GERD Kambuh Saat Perjalanan Mudik? Terapkan Langkah-langkah ini
23 March 2026 |
14:27 WIB
Arus balik menjadi momen ketika banyak orang kembali dari kampung halaman ke kota asal. Dalam perjalanan arus balik Lebaran, tak hanya menuntut kesiapan fisik, tetapi juga strategi menjaga kesehatan bagi penderita Gastroesophageal Reflux Disease (GERD). Pasalnya, risiko kekambuhan cukup tinggi di tengah perubahan ritme makan dan tekanan perjalanan.
Ketika jutaan orang bergerak menuju kampung halaman, risiko gangguan asam lambung menjadi tantangan tersembunyi yang kerap diabaikan, padahal dapat mengganggu kenyamanan hingga keselamatan perjalanan jika tidak diantisipasi sejak awal.
Baca juga: Dapat Picu Kecelakaan Saat Berkendara, Kenali Gejala dan Cara Menghindari Microsleep
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Gastroenterologi Hepatologi RS Pondok Indah, dr. Hasan Maulahela, menjelaskan, GERD merupakan gangguan pencernaan ketika asam lambung naik ke kerongkongan dan menyebabkan iritasi. Kondisi ini umumnya ditandai dengan sensasi terbakar di dada (heartburn), rasa asam di mulut, hingga mual dan nyeri dada.
Dalam perjalanan jauh, risiko kekambuhan GERD meningkat akibat kebiasaan makan yang tidak teratur. Terburu-buru makan dan minum saat sahur atau ketika berbuka di perjalanan dapat memicu kondisi tersebut.
Kemudian, Mengonsumsi makanan pedas, berlemak, atau minuman berkafein berlebihan. Posisi duduk terlalu lama yang menyebabkan tekanan pada area perut, juga mendorong asam lambung naik. “Stres dan kelelahan dalam perjalanan (juga menyebabkan GERD),” ujar Hasan, dikutip Hypeabis.id, Sabtu (21/3/2026).
Untuk itu, penderita GERD katanya perlu memahami langkah penanganan awal jika gejala kambuh di perjalanan, khususnya saat masih berpuasa. Pertama, melonggarkan pakaian, terutama di area perut, untuk mengurangi tekanan yang dapat memperburuk refluks asam.
Kedua, mengatur posisi tubuh dengan duduk tegak dan menghindari posisi membungkuk. Posisi kepala dan dada sebaiknya lebih tinggi dari perut agar gaya gravitasi membantu menahan asam lambung tetap di lambung.
Ketiga, melakukan teknik pernapasan dalam guna membantu merelaksasi otot saluran cerna sekaligus mengurangi stres yang dapat memperparah produksi asam lambung.
Kendati demikian, apabila gejala tidak mereda dan disertai keluhan berat seperti nyeri hebat di ulu hati, muntah, atau sesak napas, penderita disarankan untuk tidak memaksakan diri berpuasa. Segera berbuka dengan air hangat dan menghindari makanan atau minuman yang dapat memperburuk kondisi.
Nila keluhan berlanjut, pemeriksaan ke fasilitas kesehatan terdekat menjadi langkah yang perlu dilakukan. “Penting untuk mengetahui alamat-alamat rumah sakit di jalur mudik yang dilewati,” saran Hasan.
Selain penanganan saat kambuh, pencegahan juga menjadi kunci agar perjalanan mudik tetap nyaman. Penderita GERD disarankan tidak melewatkan sahur, memilih makanan tinggi serat dan karbohidrat kompleks, serta menghindari makan dalam porsi besar saat berbuka.
“Hindari balas dendam saat berbuka puasa. Makan dalam porsi kecil tetapi sering lebih baik dibandingkan dengan sekali makan besar yang membuat lambung menjadi kaget,” tambahnya.
Hasan juga mengingatkan agar tidak langsung berbaring setelah makan dan memberikan jeda minimal tiga jam. Pengelolaan stres selama perjalanan, termasuk beristirahat secara berkala di rest area, juga penting untuk mencegah kekambuhan.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Ketika jutaan orang bergerak menuju kampung halaman, risiko gangguan asam lambung menjadi tantangan tersembunyi yang kerap diabaikan, padahal dapat mengganggu kenyamanan hingga keselamatan perjalanan jika tidak diantisipasi sejak awal.
Baca juga: Dapat Picu Kecelakaan Saat Berkendara, Kenali Gejala dan Cara Menghindari Microsleep
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Gastroenterologi Hepatologi RS Pondok Indah, dr. Hasan Maulahela, menjelaskan, GERD merupakan gangguan pencernaan ketika asam lambung naik ke kerongkongan dan menyebabkan iritasi. Kondisi ini umumnya ditandai dengan sensasi terbakar di dada (heartburn), rasa asam di mulut, hingga mual dan nyeri dada.
Dalam perjalanan jauh, risiko kekambuhan GERD meningkat akibat kebiasaan makan yang tidak teratur. Terburu-buru makan dan minum saat sahur atau ketika berbuka di perjalanan dapat memicu kondisi tersebut.
Kemudian, Mengonsumsi makanan pedas, berlemak, atau minuman berkafein berlebihan. Posisi duduk terlalu lama yang menyebabkan tekanan pada area perut, juga mendorong asam lambung naik. “Stres dan kelelahan dalam perjalanan (juga menyebabkan GERD),” ujar Hasan, dikutip Hypeabis.id, Sabtu (21/3/2026).
Untuk itu, penderita GERD katanya perlu memahami langkah penanganan awal jika gejala kambuh di perjalanan, khususnya saat masih berpuasa. Pertama, melonggarkan pakaian, terutama di area perut, untuk mengurangi tekanan yang dapat memperburuk refluks asam.
Kedua, mengatur posisi tubuh dengan duduk tegak dan menghindari posisi membungkuk. Posisi kepala dan dada sebaiknya lebih tinggi dari perut agar gaya gravitasi membantu menahan asam lambung tetap di lambung.
Ketiga, melakukan teknik pernapasan dalam guna membantu merelaksasi otot saluran cerna sekaligus mengurangi stres yang dapat memperparah produksi asam lambung.
Kendati demikian, apabila gejala tidak mereda dan disertai keluhan berat seperti nyeri hebat di ulu hati, muntah, atau sesak napas, penderita disarankan untuk tidak memaksakan diri berpuasa. Segera berbuka dengan air hangat dan menghindari makanan atau minuman yang dapat memperburuk kondisi.
Nila keluhan berlanjut, pemeriksaan ke fasilitas kesehatan terdekat menjadi langkah yang perlu dilakukan. “Penting untuk mengetahui alamat-alamat rumah sakit di jalur mudik yang dilewati,” saran Hasan.
Selain penanganan saat kambuh, pencegahan juga menjadi kunci agar perjalanan mudik tetap nyaman. Penderita GERD disarankan tidak melewatkan sahur, memilih makanan tinggi serat dan karbohidrat kompleks, serta menghindari makan dalam porsi besar saat berbuka.
“Hindari balas dendam saat berbuka puasa. Makan dalam porsi kecil tetapi sering lebih baik dibandingkan dengan sekali makan besar yang membuat lambung menjadi kaget,” tambahnya.
Hasan juga mengingatkan agar tidak langsung berbaring setelah makan dan memberikan jeda minimal tiga jam. Pengelolaan stres selama perjalanan, termasuk beristirahat secara berkala di rest area, juga penting untuk mencegah kekambuhan.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.