Dunia Imajinasi Seniman Oototol Hadir di Salihara dan ROH Projects
12 March 2026 |
15:39 WIB
Genhype penikmat seni di Jakarta kini berkesempatan mengenal lebih dekat karya seniman Oototol. Karya perupa asal Bali itu dipajang dalam pameran tunggal perdananya di Jakarta bertajuk Warna Hidup di ROH Projects dan Galeri Salihara. Presentasi di dua lokasi ini menghadirkan senarai karya yang memperlihatkan dunia visual unik Oototol.
Di Komunitas Salihara pameran berlangsung pada 8 Maret hingga 26 April 2026, sedangkan di ROH Projects digelar pada 7 Maret sampai 3 Mei 2026. Nama Oototol mungkin belum terlalu familiar bagi publik luas di Indonesia. Padahal di Bali, dia dikenal sebagai perupa dengan gaya gambar yang khas dan sulit disamakan dengan seniman lain pada masanya, bahkan hingga hari ini.
Baca juga: Bagaimana Seniman Angki Purbandono Menemukan Filosofi Hidup Lewat Bunga?
Oototol memiliki nama asli Dewa Raram (tahun lahir tidak diketahui–2009) dan berasal dari Desa Pengosekan, Ubud. Dia tidak pernah menempuh pendidikan seni formal, tetapi mengembangkan praktik melukis secara intensif selama bertahun-tahun.
Karya-karyanya umumnya dibuat dengan tinta hitam menggunakan pena bambu atau kuas. Lukisan-lukisannya banyak menggambarkan figur manusia, hewan, dan berbagai kendaraan dalam komposisi yang panjang dan ritmis, menyerupai panel cerita seperti pada relief.
Di Komunitas Salihara, pengunjung dapat melihat sekitar 17 karya yang menampilkan figur-figur berseragam dalam berbagai adegan. Tokoh-tokoh ini kerap digambarkan menaiki kendaraan atau menunggang hewan mitologis dengan cara yang terasa ganjil dan jenaka.
Menurut Manajer Galeri Salihara Ibrahim Soetomo, ruang galeri yang berbentuk elips turut memperkuat karakter visual karya-karya tersebut. “Bentuk elips ruang mendukung motif-motif berulang dalam karya Oototol yang banyak berbentuk bulat dan melengkung,” ujarnya.
Komposisi memanjang dalam lukisan Oototol juga mengingatkan pada tradisi visual Nusantara. Panel-panel tersebut terasa seperti relief naratif yang menceritakan kehidupan sehari-hari, sebagaimana terlihat pada relief candi-candi di Nusantara.
Figur berseragam menjadi elemen yang paling sering muncul dalam karya-karyanya. Sosok itu bisa tampil sebagai pekerja, penunggang hewan, atau sekadar tokoh yang berjalan dalam barisan panjang dengan adegan yang berulang.
Seniman Edmondo Zanolini, yang pernah bekerja bersama Oototol selama bertahun-tahun di Bali, menyebut figur tersebut sebagai karakter yang terus muncul dalam berbagai situasi. “Figur itu sebenarnya orang yang sama, tetapi muncul dalam banyak situasi berbeda,” katanya.
Menurut Zanolini, Oototol memiliki kemampuan menggabungkan pengamatan realitas dengan imajinasi yang bebas. Detail seperti motor di jalan, gerbang pura, hingga aktivitas desa sering muncul dalam lukisannya.
Referensi visual karya Oototol juga datang dari berbagai sumber. Potongan majalah seni, foto patung klasik, hingga karya seni kontemporer ditempatkan Zanolini di sekitar studio untuk memperkaya imajinasinya.
“Dia hampir tidak pernah keluar dari desa Pengosekan dan jarang berinteraksi secara sosial. Dari sinilah karya-karyanya menjadi ruang untuk membayangkan kehidupan orang lain,” ujarnya.
Bagi penikmat seni, Warna Hidup dapat menjadi pintu masuk untuk memahami salah satu praktik seni paling unik yang lahir dari Bali. Pameran ini juga menjadi kesempatan langka bagi publik Jakarta untuk menyaksikan dunia visual Oototol secara langsung.
Di Komunitas Salihara pameran berlangsung pada 8 Maret hingga 26 April 2026, sedangkan di ROH Projects digelar pada 7 Maret sampai 3 Mei 2026. Nama Oototol mungkin belum terlalu familiar bagi publik luas di Indonesia. Padahal di Bali, dia dikenal sebagai perupa dengan gaya gambar yang khas dan sulit disamakan dengan seniman lain pada masanya, bahkan hingga hari ini.
Baca juga: Bagaimana Seniman Angki Purbandono Menemukan Filosofi Hidup Lewat Bunga?
Oototol memiliki nama asli Dewa Raram (tahun lahir tidak diketahui–2009) dan berasal dari Desa Pengosekan, Ubud. Dia tidak pernah menempuh pendidikan seni formal, tetapi mengembangkan praktik melukis secara intensif selama bertahun-tahun.
Karya-karyanya umumnya dibuat dengan tinta hitam menggunakan pena bambu atau kuas. Lukisan-lukisannya banyak menggambarkan figur manusia, hewan, dan berbagai kendaraan dalam komposisi yang panjang dan ritmis, menyerupai panel cerita seperti pada relief.
Di Komunitas Salihara, pengunjung dapat melihat sekitar 17 karya yang menampilkan figur-figur berseragam dalam berbagai adegan. Tokoh-tokoh ini kerap digambarkan menaiki kendaraan atau menunggang hewan mitologis dengan cara yang terasa ganjil dan jenaka.
Menurut Manajer Galeri Salihara Ibrahim Soetomo, ruang galeri yang berbentuk elips turut memperkuat karakter visual karya-karya tersebut. “Bentuk elips ruang mendukung motif-motif berulang dalam karya Oototol yang banyak berbentuk bulat dan melengkung,” ujarnya.
Komposisi memanjang dalam lukisan Oototol juga mengingatkan pada tradisi visual Nusantara. Panel-panel tersebut terasa seperti relief naratif yang menceritakan kehidupan sehari-hari, sebagaimana terlihat pada relief candi-candi di Nusantara.
Figur berseragam menjadi elemen yang paling sering muncul dalam karya-karyanya. Sosok itu bisa tampil sebagai pekerja, penunggang hewan, atau sekadar tokoh yang berjalan dalam barisan panjang dengan adegan yang berulang.
Seniman Edmondo Zanolini, yang pernah bekerja bersama Oototol selama bertahun-tahun di Bali, menyebut figur tersebut sebagai karakter yang terus muncul dalam berbagai situasi. “Figur itu sebenarnya orang yang sama, tetapi muncul dalam banyak situasi berbeda,” katanya.
Menurut Zanolini, Oototol memiliki kemampuan menggabungkan pengamatan realitas dengan imajinasi yang bebas. Detail seperti motor di jalan, gerbang pura, hingga aktivitas desa sering muncul dalam lukisannya.
Referensi visual karya Oototol juga datang dari berbagai sumber. Potongan majalah seni, foto patung klasik, hingga karya seni kontemporer ditempatkan Zanolini di sekitar studio untuk memperkaya imajinasinya.
“Dia hampir tidak pernah keluar dari desa Pengosekan dan jarang berinteraksi secara sosial. Dari sinilah karya-karyanya menjadi ruang untuk membayangkan kehidupan orang lain,” ujarnya.
Bagi penikmat seni, Warna Hidup dapat menjadi pintu masuk untuk memahami salah satu praktik seni paling unik yang lahir dari Bali. Pameran ini juga menjadi kesempatan langka bagi publik Jakarta untuk menyaksikan dunia visual Oototol secara langsung.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.