Menyelami Spiritualitas Kaligrafi A.D. Pirous di Pameran WTC Jakarta
17 March 2026 |
15:30 WIB
Nama Abdul Djalil atau A.D. Pirous (1932–2024) tidak bisa dilepaskan dari khazanah seni kaligrafi modern Indonesia. Seniman asal Aceh itu dikenal sebagai salah satu lokomotor kaligrafi kontemporer di Tanah Air, sekaligus perintis dunia desain grafis Indonesia.
Refleksi atas perjalanan tersebut tampak pada pameran bertajuk Sebuah Jeda Peneduh di World Trade Centre (WTC) Jakarta. Pameran ini menandai kembali hadirnya karya-karya Pirous di kompleks tersebut setelah terakhir kali berpameran di sana pada 2016.
Baca juga: Dunia Imajinasi Seniman Oototol Hadir di Salihara dan ROH Projects
Pameran ini menampilkan senarai karya Pirous yang terinspirasi dari ayat-ayat Al-Qur’an. Berlangsung hingga 3 April 2026, kegiatan ini diinisiasi oleh Serambi Pirous, ISA Art and Design, serta WTC Jakarta.
“Pameran ini merupakan penghormatan bagi salah satu maestro pelukis Indonesia, yang karya-karya abstrak-naratifnya menawarkan seni sebagai ruang refleksi, kebajikan, dan kepedulian,” tulis laman Serambi Pirous.
Hal itu tercermin dalam 17 lukisan yang terpampang di lobi samping gedung WTC 3, Jakarta. Salah satu yang membetot perhatian adalah kaligrafi berjudul Asma Agung dengan Cahaya (2007) berdimensi 133 sentimeter (cm) x 70 cm.
Menorehkan lafaz Allah, Pirous menyederhanakan dan memecah aksara Arab menjadi bidang warna dan garis tegas. Huruf-hurufnya tidak ditulis secara literal, melainkan diabstraksikan melalui pendekatan geometris yang menjadi ciri khasnya.
Karya tersebut menampilkan komposisi vertikal yang kuat dengan dominasi bidang gelap di bagian bawah. Susunan ini menghadirkan kesan ruang hening—kedalaman spiritual tempat cahaya seolah muncul dan memancar.
Ada pula lukisan bertajuk Ingatlah akan Daku, dan Aku akan Ingat II (2014). Terinspirasi dari Surah Al-Baqarah ayat 152, karya ini menjadi pengingat bahwa tak ada jarak antara Sang Pencipta dan ciptaan-Nya.
Dari segi tata letak, pameran dibagi ke dalam tiga bagian yang merepresentasikan bagaimana Pirous bersinggungan dan memaknai alam tempat manusia hidup, yakni Alam Hati Manusia, Alam Bumi Langit, dan Alam Batin yang Hening.
Perwakilan kurator dari ISA Art and Design, Iwan, mengatakan pameran yang digelar pada bulan Ramadan hingga Lebaran ini hadir sebagai antitesis dari kebisingan dunia perdagangan, politik, dan diplomasi yang bergerak cepat tanpa henti.
Melalui gaya khas “abstrak-naratif”, A.D. Pirous tidak menghadirkan seni sebagai teka-teki visual yang rumit. Karyanya tampil sebagai pencerita sekaligus sahabat, mengajak siapa pun untuk sejenak “berpuasa” dari tuntutan ego dan ambisi duniawi.
Menurut Iwan, Pirous berupaya merajut kembali tiga relasi mendasar yang kerap terkoyak oleh kesibukan di tengah realitas yang semakin cepat: hubungan manusia dengan sesama, dengan bumi, serta dialog dengan Yang Ilahi.
“Meski karyanya kerap bersumber dari spiritualitas Islam, bahasa yang digunakannya adalah bahasa kebajikan yang universal,” kata dia.
Namun untuk memahami kedalaman karya-karya tersebut, jejak perjalanan estetik Pirous menjadi penting untuk ditilik—lintasan panjang yang menempa bahasa rupa, spiritualitas, sekaligus sikap artistiknya.
Perjalanan A.D. Pirous sebagai pelukis kaligrafi dimulai pada 1970-an. Sebelum menggeluti kaligrafi, dia melukis dengan tema-tema umum seperti alam dan bentuk visual lainnya, hingga akhirnya mengintegrasikan unsur huruf Arab ke dalam karyanya.
Sentuhan awal Pirous dengan kaligrafi memiliki kisah tersendiri. Saat melanjutkan studi di Amerika Serikat, dia kerap mengunjungi pameran seni. Di Metropolitan Museum of Art, New York, dia terpana pada karya kaligrafi tradisional Islam yang dipamerkan di sana.
Pengalaman itu membawanya pada ingatan akan artefak kaligrafi Islam di kampung halamannya di Aceh. Dari situlah muncul dorongan untuk menggali kembali kekayaan tradisi tersebut dan melahirkan identitas baru dalam seni rupa Indonesia melalui lukisan bercorak kaligrafi.
Jejak perjalanan itu masih terasa dalam pameran kali ini. Karya-karya yang ditampilkan memiliki tarikh beragam, mulai dari 1992 hingga 2021. Pada karya tertua, misalnya, Pirous belum sepenuhnya mengintegrasikan aksara Arab secara eksplisit.
Dalam lukisan berjudul Ufuk Emas yang Mengambang (1992), tampak komposisi dua bidang besar yang dipisahkan garis cahaya horizontal. Tidak ada figur maupun kaligrafi yang tegas. Namun, pendekatan spiritual Pirous tetap terasa melalui permainan cahaya dan ruang hening.
Sementara itu, pada karya termuda bertajuk Dengan Nama-Mu Mengasihi Alam (2021), publik disuguhi lukisan kaligrafi yang lebih tegas. Menariknya, tidak semua aksara dalam karya ini dapat dibaca secara harfiah, menegaskan pendekatan abstrak yang tetap dia pertahankan.
Ada pula lukisan yang berangkat dari kalimat “Kun fayakun” dalam karya berjudul Jadilah! Maka Dia Pun Jadilah (2018). Dilukis dengan teknik marble paste dan akrilik di atas kanvas berukuran 90 x 90 cm, karya ini merujuk pada Surah Yasin ayat 82.
“Lukisan-lukisan karya Pirous mengajak penonton untuk berhenti sejenak, merenung, dan terlibat lebih dalam dengan pengalaman batin masing-masing, menjadikan pameran ini relevan sekaligus bermakna,” kata Iwan.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Refleksi atas perjalanan tersebut tampak pada pameran bertajuk Sebuah Jeda Peneduh di World Trade Centre (WTC) Jakarta. Pameran ini menandai kembali hadirnya karya-karya Pirous di kompleks tersebut setelah terakhir kali berpameran di sana pada 2016.
Baca juga: Dunia Imajinasi Seniman Oototol Hadir di Salihara dan ROH Projects
Pameran ini menampilkan senarai karya Pirous yang terinspirasi dari ayat-ayat Al-Qur’an. Berlangsung hingga 3 April 2026, kegiatan ini diinisiasi oleh Serambi Pirous, ISA Art and Design, serta WTC Jakarta.
“Pameran ini merupakan penghormatan bagi salah satu maestro pelukis Indonesia, yang karya-karya abstrak-naratifnya menawarkan seni sebagai ruang refleksi, kebajikan, dan kepedulian,” tulis laman Serambi Pirous.
Hal itu tercermin dalam 17 lukisan yang terpampang di lobi samping gedung WTC 3, Jakarta. Salah satu yang membetot perhatian adalah kaligrafi berjudul Asma Agung dengan Cahaya (2007) berdimensi 133 sentimeter (cm) x 70 cm.
Menorehkan lafaz Allah, Pirous menyederhanakan dan memecah aksara Arab menjadi bidang warna dan garis tegas. Huruf-hurufnya tidak ditulis secara literal, melainkan diabstraksikan melalui pendekatan geometris yang menjadi ciri khasnya.
Karya tersebut menampilkan komposisi vertikal yang kuat dengan dominasi bidang gelap di bagian bawah. Susunan ini menghadirkan kesan ruang hening—kedalaman spiritual tempat cahaya seolah muncul dan memancar.
Ada pula lukisan bertajuk Ingatlah akan Daku, dan Aku akan Ingat II (2014). Terinspirasi dari Surah Al-Baqarah ayat 152, karya ini menjadi pengingat bahwa tak ada jarak antara Sang Pencipta dan ciptaan-Nya.

7Senarai karya A.D Pirous dalam pameran bertajuk Sebuah Jeda Peneduh di World Trade Centre (WTC) Jakarta. (sumber gambar: ISA Art Design)
Dari segi tata letak, pameran dibagi ke dalam tiga bagian yang merepresentasikan bagaimana Pirous bersinggungan dan memaknai alam tempat manusia hidup, yakni Alam Hati Manusia, Alam Bumi Langit, dan Alam Batin yang Hening.
Perwakilan kurator dari ISA Art and Design, Iwan, mengatakan pameran yang digelar pada bulan Ramadan hingga Lebaran ini hadir sebagai antitesis dari kebisingan dunia perdagangan, politik, dan diplomasi yang bergerak cepat tanpa henti.
Melalui gaya khas “abstrak-naratif”, A.D. Pirous tidak menghadirkan seni sebagai teka-teki visual yang rumit. Karyanya tampil sebagai pencerita sekaligus sahabat, mengajak siapa pun untuk sejenak “berpuasa” dari tuntutan ego dan ambisi duniawi.
Menurut Iwan, Pirous berupaya merajut kembali tiga relasi mendasar yang kerap terkoyak oleh kesibukan di tengah realitas yang semakin cepat: hubungan manusia dengan sesama, dengan bumi, serta dialog dengan Yang Ilahi.
“Meski karyanya kerap bersumber dari spiritualitas Islam, bahasa yang digunakannya adalah bahasa kebajikan yang universal,” kata dia.
Namun untuk memahami kedalaman karya-karya tersebut, jejak perjalanan estetik Pirous menjadi penting untuk ditilik—lintasan panjang yang menempa bahasa rupa, spiritualitas, sekaligus sikap artistiknya.
Imam Seni Kaligrafi
Perjalanan A.D. Pirous sebagai pelukis kaligrafi dimulai pada 1970-an. Sebelum menggeluti kaligrafi, dia melukis dengan tema-tema umum seperti alam dan bentuk visual lainnya, hingga akhirnya mengintegrasikan unsur huruf Arab ke dalam karyanya.Sentuhan awal Pirous dengan kaligrafi memiliki kisah tersendiri. Saat melanjutkan studi di Amerika Serikat, dia kerap mengunjungi pameran seni. Di Metropolitan Museum of Art, New York, dia terpana pada karya kaligrafi tradisional Islam yang dipamerkan di sana.
Pengalaman itu membawanya pada ingatan akan artefak kaligrafi Islam di kampung halamannya di Aceh. Dari situlah muncul dorongan untuk menggali kembali kekayaan tradisi tersebut dan melahirkan identitas baru dalam seni rupa Indonesia melalui lukisan bercorak kaligrafi.
Jejak perjalanan itu masih terasa dalam pameran kali ini. Karya-karya yang ditampilkan memiliki tarikh beragam, mulai dari 1992 hingga 2021. Pada karya tertua, misalnya, Pirous belum sepenuhnya mengintegrasikan aksara Arab secara eksplisit.
Dalam lukisan berjudul Ufuk Emas yang Mengambang (1992), tampak komposisi dua bidang besar yang dipisahkan garis cahaya horizontal. Tidak ada figur maupun kaligrafi yang tegas. Namun, pendekatan spiritual Pirous tetap terasa melalui permainan cahaya dan ruang hening.
Sementara itu, pada karya termuda bertajuk Dengan Nama-Mu Mengasihi Alam (2021), publik disuguhi lukisan kaligrafi yang lebih tegas. Menariknya, tidak semua aksara dalam karya ini dapat dibaca secara harfiah, menegaskan pendekatan abstrak yang tetap dia pertahankan.
Ada pula lukisan yang berangkat dari kalimat “Kun fayakun” dalam karya berjudul Jadilah! Maka Dia Pun Jadilah (2018). Dilukis dengan teknik marble paste dan akrilik di atas kanvas berukuran 90 x 90 cm, karya ini merujuk pada Surah Yasin ayat 82.
“Lukisan-lukisan karya Pirous mengajak penonton untuk berhenti sejenak, merenung, dan terlibat lebih dalam dengan pengalaman batin masing-masing, menjadikan pameran ini relevan sekaligus bermakna,” kata Iwan.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.