Joy Division (Sumber foto: Instagram/@officialjoydivision)

Jejak Muram Joy Division yang Membentuk Musik Alternatif Dunia

03 February 2026   |   22:00 WIB
Image
Alwi Rahman Kusnandar Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jakarta

Empat puluh tahun lebih sejak Joy Division resmi bubar pada 1980, namun pengaruh dan karya grup musik ini masih tetap ada hingga sekarang. Melalui dua album studio, Unknown Pleasure dan Closer, Joy Division menjadi salah satu pelopor lahirnya music post-punk.

Joy Division dikenal dengan musiknya yang muram dan lirik-liriknya yang dipenuhi rasa sedih, ketakutan, dan keputusasaaan. Mereka lahir dari semangat punk pada akhir 1970-an yang terinspirasi dari grup musik punk legendaris, Sex Pistols.

Baca juga: Lima Band Legendaris yang Mengubah Sejarah Musik Dunia

Ian Curtis, Bernard Summer, Peter Hook dan Stephen Morris membentuk grup musik yang awalnya belum tahun ke arah mana musik mereka. Namun dari sinilah lahir sesuatu yang baru, yaitu musik post-punk.

Menurut Pitchfork, musik Joy Division sendiri adalah perpaduan antara irama yang mentah dan pendekatan artistik yang cerdas. Gaya ini kemudian menjadi ciri khas musik post-punk. Peran produser Martin Hannett sangat besar dalam membentuk suara Joy Division.

Lewat produksinya, album Unknown Pleasures (1979) terdengar sangat berbeda dari musik rock pada masanya. Sejak lagu pembuka Disorder, musik Joy Division terasa dingin, sempit, dan asing—selaras dengan sampul albumnya yang ikonis.

Kekuatan Joy Division bukan hanya pada produksinya saja, tetapi juga pada grup musik ini sendiri. Berkat terinspirasi dari Sex Pistols yang terkenal serba mandiri, Ian Curtis CS mulai bereksperimen dengan ruang suara, kesunyian, dan kesederhanaan. Banyak lagu di Unknown Pleasures terasa berat dan gelap, seperti Day of the Lords dan New Dawn Fades, sementara Disorder dan She’s Lost Control tampil lebih tajam dan langsung.

Namun, saat popularitas mulai naik, kehidupan sang vokalis semakin rapuh. Ian Curtis mengalami permasalahan dengan pernikahannya dan epilepsi yang ia derita semakin sering kambuh. Pada saat hendak melakukan tur Amerika Serikat, Curtis mengakhiri hidupnya di usia 23 tahun.

Berbeda dengan musisi lain yang baru dikenal setelah wafat, Ian Curtis sebenarnya sudah berada di jalur menuju ketenaran. Pengaruhnya bahkan mulai terasa di kalangan musisi lain, termasuk Bono dari U2.

Setelah kematian Curtis, Album kedua mereka Closer dirilis. Album ini terasa lebih gelap dan menekan. Album ini sering dianggap sebagai karya terbaik Joy Division. Lagu-lagunya tersusun rapi dan kuat, dari Atrocity Exhibition hingga Isolation. Lirik dan musiknya terasa semakin matang, seolah band ini benar-benar tahu apa yang ingin mereka sampaikan.

Di bagian akhir album, suasana semakin suram. Lagu The Eternal dan Decades membawa pendengar masuk lebih dalam ke dunia batin Ian Curtis. Lirik-liriknya berbicara tentang kelelahan, keputusasaan, dan batas terakhir manusia.

Meskipun Joy Division tidak sempat menikmati puncak popularitas, lagu Love Will Tear Us Apart menjadi salah satu lagu paling ikonis dalam sejarah musik alternatif. Selain itu, mereka juga telah memengaruhi banyak band, termasuk band-band sezaman mereka seperti Joy Division telah memengaruhi banyak band, termasuk band-band sezaman mereka seperti U2 , The Cure, dan Orchestral Manoeuvres in the Dark.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Serial Animasi Stranger Things: Tales From ’85 Tayang April, Hadirkan Monster Baru

BERIKUTNYA

Eksplorasi Tubuh & Distorsi dalam Pameran New Paintings ROH Projects

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga