Ilustrasi. (Sumber gambar: Total Shape/Unsplash)

Dari Webinar ke Kelas Intensif, Self Healing Daring Jawab Tantangan Kesehatan Mental

11 February 2026   |   15:00 WIB
Image
Desyinta Nuraini Jurnalis Hypeabis.id

Kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mental kian menguat sejak pandemi Covid-19. Pembatasan interaksi fisik kala itu justru mendorong lahirnya berbagai layanan pemulihan emosi berbasis daring yang kini terus bertahan dan berkembang. Salah satunya adalah program pemulihan emosi yang dirintis Hyacintha Vidanithya sejak 2021.

Melalui rangkaian webinar dan kelas lanjutan daring, Vida, sapaan akrabnya, membangun ruang belajar untuk membantu peserta memahami cara kerja emosi manusia secara lebih mendasar. Menurutnya, kesalahan umum yang kerap terjadi adalah kecenderungan menghindari emosi negatif seperti marah, takut, sedih, kecewa, hingga trauma, alih-alih menghadapinya secara utuh.

Baca juga: Digital Therapeutics Getwell Padukan Layanan Metabolik dan Kesehatan Mental

“Ketika emosi tidak pernah benar-benar dirasakan, emosi itu tidak akan pernah rilis dari tubuh kita,” ujar Vida kepada Hypeabis.id, beberapa waktu lalu. 

Pola penghindaran ini, lanjutnya, kerap memicu penumpukan emosi yang kemudian berdampak pada kondisi mental maupun fisik. Oleh karena itu, setelah tahap pengenalan emosi, peserta yang ikut di dalam webinarnya akan diarahkan untuk mempraktikkan self healing, yakni kemampuan merilis emosi negatif yang terperangkap di dalam diri. 

Dalam programnya, Vida memperkenalkan lima langkah utama yang dirancang untuk membantu tubuh melakukan pelepasan emosi secara bertahap dan aman. Namun, dia tidak membeberkannya lebih rinci.

Adapun pemilihan format daring dinilai strategis untuk menjangkau peserta lintas wilayah, termasuk dari luar negeri. Selain efisien dari sisi akses, pendekatan ini juga menciptakan ruang aman bagi peserta. 

Tanpa keharusan menyalakan kamera, peserta bebas mengekspresikan emosi, seperti menangis atau meluapkan perasaan lainnya di ruang privat masing-masing.

Webinar pengantar berdurasi dua hari menjadi gerbang awal sebelum peserta melanjutkan ke kelas lanjutan selama sekitar enam minggu. Pada tahap ini, peserta mengikuti pertemuan mingguan via Zoom, pendampingan kelompok, serta tugas-tugas terstruktur dengan topik yang lebih spesifik, mulai dari mental block, luka batin masa kecil, hingga keyakinan yang membatasi potensi diri.

Berbeda dari pendekatan instan, Vida menekankan pemahaman proses dan kemandirian peserta. Fokusnya bukan pada penyembuhan cepat, melainkan mengajarkan cara agar tubuh mampu melakukan pemulihan secara alami. 

Menurutnya, kemampuan tersebut sejatinya sudah dimiliki setiap individu, tapi jarang diajarkan secara sistematis. Dampak yang dirasakan peserta pun berlapis. 

Pada fase awal, banyak yang melaporkan rasa lega, napas lebih lapang, dan tubuh terasa ringan. Dengan praktik yang konsisten, keluhan psikosomatis seperti gangguan tidur, nyeri otot, sakit kepala, hingga masalah pencernaan perlahan mereda. 

Dalam jangka lebih panjang, efeknya menjalar ke kejernihan berpikir, stabilitas emosi, kualitas relasi, hingga produktivitas sehari-hari. “Jadi efeknya ke berbagai macam bidang kehidupan,” tegas emotional healing & transformation life coach itu. 

Sejak diluncurkan pada masa pandemi, program ini telah berjalan hampir 80 batch. Mayoritas pesertanya perempuan berusia 30—50 tahun dengan keluhan insomnia, tekanan emosional, rasa hampa, hingga perasaan tidak bahagia. 

Meski demikian, layanan ini bersifat inklusif dan terbuka bagi siapa pun yang ingin belajar memahami emosinya.

Kendati demikian, dalam melakukan coach healing, Vida menghadapi tantangan utama yakni kesadaran dan komitmen peserta. Masih ada anggapan bahwa kesembuhan datang semata karena mengikuti program, bukan dari praktik berkelanjutan. Padahal, pendamping berperan sebagai fasilitator, sementara perubahan sangat ditentukan oleh konsistensi individu.

Vida menambahkan, setiap orang pasti memiliki masalah emosional. Tinggal bagaimana belajar memperlakukan emosi tersebut. “Setiap keputusan kita sangat dipengaruhi oleh emosi. Nah kalau emosi ini tidak diproses dan dikelola dengan baik, keputusan-keputusan hidup yang kita buat juga bisa jadi salah,” tuturnya.

Bagi Genhype yang ingin ikut self healing, Vida menyebut webinar pengantar dipatok di bawah Rp200.000 untuk dua hari sesi. Skema ini dirancang agar masyarakat dapat mengenal pendekatan yang digunakan sebelum melangkah ke program lanjutan yang lebih intensif.

SEBELUMNYA

HP Bidik Dominasi Pasar Laptop Gaming RI lewat Peluncuran HyperX OMEN 15

BERIKUTNYA

Film Romansa Korea Even If This Love Disappears Tonight Bikin Banjir Air Mata

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga