Kemenkes Dorong Eliminasi Kanker Serviks Lewat Skema 90–75–90
07 February 2026 |
08:00 WIB
Upaya memperluas vaksinasi human papillomavirus (HPV) bagi perempuan usia dini terus berjalan di tengah tingginya angka kanker serviks di Indonesia. Kementerian Kesehatan menempatkan vaksin HPV sebagai salah satu instrumen pencegahan utama, terutama karena efektivitasnya dinilai paling optimal sebelum paparan virus terjadi.
Berdasarkan catatan Globocan 2020, kanker serviks menempati peringkat kedua kanker dengan jumlah kasus terbanyak di Indonesia, yakni mencapai 36.633 kasus. Angka ini hanya tidak lebih banyak dari kanker payudara yang mencatat 65.858 kasus.
Baca juga: Perluas Akses Skrining Kanker Serviks Melalui Teknologi AI
Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menilai kondisi kanker leher rahim di Indonesia masih mengkhawatirkan. Sekitar 70 persen perempuan baru terdiagnosis saat penyakit sudah memasuki stadium lanjut, dengan tingkat kematian mencapai kurang lebih 50 persen dari total kasus tersebut.
Menurutnya, tingginya angka kematian tidak terlepas dari rendahnya cakupan skrining kanker serviks di masyarakat. Di sisi lain, tingkat vaksinasi sebagai upaya pencegahan juga masih terbatas, sehingga risiko keterlambatan penanganan tetap tinggi.
"Saat ini, kami sedang mengimplementasikan target 90-75-90 untuk eliminasi kanker serviks," katanya di Kementerian Kesehatan, Selasa, (27/1/2026).
Dante mengatakan target pertama adalah memastikan 90 persen anak di bawah usia 15 tahun mendapatkan vaksinasi HPV. Strategi ini diambil dari fakta bahwa kanker leher rahim pada dasarnya dapat dicegah dan ditangani secara efektif apabila terdeteksi sejak stadium awal, terlebih pada orang yang sudah mendapatkan vaksinasi.
Melalui penguatan vaksinasi HPV pada anak perempuan usia di bawah 15 tahun, diharapkan jumlah kasus kanker leher rahim di Indonesia dapat ditekan secara signifikan.
Target berikutnya, katanya, adalah memastikan 75 persen perempuan berusia 30–65 tahun menjalani pemeriksaan skrining kanker leher rahim. Untuk mencapai sasaran tersebut, pemerintah mulai menerapkan pendekatan yang lebih inovatif, tidak lagi semata mengandalkan pemeriksaan pap smear di fasilitas kesehatan, tetapi juga memperkenalkan metode swab mandiri.
Melalui metode ini, perempuan dapat mengambil sampel secara mandiri menggunakan alat yang telah disediakan, lalu menyerahkannya kepada petugas kesehatan untuk dilakukan pemeriksaan. Metode swab mandiri tersebut sebelumnya telah diuji coba melalui proyek percontohan di Surabaya dan Sidoarjo, bekerja sama dengan Jhpiego, Bio Farma, dan Roche, dengan hasil tingkat sampel tidak valid tercatat sekitar 1,1 persen.
"Dengan edukasi yang lebih baik, metode swab mandiri diharapkan dapat menjadi salah satu alat penting untuk mengidentifikasi kanker leher rahim di seluruh masyarakat Indonesia, terutama karena masih ada hambatan seperti rasa malu ketika harus menjalani pemeriksaan di fasilitas kesehatan," katanya.
Target ketiga menetapkan bahwa 90 persen perempuan yang terdeteksi memiliki lesi pra-kanker harus memperoleh penanganan medis yang diperlukan.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Berdasarkan catatan Globocan 2020, kanker serviks menempati peringkat kedua kanker dengan jumlah kasus terbanyak di Indonesia, yakni mencapai 36.633 kasus. Angka ini hanya tidak lebih banyak dari kanker payudara yang mencatat 65.858 kasus.
Baca juga: Perluas Akses Skrining Kanker Serviks Melalui Teknologi AI
Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menilai kondisi kanker leher rahim di Indonesia masih mengkhawatirkan. Sekitar 70 persen perempuan baru terdiagnosis saat penyakit sudah memasuki stadium lanjut, dengan tingkat kematian mencapai kurang lebih 50 persen dari total kasus tersebut.
Menurutnya, tingginya angka kematian tidak terlepas dari rendahnya cakupan skrining kanker serviks di masyarakat. Di sisi lain, tingkat vaksinasi sebagai upaya pencegahan juga masih terbatas, sehingga risiko keterlambatan penanganan tetap tinggi.
"Saat ini, kami sedang mengimplementasikan target 90-75-90 untuk eliminasi kanker serviks," katanya di Kementerian Kesehatan, Selasa, (27/1/2026).
Dante mengatakan target pertama adalah memastikan 90 persen anak di bawah usia 15 tahun mendapatkan vaksinasi HPV. Strategi ini diambil dari fakta bahwa kanker leher rahim pada dasarnya dapat dicegah dan ditangani secara efektif apabila terdeteksi sejak stadium awal, terlebih pada orang yang sudah mendapatkan vaksinasi.
Melalui penguatan vaksinasi HPV pada anak perempuan usia di bawah 15 tahun, diharapkan jumlah kasus kanker leher rahim di Indonesia dapat ditekan secara signifikan.
Target berikutnya, katanya, adalah memastikan 75 persen perempuan berusia 30–65 tahun menjalani pemeriksaan skrining kanker leher rahim. Untuk mencapai sasaran tersebut, pemerintah mulai menerapkan pendekatan yang lebih inovatif, tidak lagi semata mengandalkan pemeriksaan pap smear di fasilitas kesehatan, tetapi juga memperkenalkan metode swab mandiri.
Melalui metode ini, perempuan dapat mengambil sampel secara mandiri menggunakan alat yang telah disediakan, lalu menyerahkannya kepada petugas kesehatan untuk dilakukan pemeriksaan. Metode swab mandiri tersebut sebelumnya telah diuji coba melalui proyek percontohan di Surabaya dan Sidoarjo, bekerja sama dengan Jhpiego, Bio Farma, dan Roche, dengan hasil tingkat sampel tidak valid tercatat sekitar 1,1 persen.
"Dengan edukasi yang lebih baik, metode swab mandiri diharapkan dapat menjadi salah satu alat penting untuk mengidentifikasi kanker leher rahim di seluruh masyarakat Indonesia, terutama karena masih ada hambatan seperti rasa malu ketika harus menjalani pemeriksaan di fasilitas kesehatan," katanya.
Target ketiga menetapkan bahwa 90 persen perempuan yang terdeteksi memiliki lesi pra-kanker harus memperoleh penanganan medis yang diperlukan.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.