Resensi Buku Kios Pasar Sore, Merayakan Hal-hal Kecil dalam Hidup
13 February 2026 |
18:34 WIB
Reda Gaudiamo kembali menunjukkan kepiawaiannya dalam merangkai kisah-kisah sederhana menjadi sesuatu yang lebih bermakna. Dalam Kios Pasar Sore dan Cerita Orang-Orang Biasa Lainnya, dia membuktikan bahwa kehidupan sehari-hari tidak pernah benar-benar biasa bila diperhatikan dengan mata yang jeli dan hati yang peka.
Layaknya film Perfect Days karya Wim Wenders, buku Kios Pasar Sore juga melakukan hal serupa. Buku ini mencoba memperlihatkan bahwa setiap hidup memiliki nilai, setiap sosok membawa kisah yang layak didengar.
Baca juga: Resensi Laboratorium Palestina: Membongkar Bisnis Gelap di Balik Okupasi Israel
Reda membingkai kehidupan layaknya pasar yang ramai. Setiap orang layaknya kios dengan kisah dan pengalamannya masing-masing. Meski dari luar tampak serupa, tetapi ketika didekati selalu ada cerita yang tak pernah sama.
Total, ada 31 cerita pendek yang dikemas dengan gaya penceritaan yang berbeda-beda. Ada bagian yang terasa lucu dan hangat, tetapi ada pula momen ketika narasi membawa pembaca pada suasana yang pahit.
Ada kisah tentang seorang lelaki tua yang menikahi perempuan jauh lebih muda, lalu pada akhirnya harus melepaskannya ketika arah cinta sang istri bergeser. Ada pula potret seorang duda yang begitu larut dalam pencarian kesenangannya sendiri hingga abai terhadap anak-anaknya.
Kisah-kisah ini seolah tengah menyoroti bagaimana hubungan manusia, terutama dalam lingkup keluarga, tidak pernah sesederhana tampilan luarnya. Sebab, di balik romansa, selalu ada kerapuhan, ego, dan perbedaan pandangan yang mesti dicari jalan keluarnya setiap waktu.
Buku ini juga menyoroti fenomena seseorang yang tiba-tiba menyukai kucing. Dari mulanya membenci, kemudian memberi makan dan memeliharanya tanpa disadari jumlahnya telah puluhan. Dia akhirnya merasa tak mampu mengurusnya lagi.
Dalam bab soal kucing tersebut, Reda seolah mencoba membawa pembaca ke perenungan soal kasih sayang dan tanggung jawab dengan cara yang menarik. Sebab, kasih sayang digambarkan bukan hanya soal mau memberi, melainkan juga kesanggupan menerima konsekuensinya.
Kisah-kisah yang seolah remeh, biasa, dan mudah ditemui, dibawa Reda ke dalam dimensi yang menggugah. Bahasa yang digunakan Reda alam buku ini cenderung sederhana sehingga cerita bisa begitu mengalir.
Kalimat-kalimatnya tersusun ringkas dan jelas, tanpa ornamen bahasa yang berlebihan. Kesan akrab ini membuat pembaca seolah sedang mendengarkan percakapan langsung, bukan sekadar menyimak teks yang dibuat-buat.
Struktur cerita yang pendek juga menjadi kekuatan tersendiri. Setiap kisah berdiri secara mandiri, memungkinkan pembaca untuk membaca secara acak tanpa kehilangan kontinuitas makna atau pengalaman.
Melalui gaya bertutur yang tenang, Reda perlahan mengajak pembacanya mengarahkan perhatian pada detail-detail kecil yang kerap terabaikan dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, hal-hal monoton itulah yang membuat kita bisa hidup hingga hari ini.
Pada akhirnya, Kios Pasar Sore dan Cerita Orang-Orang Biasa Lainnya adalah buku yang menceritakan kehidupan sehari-hari dengan cara yang unik. Buku ini menjadi pengingat lembut bahwa setiap pertemuan, keputusan, dan perasaan kecil layak untuk didengarkan dan dimaknai. Begitu pula hidup kita masing-masing saat ini.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Layaknya film Perfect Days karya Wim Wenders, buku Kios Pasar Sore juga melakukan hal serupa. Buku ini mencoba memperlihatkan bahwa setiap hidup memiliki nilai, setiap sosok membawa kisah yang layak didengar.
Baca juga: Resensi Laboratorium Palestina: Membongkar Bisnis Gelap di Balik Okupasi Israel
Reda membingkai kehidupan layaknya pasar yang ramai. Setiap orang layaknya kios dengan kisah dan pengalamannya masing-masing. Meski dari luar tampak serupa, tetapi ketika didekati selalu ada cerita yang tak pernah sama.
Total, ada 31 cerita pendek yang dikemas dengan gaya penceritaan yang berbeda-beda. Ada bagian yang terasa lucu dan hangat, tetapi ada pula momen ketika narasi membawa pembaca pada suasana yang pahit.
Ada kisah tentang seorang lelaki tua yang menikahi perempuan jauh lebih muda, lalu pada akhirnya harus melepaskannya ketika arah cinta sang istri bergeser. Ada pula potret seorang duda yang begitu larut dalam pencarian kesenangannya sendiri hingga abai terhadap anak-anaknya.
Kisah-kisah ini seolah tengah menyoroti bagaimana hubungan manusia, terutama dalam lingkup keluarga, tidak pernah sesederhana tampilan luarnya. Sebab, di balik romansa, selalu ada kerapuhan, ego, dan perbedaan pandangan yang mesti dicari jalan keluarnya setiap waktu.
Buku ini juga menyoroti fenomena seseorang yang tiba-tiba menyukai kucing. Dari mulanya membenci, kemudian memberi makan dan memeliharanya tanpa disadari jumlahnya telah puluhan. Dia akhirnya merasa tak mampu mengurusnya lagi.
Dalam bab soal kucing tersebut, Reda seolah mencoba membawa pembaca ke perenungan soal kasih sayang dan tanggung jawab dengan cara yang menarik. Sebab, kasih sayang digambarkan bukan hanya soal mau memberi, melainkan juga kesanggupan menerima konsekuensinya.
Kisah-kisah yang seolah remeh, biasa, dan mudah ditemui, dibawa Reda ke dalam dimensi yang menggugah. Bahasa yang digunakan Reda alam buku ini cenderung sederhana sehingga cerita bisa begitu mengalir.
Kalimat-kalimatnya tersusun ringkas dan jelas, tanpa ornamen bahasa yang berlebihan. Kesan akrab ini membuat pembaca seolah sedang mendengarkan percakapan langsung, bukan sekadar menyimak teks yang dibuat-buat.

Buku Kios Pasar Sore dan Cerita Orang-Orang Biasa Lainnya (Sumber gambar: Shira Media)
Struktur cerita yang pendek juga menjadi kekuatan tersendiri. Setiap kisah berdiri secara mandiri, memungkinkan pembaca untuk membaca secara acak tanpa kehilangan kontinuitas makna atau pengalaman.
Melalui gaya bertutur yang tenang, Reda perlahan mengajak pembacanya mengarahkan perhatian pada detail-detail kecil yang kerap terabaikan dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, hal-hal monoton itulah yang membuat kita bisa hidup hingga hari ini.
Pada akhirnya, Kios Pasar Sore dan Cerita Orang-Orang Biasa Lainnya adalah buku yang menceritakan kehidupan sehari-hari dengan cara yang unik. Buku ini menjadi pengingat lembut bahwa setiap pertemuan, keputusan, dan perasaan kecil layak untuk didengarkan dan dimaknai. Begitu pula hidup kita masing-masing saat ini.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.