Senarai karya dalam pameran Takeaway Art #2: Biodiversa, Resonansi Nusantara di ruang seni Creativite Indonesia, Neha Hub, Jakarta Selatan. (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)

Saat Fauna Jadi Cermin Manusia: Refleksi di Pameran Takeaway Art #2 Jakarta

19 February 2026   |   15:16 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Belasan seniman berbagi pengalaman lewat karya. Mereka berkomunikasi melalui bahasa rupa, menuangkan gagasan ke dalam bentuk estetik yang sarat simbol, sekaligus membuka ruang refleksi tentang isu-isu yang dekat dengan keseharian.

Salah satunya adalah Ivan Bestari Minar Pradipta yang menghadirkan seni kaca dari botol bekas. Berjudul Glass Spider, karya berdimensi 8x20 sentimeter ini menampilkan untaian kaca yang dijalin sedemikian rupa sehingga membentuk sosok laba-laba.

Baca juga: Seniman Angki Purbandono Arsipkan 73 Jenis Bunga Kota dalam Pameran Berbunga-bunga

Dibuat dengan teknik flameworking atau memanaskan kaca dengan api, karya ini terbilang unik. Di Indonesia, seniman yang mengeksplorasi seni kaca bisa dihitung jari. Kehadiran Glass Spider juga memberi warna tersendiri di tengah dominasi medium konvensional.

Hadir pula karya lain dengan metode serupa, Fragile Coral Garden, yang menyerupai untaian manik-manik rapuh seolah menyinggung tentang ekosistem yang rentan sekaligus indah. Dalam karya ini, sang seniman membuat rangkaian seni kaca yang mengimak terumbu karang.
 

Karya  Ivan Bestari Minar Pradipta

Karya Ivan Bestari Minar Pradipta, dalam pameran Takeaway Art #2: Biodiversa, Resonansi Nusantara di ruang seni Creativite Indonesia, Neha Hub, Jakarta Selatan. (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)


Seluruh karya tersebut dipamerkan di ruang seni Creativite Indonesia, Neha Hub, Jakarta Selatan, hingga 27 Februari 2026. Mengusung tajuk Takeaway Art #2: Biodiversa, Resonansi Nusantara, pameran ini bertujuan merangkul generasi muda agar lebih dekat dengan dunia seni.

Berbeda dari seri sebelumnya, Takeaway Art #2 mengangkat tema fauna sebagai bagian dari rangkaian tema tahunan empat edisi. Momentum ini juga dikaitkan dengan Hari Hewan Sedunia, sehingga pameran tidak hanya artistik, tetapi juga kontekstual dan edukatif.

“Dengan kerja sama komunitas adopsi, pameran ini membawa pesan bahwa karya seni bukan hanya soal estetika, tetapi juga alat kampanye empati terhadap hewan dan lingkungan,” kata Owner Neha Hub, Gie Sanjaya.

Selain Ivan dan Cycya, pameran ini juga menampilkan karya Bnuuy, Camila Astari, Dhawa Rezkyana, Muhammad Fauzan, Henry ‘Koi’ Kresna, Jessy Fnu, Labaika Adkha Maharani, Nadief Ashr, Nue Prastowo, Prabu Perdana, Prajna Dewantara, Rato Tanggela, Sofya Shukhova, Tjokorda Bagus, serta Vonny Ratna Indah.

Setiap seniman hanya mengirimkan dua karya dengan ukuran minimal 20x20 atau 30x50 sentimeter. Pola ini dipilih untuk menyiasati keterbatasan ruang sekaligus membuat seni terasa lebih aksesibel dan tidak intimidatif bagi pengunjung.

Berbeda dari pameran konvensional, setiap karya yang terjual bisa langsung dibawa pulang tanpa menunggu akhir periode. “Pameran ini dibangun dengan pendekatan kolektif, santai, dan organik, sehingga atmosfernya lebih hangat dan tidak kaku,” imbuh Gie.

Berkelanjutan
Mulai digelar sejak pertengahan 2025, Takeaway Art dirancang sebagai program jangka panjang yang tidak berhenti pada satu edisi. Bagi Gie Sanjaya, keberlanjutan menjadi kunci agar pameran ini tidak sekadar hadir sebagai agenda sesaat, melainkan tumbuh menjadi ekosistem yang hidup.

Berbeda dengan edisi pertama yang masih bersifat eksperimental, kini Takeaway Art memasuki fase yang lebih terstruktur. Setiap edisi tidak hanya menampilkan karya seni, tetapi juga dirancang sebagai ruang temu lintas komunitas, dari pecinta hewan hingga pelaku UMKM.

Gie menegaskan, arah ini sengaja dipilih agar Takeaway Art tidak terjebak dalam eksklusivitas dunia seni. Format pameran dibangun dengan pendekatan kolektif agar atmosfernya lebih hangat dan mampu menarik generasi muda yang selama ini merasa jauh dari galeri.

“Pengunjung bahkan bisa memesan karya berdasarkan foto hewan peliharaan mereka, lalu diinterpretasikan oleh seniman sesuai gaya masing-masing,” katanya.

Refleksi dari konsep tersebut muncul dalam lukisan Bnuuy melalui karya We Are in the Warmth (2024) dan Taste Togetherness (2024). Menggunakan media akrilik di atas kanvas, sang seniman melukis kelimun kelinci dalam berbagai pose dan warna.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Artopologi (@artopologi)


Ada pula karya Rato Tanggela yang mengeksplorasi konsep antropomorfik, ketika sifat manusia seperti emosi dan perilaku divisualkan lewat figur hewan. Pendekatan ini membuat tema fauna berkembang menjadi medium membaca relasi sosial manusia modern.

Salah satu yang menonjol adalah figur anjing bernama Buddy, yang diposisikan Rato sebagai simbol mereka yang kerap terpinggirkan. Dalam karya Sebuah Doa dalam Keheningan (2025), berdimensi 20x20 sentimeter, sang seniman menggambar anjing yang sedang berdoa dalam suasana sunyi.

Bagi Rato, hewan menjadi medium yang lebih aman untuk menyampaikan gagasan sosial tanpa terasa menggurui. Dari situ, karakter seperti anjing, ayam, hingga burung hadir sebagai metafora emosi, ketahanan, dan kegelisahan manusia kota.

Pilihan format karya berukuran kecil juga bukan tanpa alasan. “Aku sengaja bikin karya kecil supaya orang tidak merasa terintimidasi dan lebih berani mendekat,” kata Rato. 

SEBELUMNYA

Rekomendasi Drone Provesional yang Bikin Konten Makin Sinematik

BERIKUTNYA

Andrew Susanto Kupas Strategi Bisnis Terstruktur dalam Buku Game Plan

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga