Genteng rumah. (Sumber foto: Freepik)

Genteng Masih Dominan, Ini Rekomendasi Atap Rumah Sesuai Iklim Indonesia

09 February 2026   |   11:21 WIB
Image
Nirmala Aninda Manajer Konten Hypeabis.id

Atap rumah bukan sekadar pelindung bangunan dari panas dan hujan, tetapi juga menentukan kenyamanan penghuninya. Di negara beriklim tropis seperti Indonesia, pemilihan material atap menjadi faktor krusial karena harus beradaptasi dengan curah hujan tinggi, paparan panas matahari, serta karakter geografis yang beragam.

Dilansir dari Data Indonesia, penggunaan bahan atap rumah di Indonesia masih didominasi oleh genteng. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada 2025, sebanyak 54,24% rumah tinggal di Indonesia menggunakan genteng sebagai bahan atap utama. Angka ini menempatkan genteng sebagai material atap paling populer, disusul seng dengan porsi 32,75%. 

Baca juga: Tip Memilih Atap Rumah yang Tepat untuk Iklim Tropis

Tren tersebut sejalan dengan rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang mendorong pengurangan penggunaan bahan berbahaya seperti asbes, yang masih digunakan sekitar 9,75% rumah tangga di Indonesia.

Dominasi genteng tidak terlepas dari karakter materialnya yang mampu meredam panas, tahan terhadap perubahan cuaca, serta memiliki daya tahan relatif panjang. Di wilayah beriklim tropis seperti Indonesia, fungsi atap tidak hanya sebagai pelindung dari hujan, tetapi juga berperan penting dalam menjaga kenyamanan suhu di dalam rumah.

Jika dilihat berdasarkan wilayah, penggunaan genteng sangat terkonsentrasi di Pulau Jawa dan sebagian wilayah Sumatra. DI Yogyakarta menjadi provinsi dengan tingkat penggunaan genteng tertinggi, mencapai 93,03%, disusul Jawa Timur sebesar 89,58?n Lampung 85,94%. 

Sementara itu, penggunaan genteng masih sangat rendah di wilayah timur Indonesia. Papua Pegunungan tercatat hanya 0,51%, Maluku Utara 0,59%, serta Gorontalo 0,90%. Perbedaan ini dipengaruhi faktor geografis, akses material, biaya distribusi, serta tradisi konstruksi lokal.

Pemerintah bahkan mulai mendorong pemanfaatan genteng melalui wacana gerakan nasional Gentengisasi yang bertujuan mengganti atap seng dengan genteng. Program tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas lingkungan permukiman sekaligus menciptakan hunian yang lebih nyaman secara termal.

Secara teknis, pemilihan bentuk dan material genteng perlu menyesuaikan karakter cuaca serta kondisi geografis setiap wilayah Indonesia.


Wilayah Barat Indonesia (Sumatra, Jawa, sebagian Kalimantan)

Curah hujan dan kelembapan tinggi, serta angin musiman cukup kuat.

• Genteng Tanah Liat
Tahan panas, mampu menjaga suhu rumah tetap sejuk, serta memiliki ventilasi alami. Cocok untuk kawasan beriklim tropis lembap.

• Genteng Keramik
Lebih kuat dan minim perawatan dibanding tanah liat. Lapisan glasir membantu mencegah lumut dan menyerap air hujan.

• Genteng Bergelombang Interlock
Memiliki sistem saling mengunci sehingga efektif mencegah kebocoran saat hujan deras dan angin kencang.



Wilayah Tengah Indonesia (Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan dan tengah)

Dominasi cuaca panas dengan musim kemarau panjang dan paparan sinar matahari intens.

• Genteng Beton
Memiliki ketahanan tinggi terhadap panas dan cuaca ekstrem. Struktur padat membuatnya kuat dan tahan lama.

• Genteng Metal Berlapis Pasir
Lebih ringan dibanding beton, tahan panas, serta memiliki daya tahan terhadap retak akibat perubahan suhu ekstrem.

• Genteng Keramik Reflektif
Memiliki lapisan yang mampu memantulkan panas matahari sehingga membantu menurunkan suhu dalam rumah.



Wilayah Timur Indonesia (Maluku, Papua, Nusa Tenggara Timur pesisir)

Curah hujan tinggi, angin laut kuat, serta kelembapan tinggi di wilayah kepulauan dan pesisir.

• Genteng Metal Anti-Korosi
Ringan, mudah dipasang, serta tahan terhadap karat akibat udara laut dan kelembapan tinggi.

• Genteng Komposit atau Fiber Cement Non-Asbes
Memiliki bobot ringan, tahan terhadap cuaca ekstrem, dan lebih aman bagi kesehatan.

• Material Tradisional (Sirap Kayu, Rumbia, Ijuk)
Masih relevan di beberapa wilayah karena memiliki isolasi panas baik serta menyesuaikan ketersediaan bahan lokal, meski membutuhkan perawatan rutin.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Deretan Mobil Baru yang Mencuri Perhatian di IIMS 2026

BERIKUTNYA

Java Jazz 2026 Umumkan Lineup Pertama, Ada Jon Batiste & Wave to Earth

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga