal balik, di mana bumi merespons setiap bentuk perusakan. Imbasnya adalah gambaran lingkungan yang hancur lewat banjir, tanah longsor, dan kekeringan.
Lain lagi dengan karya Reza Kutjh bertajuk Sand, Steel, and Those Who Remain (2026). Dibuat dengan teknik desain di atas kain menggunakan balok kayu, karya ini memotret konflik agraria terkait pembangunan Bandara Internasional Yogyakarta.
Menariknya, karya ini justru memusatkan perhatian pada lanskap yang tersisa, alih-alih manusia. Visual ini seakan menghadirkan fragmen arsitektural dan struktur ekologis, dengan memosisikan ruang sebagai arsip penggusuran, ingatan, dan transisi yang belum tuntas.
"Seri karya ini juga merangkai jejak visual dan material dari situs-situs yang tengah mengalami penghapusan berdasarkan wawancara dengan warga yang terdampak konflik agraria," katanya.
Saling Terhubung
Berbeda dengan sebelumnya yang mengurai konsumerisme, pameran Biophilia kali ini menempatkan manusia bukan sebagai entitas di luar alam, melainkan bagian di dalamnya. Begitu pula dengan karya yang dihadirkan, semuanya terhubung.
Terinspirasi dari permainan bernama Exquisite Corpse, pameran ini juga mencoba membongkar pengkaryaan tunggal dan makna linear. Setiap karya yang hadir menjadi bagian dari narasi tentang bumi, kerusakan, dan harapan.
Refleksi ini misalnya hadir dalam karya Teguh Ostenrik berjudul House of Eels (2022). Instalasi bawah laut ini dirancang sebagai terumbu buatan, berfungsi sekaligus sebagai bentuk patung, infrastruktur ekologis, dan ruang regenerasi.
Kendati dihadirkan melalui dokumentasi video, karya ini menegaskan seni sebagai intervensi lingkungan yang aktif. House of Eels juga menanggapi degradasi terumbu karang dengan memosisikan patung sebagai habitat, ruang perlindungan, dan penopang jangka panjang.
"Instalasi ini dirancang untuk bekerja dalam jangka waktu panjang, memungkinkan pertumbuhan biologis mentransformasi permukaan dan strukturnya," tulis Teguh.
Ada pula karya Arahmaiani yang tampil berbeda dengan memboyong karya bertajuk Bumi, Air, dan Tanah (2026). Dibuat dengan material tutup drum minyak, sang seniman mengolah simbol-simbol spiritual untuk menghubungkan ingatan kultural dengan tanggung jawab lingkungan.
Praktik Arahmaiani secara konsisten mengaitkan kekerasan ideologis, kerusakan ekologis, dan ekstraksi sebagai sistem yang saling terhubung. Karya ini juga membingkai koeksistensi sebagai keniscayaan etis yang berakar pada kepedulian terhadap keberlangsungan hidup bersama.
Kurator Miranti Dian Savitri mengatakan secara umum pameran ini dibagi menjadi tiga bab naratif, yakni relasi, kekerasan, dan pasca-kerusakan. Menurutnya, pembabakan tersebut bukan sekadar struktur kuratorial, melainkan cara membaca ulang posisi manusia terhadap bumi.
Dia menegaskan pameran ini juga tidak bermaksud memberi jawaban tunggal, melainkan membuka ruang refleksi kolektif. “Pertanyaannya bukan lagi bagaimana menyelamatkan bumi dari luar, melainkan bagaimana kita belajar menjadi bagian darinya kembali," katanya.
Baca juga: Takeaway Art: Pameran Seni Rupa untuk Generasi Muda dengan Konsep Jual-Beli Langsung
Berjudul Tenda Perjuangan, instalasi karya Fitri DK ini menjadi salah satu karya yang paling banyak mencuri perhatian dalam pameran Biophilia: Exquisite Corpse di ISA Art Gallery, Jakarta.
Baca juga: Pameran Seni & Desain ICAD 15 Mefefleksikan Hubungan Manusia dan Alam
Berlangsung hingga 16 April 2026, pameran ini melibatkan sejumlah seniman lintas generasi. Di antaranya Teguh Ostenrik, Anang Saptoto, Arahmaiani, Cynthia Delaney Suwito, Dabi Arnasa, Fitri DK, Reza Kutjh, serta Studio Birthplace dan Mater Design Lab.
Biophilia merupakan afinitas atau keterikatan bawaan manusia terhadap alam. Konsep ini diperkenalkan oleh psikolog Edward O. Wilson pada 1984. Sumber biophilia meliputi cinta terhadap alam, kehidupan, lingkungan alami, dan semua bentuk kehidupan di bumi.
Frasa biophilia inilah yang menjadi pengikat pameran. Setiap seniman menghadirkan fragmen gagasan yang saling terhubung, membentuk dialog tentang bumi, relasi, ekstraksi, hingga kemungkinan hidup setelah kerusakan lewat instalasi, patung, film, hingga fotografi.
Misalnya, Fitri DK yang tak hanya membuat Tenda Perjuangan sebagai bentuk dukungan gerakan penolakan tambang semen di Pegunungan Kendeng. Seniman asal Yogyakarta ini juga membuat seri Mantra Ibu Bumi (2021).
Dibuat dengan teknik cetak cukil hardboard pada kain, karya berdimensi 101 cm x 144 cm ini terinspirasi dari lagu-lagu yang dilantunkan para petani Kendeng saat melakukan protes terhadap penambangan semen di Jawa Tengah.
Didominasi warna monokrom, instalasi ini seakan mengartikulasikan etika timbal balik, di mana bumi merespons setiap bentuk perusakan. Imbasnya adalah gambaran lingkungan yang hancur lewat banjir, tanah longsor, dan kekeringan.
Lain lagi dengan karya Reza Kutjh bertajuk Sand, Steel, and Those Who Remain (2026). Dibuat dengan teknik desain di atas kain menggunakan balok kayu, karya ini memotret konflik agraria terkait pembangunan Bandara Internasional Yogyakarta.
Menariknya, karya ini justru memusatkan perhatian pada lanskap yang tersisa, alih-alih manusia. Visual ini seakan menghadirkan fragmen arsitektural dan struktur ekologis, dengan memosisikan ruang sebagai arsip penggusuran, ingatan, dan transisi yang belum tuntas.
"Seri karya ini juga merangkai jejak visual dan material dari situs-situs yang tengah mengalami penghapusan berdasarkan wawancara dengan warga yang terdampak konflik agraria," katanya.
Saling Terhubung
Berbeda dengan sebelumnya yang mengurai konsumerisme, pameran Biophilia kali ini menempatkan manusia bukan sebagai entitas di luar alam, melainkan bagian di dalamnya. Begitu pula dengan karya yang dihadirkan, semuanya terhubung.
Terinspirasi dari permainan bernama Exquisite Corpse, pameran ini juga mencoba membongkar pengkaryaan tunggal dan makna linear. Setiap karya yang hadir menjadi bagian dari narasi tentang bumi, kerusakan, dan harapan.
Refleksi ini misalnya hadir dalam karya Teguh Ostenrik berjudul House of Eels (2022). Instalasi bawah laut ini dirancang sebagai terumbu buatan, berfungsi sekaligus sebagai bentuk patung, infrastruktur ekologis, dan ruang regenerasi.
Kendati dihadirkan melalui dokumentasi video, karya ini menegaskan seni sebagai intervensi lingkungan yang aktif. House of Eels juga menanggapi degradasi terumbu karang dengan memosisikan patung sebagai habitat, ruang perlindungan, dan penopang jangka panjang.
"Instalasi ini dirancang untuk bekerja dalam jangka waktu panjang, memungkinkan pertumbuhan biologis mentransformasi permukaan dan strukturnya," tulis Teguh.
Ada pula karya Arahmaiani yang tampil berbeda dengan memboyong karya bertajuk Bumi, Air, dan Tanah (2026). Dibuat dengan material tutup drum minyak, sang seniman mengolah simbol-simbol spiritual untuk menghubungkan ingatan kultural dengan tanggung jawab lingkungan.
Praktik Arahmaiani secara konsisten mengaitkan kekerasan ideologis, kerusakan ekologis, dan ekstraksi sebagai sistem yang saling terhubung. Karya ini juga membingkai koeksistensi sebagai keniscayaan etis yang berakar pada kepedulian terhadap keberlangsungan hidup bersama.
Kurator Miranti Dian Savitri mengatakan secara umum pameran ini dibagi menjadi tiga bab naratif, yakni relasi, kekerasan, dan pasca-kerusakan. Menurutnya, pembabakan tersebut bukan sekadar struktur kuratorial, melainkan cara membaca ulang posisi manusia terhadap bumi.
Dia menegaskan pameran ini juga tidak bermaksud memberi jawaban tunggal, melainkan membuka ruang refleksi kolektif. “Pertanyaannya bukan lagi bagaimana menyelamatkan bumi dari luar, melainkan bagaimana kita belajar menjadi bagian darinya kembali," katanya.
Baca juga: Takeaway Art: Pameran Seni Rupa untuk Generasi Muda dengan Konsep Jual-Beli Langsung
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.