Ilustrasi digital therapeutics. (Sumber gambar: Thomas Carter/Unsplash)

Digital Therapeutics Getwell Padukan Layanan Metabolik dan Kesehatan Mental

13 January 2026   |   19:48 WIB
Image
Desyinta Nuraini Jurnalis Hypeabis.id

Kebutuhan akan layanan digital untuk kesehatan mental dan pengelolaan penyakit kronis kian meningkat seiring perubahan pola hidup masyarakat, naiknya kesadaran terhadap kesehatan psikologis, serta percepatan adopsi teknologi pascapandemi. Berbagai platform kesehatan digital, kini makin diminati karena menawarkan solusi lebih personal, mudah diakses dan terjangkau.

Salah satu pemain di sektor telekesehatan yang mengembangkan layanan tersebut adalah Getwell Indonesia. Perusahaan ini mengusung konsep digital therapeutics (DTx), yakni terapi berbasis perangkat lunak yang dirancang secara klinis dan telah melalui proses validasi ilmiah. 

Baca juga: Kisah Kendra Hilty dan Fenomena Transference dalam Proses Terapi

Fokus layanan Getwell mencakup penyakit metabolik, mulai dari pradiabetes, diabetes, kolesterol, hingga gangguan autoimun dan gastroesophageal reflux disease (GERD). “Di Indonesia, Getwell satu-satunya penyedia digital therapeutics untuk penyakit metabolik,” ujar CEO Getwell Indonesia Andrey Hidayat.

Selama ini, diskursus mengenai penyakit metabolik kerap berhenti pada aspek fisik seperti kadar gula darah, kolesterol, atau tekanan darah. Padahal, terdapat dimensi lain yang tidak kalah penting, yakni kesehatan mental. Stres berkepanjangan, kecemasan, hingga kelelahan emosional sering menyertai pradiabetes dan diabetes, sekaligus berpotensi memperburuk kondisi metabolik pasien.

Menurut Andrey, keterkaitan antara kesehatan metabolik dan kesehatan mental bukan sekadar asumsi. Gangguan metabolik memiliki hubungan erat dengan sistem saraf dan keseimbangan hormonal. 

Tekanan psikologis dapat memicu lonjakan gula darah, dan sebaliknya kondisi metabolik yang tidak terkendali juga dapat memperburuk kondisi mental. “Karena itu, kami siapkan telekonsultasi dengan dokter serta profesional kesehatan jiwa. Dalam sebulan, pengguna bisa dua kali telekonsultasi dengan dokter yang sudah kami akurasi,” ujarnya.

Layanan Getwell Indonesia terdiri dari tiga komponen utama. Pertama, penggunaan Continuous Glucose Monitoring (CGM), yakni alat pemantau gula darah yang dikenakan pengguna dalam periode tertentu, mulai dari satu hingga enam bulan sesuai paket langganan. 

Perangkat ini merekam fluktuasi glukosa secara real time, termasuk respons tubuh terhadap makanan, pola tidur, aktivitas fisik, dan tingkat stres.

Data tersebut kemudian diolah melalui aplikasi GLOO untuk menghasilkan rekomendasi yang bersifat personal. Pendekatan ini dikombinasikan dengan telekonsultasi rutin bersama dokter dan tenaga kesehatan, termasuk dukungan kesehatan mental.

Dalam mengukur efektivitas terapi, Getwell menggunakan indikator time in range, yaitu persentase waktu kadar gula darah berada dalam rentang aman 70–180 mg/dL. Jika indikator ini mencapai 75 persen atau lebih, kondisi metabolik pengguna dinilai terkendali.

Berdasarkan adopsi dan pembelajaran dari implementasi di Amerika Serikat, Andrey menyebut tingkat keberhasilan digital therapeutics dapat mencapai sekitar 85%, terutama bagi pengguna pradiabetes yang disiplin mengikuti protokol terapi.

“Kalau sudah sehat, artinya pankreas sudah mampu memproduksi insulin yang sensitif terhadap glukosa. Jadi, tidak perlu lagi dibantu dengan suntik insulin atau obat-obatan tertentu,” jelasnya.

Meski potensinya besar, Andrey mengakui tantangan utama pengembangan digital therapeutics di Indonesia masih terletak pada edukasi publik. Banyak masyarakat belum mengetahui bahwa mereka memiliki pilihan terapi non-obat yang dapat dijalankan secara mandiri dengan pendampingan digital.

Untuk itu, Getwell menggandeng Kementerian Kesehatan dalam program edukasi kesehatan metabolik berskala nasional. Mulai Januari mendatang, edukasi tersebut direncanakan disiarkan secara rutin dengan target menjangkau sedikitnya 75 juta masyarakat produktif setiap tahun.

Di sisi lain, tantangan akses teknologi di wilayah terpencil serta ketergantungan impor perangkat medis masih menjadi pekerjaan rumah. Saat ini, sekitar 60 persen perangkat yang digunakan Getwell masih didatangkan dari luar negeri. Ke depan, perusahaan berharap adanya dukungan kebijakan agar produksi alat kesehatan dapat dilakukan di dalam negeri. 

Andrey menilai digital therapeutics bukan hanya solusi klinis, tetapi juga strategi ekonomi kesehatan. Belanja kesehatan nasional saat ini diperkirakan mencapai Rp670 triliun per tahun, dengan sekitar 70 persen terserap untuk penanganan penyakit tidak menular.

SEBELUMNYA

Jackass 5 Tayang Juni 2026, Johnny Knoxville Kembali dengan Hiburan Ekstrem Terbaru

BERIKUTNYA

Klarifikasi Danielle Marsh: Ini Bukan Akhir dari Karierku

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga