Tayang Lebaran, Film Pelangi di Mars Angkat Isu Krisis Air & Lingkungan
19 February 2026 |
07:00 WIB
Sutradara Upie Guava kembali hadir dengan karya layar lebar setelah sebelumnya membuat dokudrama bertajuk Kemarin. Terbaru, sineas dan penyanyi itu merilis Pelangi di Mars sebagai film keluarga dengan latar futuristik.
Dijadwalkan tayang saat Lebaran, film ini dikembangkan dengan teknologi Extended Reality (XR). Pelangi di Mars menghadirkan lanskap Mars yang dibangun melalui perpaduan animasi 3D dan produksi virtual di Studio DossGuavaXR.
Baca juga: Sutradara Upie Guava Ungkap Rumitnya Teknis Pembuatan Film Pelangi di Mars
Di balik kemasan petualangan fiksi ilmiah, film ini juga menyoroti isu krisis air bersih dan kerusakan lingkungan. Cerita bermula dari kondisi Bumi yang mengalami kelangkaan air akibat eksploitasi dan perubahan iklim.
Pelangi dan ibunya, Pratiwi, dikirim ke Planet Mars untuk mencari mineral bernama Zeolith Omega yang diyakini dapat menjadi solusi krisis air. Namun, keduanya justru terdampar di planet tersebut, situasi yang menguji hubungan personal mereka sebagai ibu dan anak.
Upie Guava mengungkapkan bahwa film ini berbeda dari banyak film anak yang menjadikan sosok dewasa sebagai pusat solusi. Pelangi di Mars, paparnya, ingin menempatkan anak sebagai subjek yang aktif sekaligus menghadirkan tontonan alternatif bagi keluarga.
“Premis utama dari film ini bukan hanya mengikuti keadaan, melainkan mengambil keputusan, memimpin, dan belajar menghadapi persoalan,” katanya dalam taklimat resmi.
Isu krisis air dihadirkan sebagai konteks yang relevan dengan realitas hari ini. Upie mengaku percaya bahwa perubahan iklim adalah persoalan nyata yang perlu disikapi bersama, namun ia tidak ingin menyampaikan kegelisahan itu secara menggurui.
Tokoh Pelangi digambarkan tumbuh dalam situasi yang tidak ideal, tetapi tetap memiliki keberanian dan rasa ingin tahu. Ia tidak sekadar mendampingi sang ibu, melainkan terlibat langsung dalam pencarian solusi.
“Anak-anak tidak suka digurui,” ujarnya. Karena itu, pesan tentang pentingnya menjaga lingkungan diselipkan melalui petualangan, konflik, dan dinamika emosional para tokohnya.
Selaras, produser Dendi Reynando menyebut gagasan film ini lahir dari keinginan menghadirkan tontonan keluarga yang relevan dengan isu global. Menurutnya, film anak dan keluarga di Indonesia masih terbatas jumlahnya.
“Kami ingin memberi alternatif, agar anak-anak Indonesia punya cerita mereka sendiri yang dekat dengan masa depan mereka,” ujarnya.
Dendi menambahkan bahwa penggunaan teknologi XR bukan semata untuk memamerkan kecanggihan visual. Teknologi tersebut dimanfaatkan untuk membangun pengalaman imersif yang memperkuat pesan cerita di tengah isu krisis lingkungan di Bumi.
Kristo Immanuel, pengisi suara robot Yoman, juga menyampaikan apresiasinya terhadap keseriusan produksi film ini. Menurutnya, anak-anak Indonesia layak mendapatkan tontonan dengan kualitas yang digarap sungguh-sungguh.
"Film ini juga mengajak anak-anak membayangkan diri mereka sebagai bagian dari solusi, bukan sekadar penonton perubahan," katanya.
Film Pelangi di Mars turut dimeriahkan oleh Messi Gusti sebagai Pelangi dan Lutesha sebagai Pratiwi. Selain itu, Rio Dewanto, Livy Renata, Myesha Lin Adeeva, dan sejumlah nama lain juga terlibat dalam produksi ini.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Dijadwalkan tayang saat Lebaran, film ini dikembangkan dengan teknologi Extended Reality (XR). Pelangi di Mars menghadirkan lanskap Mars yang dibangun melalui perpaduan animasi 3D dan produksi virtual di Studio DossGuavaXR.
Baca juga: Sutradara Upie Guava Ungkap Rumitnya Teknis Pembuatan Film Pelangi di Mars
Di balik kemasan petualangan fiksi ilmiah, film ini juga menyoroti isu krisis air bersih dan kerusakan lingkungan. Cerita bermula dari kondisi Bumi yang mengalami kelangkaan air akibat eksploitasi dan perubahan iklim.
Pelangi dan ibunya, Pratiwi, dikirim ke Planet Mars untuk mencari mineral bernama Zeolith Omega yang diyakini dapat menjadi solusi krisis air. Namun, keduanya justru terdampar di planet tersebut, situasi yang menguji hubungan personal mereka sebagai ibu dan anak.
Upie Guava mengungkapkan bahwa film ini berbeda dari banyak film anak yang menjadikan sosok dewasa sebagai pusat solusi. Pelangi di Mars, paparnya, ingin menempatkan anak sebagai subjek yang aktif sekaligus menghadirkan tontonan alternatif bagi keluarga.
“Premis utama dari film ini bukan hanya mengikuti keadaan, melainkan mengambil keputusan, memimpin, dan belajar menghadapi persoalan,” katanya dalam taklimat resmi.
Isu krisis air dihadirkan sebagai konteks yang relevan dengan realitas hari ini. Upie mengaku percaya bahwa perubahan iklim adalah persoalan nyata yang perlu disikapi bersama, namun ia tidak ingin menyampaikan kegelisahan itu secara menggurui.
Tokoh Pelangi digambarkan tumbuh dalam situasi yang tidak ideal, tetapi tetap memiliki keberanian dan rasa ingin tahu. Ia tidak sekadar mendampingi sang ibu, melainkan terlibat langsung dalam pencarian solusi.
“Anak-anak tidak suka digurui,” ujarnya. Karena itu, pesan tentang pentingnya menjaga lingkungan diselipkan melalui petualangan, konflik, dan dinamika emosional para tokohnya.
Selaras, produser Dendi Reynando menyebut gagasan film ini lahir dari keinginan menghadirkan tontonan keluarga yang relevan dengan isu global. Menurutnya, film anak dan keluarga di Indonesia masih terbatas jumlahnya.
“Kami ingin memberi alternatif, agar anak-anak Indonesia punya cerita mereka sendiri yang dekat dengan masa depan mereka,” ujarnya.
Dendi menambahkan bahwa penggunaan teknologi XR bukan semata untuk memamerkan kecanggihan visual. Teknologi tersebut dimanfaatkan untuk membangun pengalaman imersif yang memperkuat pesan cerita di tengah isu krisis lingkungan di Bumi.
Kristo Immanuel, pengisi suara robot Yoman, juga menyampaikan apresiasinya terhadap keseriusan produksi film ini. Menurutnya, anak-anak Indonesia layak mendapatkan tontonan dengan kualitas yang digarap sungguh-sungguh.
"Film ini juga mengajak anak-anak membayangkan diri mereka sebagai bagian dari solusi, bukan sekadar penonton perubahan," katanya.
Film Pelangi di Mars turut dimeriahkan oleh Messi Gusti sebagai Pelangi dan Lutesha sebagai Pratiwi. Selain itu, Rio Dewanto, Livy Renata, Myesha Lin Adeeva, dan sejumlah nama lain juga terlibat dalam produksi ini.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.