Dokter Ungkap Masalah Kesehatan Gigi & Mulut yang Sering Muncul Saat Puasa
23 February 2026 |
17:00 WIB
Selama bulan puasa, terjadi perubahan signifikan pada pola makan dan minum. Perubahan tersebut rupanya berpengaruh terhadap tingkat energi serta proses metabolisme tubuh seseorang. Selain itu, kondisi ini juga berdampak pada kesehatan gigi dan rongga mulut.
Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia Usman Sumantri mengatakan kesehatan gigi dan mulut saat Ramadan kerap kali diabaikan oleh sebagian orang. Padahal, perubahan pola makan dan minimnya asupan cairan selama berjam-jam juga sangat memengaruhi kondisi kesehatan gigi dan mulut.
Baca juga: 5 Tips Perawatan Kulit Selama Ramadan, Tetap Bercahaya Saat Berpuasa
Usman menjelaskan bahwa ketika tubuh tidak menerima asupan makanan dan minuman dalam waktu cukup lama, rongga mulut akan merespons dengan menurunkan produksi saliva atau air liur. Kondisi ini penting diperhatikan, karena saliva berperan dalam membersihkan sisa-sisa makanan sekaligus membantu menekan pertumbuhan bakteri di dalam mulut.
"Akibatnya, terjadi aktivitas bakteri yang lebih banyak di rongga mulut, terutama lidah dan sela gigi, yang kemudian menghasilkan sulfur volatil penyebab bau," ucapnya.
Berkurangnya produksi air liur selama berpuasa turut memicu penumpukan plak dan sisa makanan, terutama jika kebersihan mulut tidak dijaga dengan baik.
Sementara itu, bau mulut juga dapat dipengaruhi oleh naiknya asam lambung pada sebagian orang, khususnya mereka yang memiliki riwayat gastritis atau refluks. Faktor lain yang tak kalah berperan adalah adanya gigi berlubang maupun penyakit gusi yang sudah dialami sebelumnya.
"Secara fisiologis, saat puasa tubuh juga membakar cadangan lemak (proses ketosis), yang dapat menghasilkan bau khas pada napas," imbuhnya.
Terlepas dari meningkatnya aktivitas bakteri yang memicu bau mulut, menjaga kesehatan gigi dan mulut tetap krusial karena dapat mencegah timbulnya gangguan yang lebih serius.
Jika kebersihan rongga mulut tidak dijaga dengan baik, peradangan gusi atau gingivitis dapat terjadi. Selain itu, gigi berlubang yang sudah ada pun berisiko menjadi semakin parah.
Pada sebagian orang, kurangnya perawatan juga dapat menyebabkan sariawan atau infeksi jamur di area mulut. Dampak lainnya adalah terganggunya kenyamanan saat menyantap hidangan sahur maupun berbuka.
"Dalam jangka panjang, penyakit gigi dan gusi dapat memengaruhi kesehatan umum, termasuk meningkatkan risiko peradangan sistemik," jelasnya.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia Usman Sumantri mengatakan kesehatan gigi dan mulut saat Ramadan kerap kali diabaikan oleh sebagian orang. Padahal, perubahan pola makan dan minimnya asupan cairan selama berjam-jam juga sangat memengaruhi kondisi kesehatan gigi dan mulut.
Baca juga: 5 Tips Perawatan Kulit Selama Ramadan, Tetap Bercahaya Saat Berpuasa
Usman menjelaskan bahwa ketika tubuh tidak menerima asupan makanan dan minuman dalam waktu cukup lama, rongga mulut akan merespons dengan menurunkan produksi saliva atau air liur. Kondisi ini penting diperhatikan, karena saliva berperan dalam membersihkan sisa-sisa makanan sekaligus membantu menekan pertumbuhan bakteri di dalam mulut.
"Akibatnya, terjadi aktivitas bakteri yang lebih banyak di rongga mulut, terutama lidah dan sela gigi, yang kemudian menghasilkan sulfur volatil penyebab bau," ucapnya.
Berkurangnya produksi air liur selama berpuasa turut memicu penumpukan plak dan sisa makanan, terutama jika kebersihan mulut tidak dijaga dengan baik.
Sementara itu, bau mulut juga dapat dipengaruhi oleh naiknya asam lambung pada sebagian orang, khususnya mereka yang memiliki riwayat gastritis atau refluks. Faktor lain yang tak kalah berperan adalah adanya gigi berlubang maupun penyakit gusi yang sudah dialami sebelumnya.
"Secara fisiologis, saat puasa tubuh juga membakar cadangan lemak (proses ketosis), yang dapat menghasilkan bau khas pada napas," imbuhnya.
Terlepas dari meningkatnya aktivitas bakteri yang memicu bau mulut, menjaga kesehatan gigi dan mulut tetap krusial karena dapat mencegah timbulnya gangguan yang lebih serius.
Jika kebersihan rongga mulut tidak dijaga dengan baik, peradangan gusi atau gingivitis dapat terjadi. Selain itu, gigi berlubang yang sudah ada pun berisiko menjadi semakin parah.
Pada sebagian orang, kurangnya perawatan juga dapat menyebabkan sariawan atau infeksi jamur di area mulut. Dampak lainnya adalah terganggunya kenyamanan saat menyantap hidangan sahur maupun berbuka.
"Dalam jangka panjang, penyakit gigi dan gusi dapat memengaruhi kesehatan umum, termasuk meningkatkan risiko peradangan sistemik," jelasnya.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.