Kebangkitan Slowdive, Pelopor Musik Shoegaze yang Sempat Dinilai Gagal
05 February 2026 |
21:04 WIB
Pada era tahun 90-an, musik grunge dan britpop menjadi kiblat selera musik Inggris. Para jurnalis musik terobsesi dengan aliran ini. Lalu, munculah sebuah band shoegaze bernama Slowdive yang kemudian menjadi bahan olokan media musik Inggris saat itu. Dibentuk oleh para remaja yang baru lulus sekolah, Slowdive lahir di Kota Reading, Inggris pada 1989.
Istilah shoegaze muncul di awal 90-an merujuk pada distorsi gitar abstrak, lanskap suara yang kaya, tekstur berlapis penuh melankoli kabur, drum bising, serta fokus lirik yang tidak terlalu menonjol. Pada saat itu, genre ini masih mencari bentuk sehingga tidak heran kalau popularitas genre ini kalah menarik dibanding grunge dan britpop.
Baca juga: Jejak Muram Joy Division yang Membentuk Musik Alternatif Dunia
Slowdive digawangi oleh Neil Halstead (vokal/gitar), Rachel Goswell (vokal/gitar), Christian Savill (gitar), Nick Chaplin (bas), dan Simon Scott (drum). Mereka menandatangani kontrak pertama dengan label Creation Records pada awal 1990-an. Mengutip Buzz, kerja sama itu melahirkan tiga album, Just for a Day (1991), Souvlaki (1993), dan Pygmalion (1995).
Album mereka sempat mendapat pujian dari kritikus musik pada saat itu. Namun, pencapaian itu tak berlangsung lama, mereka dicerca oleh para jurnalis musik yang mulai tergila-gila pada grunge dan britpop. Slowdive diterpa ulasan negatif, tekanan internal, dan pertunjukan yang sepi penonton.
Nama besar seperti Oasis yang berada dibawah label yang sama dan menjelma menjadi salah satu sumber pendapatan terbesar Creation Records, membuat Slowdive dipandang sebagai beban. Ketika Creation Records menginstruksikan agar album berikutnya berorientasi pop, Slowdive lebih memilih merilis album Pygmalio, sebuah karya eksperimental yang jauh dari pakem pop.
Album tersebut mendapat kritikan pedas dari NME dan Melody Maker yang saat itu menjadi penentu selera utama musik. Bahkan seminggu setelah album itu dirilis pada Februari 1995, Creation Records memutus kontrak mereka, yang sekaligus menandai berakhirnya perjalanan band tersebut. Setelah bubar, para personel memilih jalur yang berbeda. Neil dan Rachel membuat band baru bernama Mojave 3 yang bernuansa country.
Melansir Buzzine, kebangkitan Slowdive dimulai pada awal 2000-an ketika internet mulai mengubah pola pendengar musik. Saat itu, file MP3 album Souvlaki mulai menyebar melalui platform Soulseek, Torrent, dan blog musik ilegal.
Seiring Tumblr menjelma menjadi ruang populer bagi generasi muda pada era 2010-an, nama Slowdive mendadak kembali menguat dan berkembang menjadi salah satu band kultus paling berpengaruh di ranah internet.
Berkat pengaruh internet, pada 2014 Slowdive memutuskan untuk reuni setelah mendapat tawaran untuk tampil di Primavera Sound Festival, Barcelona. Pada awalnya mereka hanya beranggapan akan sedikit yang menonton penampilan mereka. Namun, ketika mereka naik ke atas panggung, ada sekitar 25.000 orang yang menonton.
Puncak lain dari kebangkitan Slowdive adalah ketika mereka melakukan tur pada tahun 2017 bersama band legendaris The Cure yang menjadi idola mereka sejak remaja. Sejak itu, Slowdive memasuki fase kedua kariernya. Mereka merilis album sefl-titled Slowdive (2017), dan Everything is Alive (2023). Kedua album tersebut mendapat sambutan positif dari kritikus maupun pendengar.
Popularitas Slowdive semakin naik ketika platform TikTok memiliki banyak pengguna. Hingga tahun 2024, tagar #shoegaze dan #slowdive menembus lebih dari satu miliar tayangan. Lagu-lagu seperti When the Sun Hits, Dagger, Alison, Sugar for the Pill, dsb. menjadi hits mereka.
Baca juga: Hayley Williams Perkenalkan Grup Musik Power Snatch, Rilis Tiga Single Sekaligus
Istilah shoegaze muncul di awal 90-an merujuk pada distorsi gitar abstrak, lanskap suara yang kaya, tekstur berlapis penuh melankoli kabur, drum bising, serta fokus lirik yang tidak terlalu menonjol. Pada saat itu, genre ini masih mencari bentuk sehingga tidak heran kalau popularitas genre ini kalah menarik dibanding grunge dan britpop.
Baca juga: Jejak Muram Joy Division yang Membentuk Musik Alternatif Dunia
Slowdive digawangi oleh Neil Halstead (vokal/gitar), Rachel Goswell (vokal/gitar), Christian Savill (gitar), Nick Chaplin (bas), dan Simon Scott (drum). Mereka menandatangani kontrak pertama dengan label Creation Records pada awal 1990-an. Mengutip Buzz, kerja sama itu melahirkan tiga album, Just for a Day (1991), Souvlaki (1993), dan Pygmalion (1995).
Album mereka sempat mendapat pujian dari kritikus musik pada saat itu. Namun, pencapaian itu tak berlangsung lama, mereka dicerca oleh para jurnalis musik yang mulai tergila-gila pada grunge dan britpop. Slowdive diterpa ulasan negatif, tekanan internal, dan pertunjukan yang sepi penonton.
Nama besar seperti Oasis yang berada dibawah label yang sama dan menjelma menjadi salah satu sumber pendapatan terbesar Creation Records, membuat Slowdive dipandang sebagai beban. Ketika Creation Records menginstruksikan agar album berikutnya berorientasi pop, Slowdive lebih memilih merilis album Pygmalio, sebuah karya eksperimental yang jauh dari pakem pop.
Album tersebut mendapat kritikan pedas dari NME dan Melody Maker yang saat itu menjadi penentu selera utama musik. Bahkan seminggu setelah album itu dirilis pada Februari 1995, Creation Records memutus kontrak mereka, yang sekaligus menandai berakhirnya perjalanan band tersebut. Setelah bubar, para personel memilih jalur yang berbeda. Neil dan Rachel membuat band baru bernama Mojave 3 yang bernuansa country.
Melansir Buzzine, kebangkitan Slowdive dimulai pada awal 2000-an ketika internet mulai mengubah pola pendengar musik. Saat itu, file MP3 album Souvlaki mulai menyebar melalui platform Soulseek, Torrent, dan blog musik ilegal.
Seiring Tumblr menjelma menjadi ruang populer bagi generasi muda pada era 2010-an, nama Slowdive mendadak kembali menguat dan berkembang menjadi salah satu band kultus paling berpengaruh di ranah internet.
Berkat pengaruh internet, pada 2014 Slowdive memutuskan untuk reuni setelah mendapat tawaran untuk tampil di Primavera Sound Festival, Barcelona. Pada awalnya mereka hanya beranggapan akan sedikit yang menonton penampilan mereka. Namun, ketika mereka naik ke atas panggung, ada sekitar 25.000 orang yang menonton.
Puncak lain dari kebangkitan Slowdive adalah ketika mereka melakukan tur pada tahun 2017 bersama band legendaris The Cure yang menjadi idola mereka sejak remaja. Sejak itu, Slowdive memasuki fase kedua kariernya. Mereka merilis album sefl-titled Slowdive (2017), dan Everything is Alive (2023). Kedua album tersebut mendapat sambutan positif dari kritikus maupun pendengar.
Popularitas Slowdive semakin naik ketika platform TikTok memiliki banyak pengguna. Hingga tahun 2024, tagar #shoegaze dan #slowdive menembus lebih dari satu miliar tayangan. Lagu-lagu seperti When the Sun Hits, Dagger, Alison, Sugar for the Pill, dsb. menjadi hits mereka.
Baca juga: Hayley Williams Perkenalkan Grup Musik Power Snatch, Rilis Tiga Single Sekaligus
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.